Breaking News

Minggu, 21 Juni 2015

HIKMAH LARANGAN MEROKOK 2




Pagi itu, akhir bulan Sya’ban, yang tak seperti biasanya. Terik matahari pukul 08.00 disertai angin sepoi-sepoi yang nyaman, yang jarang sekali bertiup di Pontianak. Lambaian daun pohon lengkeng depan musholla Kanwil DJKN Kalbar yang tak kunjung berbuah sejak ditanam tahun 2012 lalu. Edi Santoso, salah seorang ahli mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon jantan (Edi Santoso : Ahli permesinan dan instalasi air). Meski hal tersebut dibantah oleh Zainul Wara-wara, salah satu praktisi pertamanan di kantor tersebut (Pak Kebun).

Mana alat kelaminnya, mas?” bantah Zainul, yang tak terjawab oleh Edi sang ahli hingga saat ini.  

Kembali ke musholla
Pagi itu Hari Azwan sudah standby di depan musholla. Namun tak seperti biasanya pula, pagi itu ia tidak merokok, tak juga ngopi. Padahal sejak berlaku aturan dilarang merokok di kantor, tiap pagi Hari selalu memulai aktivitasnya dengan bangun tidur. Lalu : absen, mandi, sarapan (dengan urutan tidak tentu tiap harinya dan tanpa pemberitahuan sebelumnya). Setelah ketiga ritual tersebut Hari biasanya ngopi dan merokok di depan musholla, tempat aman yang letaknya lumayan berjarak di belakang kantor. Aktivitas ini hampir selalu diakhiri “dhuha” dua roka’at dengan qunut, yang seperti(nya) sholat subuh.

Entah melamun atau sedang mencoba membantu Edi menjawab pertanyaan Zainul, Hari sesekali menatap pohon lengkeng depan musholla. Dari atas ke bawah, ke atas lagi. Mungkin Hari memang ikutan mencari alat kelamin pohon lengkeng tersebut. Nihil.

Beberapa lama berselang, datang salah seorang junior Hari di Bidang Penilaian Kanwil DJKN Kalbar.

“Eh, Mas Umam, tumben pagi-pagi ke sini?” sapa Hari.

“Iya Har, nyantai dulu,” jawab Umam.

Agak aneh memang, senior menyapa juniornya dengan sebutan “Mas”. Tapi itulah dunia, susah ditebak. Sebetulnya bukan karena dunia susah ditebak, Umam adalah pegawai yang baru masuk Bidang Penilaian, setelah beberapa tahun berjalan ke timur mencari kitab suci (bersama rekannya, Jack Setiyono (saat ini di Kupang), yang memposisikan dirinya sebagai Biksu Tong, tapi lebih mirip sebagai Patkay.

Di Bidang Penilaian, dia banyak belajar tentang penilaian dari Hari yang secara usia lebih muda (tapi secara fisik kurang lebih sama). Hari pulalah yang kembali membangkitkan semangat setelah kegagalannya mencari kitab suci, bersama Patkay yang memposisikan dirinya sebagai Biksu Tong. Karena itulah Umam selalu menganggap Hari adalah seniornya.

Kembali ke musholla, lagi
“Kebetulan nih, mau Tanya. Mas Umam puasa Ramadhan mulai hari ini apa besok?” tanya Hari.

“Aku mulai besok, Har. Ngikut hasil ru’yat aja. Kalau yang mulai puasa hari ini kan berdasarkan hisab.”

“Memangnya nggak papa puasa besok atau hari ini?”

“Ya kalau meyakini awal Ramadhan hari ini, ya puasa mulai hari ini. Kalau lebih yakin besok ya besok. Yang penting bukan karena ego organisasi-nya aja. Tapi puasa lillaahi ta’aala! Masalah nggak papa-nya biar itu urusan Yang Di Atas saja, Har.”

“Iya Mas, cuma lucu aja semalem liat Sidang Itsbat-nya. Rame!”

Mungkin mereka yang ngeramein pengen supaya ratingnya nggak turun, Har.”

“Hahahaaa..bener juga...” Hari tampak girang, dan tampaknya lupa akan pencariannya atas kelamin pohon lengkeng.

“Eh, tumben kamu kok nggak ngerokok, Har? Apa sudah mulai puasa hari ini?”

“Nggak mas, aku puasa mulai dua hari yang lalu malahan.” Jawab Hari, santai.

“Wah, mazhab siapa lagi tuh, Har?” Umam tampak kaget.

Malu-malu, berbisik Hari menjawab : “Puasa tahun lalu bolong tiga hari, Mas!”
“… #@*&^!/!!??” 

Mohon maaf lahir & batin
Selamat menunaikan ibadah puasa
Semoga ibadah puasa tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya
Amin

Penulis : MD. Umam
Ket : Kisah sebagian nyata, beberapa tahun yang lalu, saat itu awal Ramadhan berbeda

Baca juga kisah sebelumnya : 
 http://www.goensmith.com/2013/02/hikmah-dari-larangan-merokok.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By