Breaking News

Jumat, 13 Februari 2015

DUA PIRING NASI KUNING

Februari 2015


Minggu ini kami disibukkan dengan agenda pergantian Bos. Jum'at kemarin (6/2), Pak AK dipanggil ke Jakarta untuk dilantik menduduki jabatan baru. Sebetulnya, jabatannya masih sama tapi tempatnya saja yang berbeda, alias pindah tugas atau lazim disebut mutasi ke tempat yang baru.  

Pak AK pindah ke kota Palembang. Penggantinya adalah Pak TS, seorang Pejabat Eselon Tiga yang naik jabatan atau biasa disebut promosi. Pak TS berasal dari Kota Kembang, Bandung. Jadi bisa dibilang Pak AK pindah dari Pontianak ke Palembang dan Pak TS pindah dari Bandung ke Pontianak. 

8 Februari 2015
Minggu sore, Pak AK memberi kabar via BBM :

"Mas, sy besok pelantikan Ketua PUPN di Pusat & sorenya baru berangkat ke Pontianak !"

Lalu saya balas via BBM : "Baik, Pak."

9 Februari 2015
Senin sore pukul 17.41 Pak AK kirim BBM lagi :
"Mas, ini saya baru landing yang terakhir kali" 

Saya tersenyum membaca BBM dari Pak AK. Pak AK membubuhkan dua simbol orang tertawa lebar,  satu posisi normal dan satu lagi posisi miring  (Ketawa ngakak dan Ketawa sambil guling-guling).

Hari Senin malam, saya, Pak Aprito, Pak Widya dan Kepala KPKNL bertemu Pak AK. Kami ngobrol-ngobrol santai seputar acara pelantikan Pak AK di Jakarta. Selain itu kami juga membahas rencana acara pisah sambut. Pada acara pelantikan tersebut Pak AK bertemu dengan Pak TS dan sempat membahas rencana kegiatan pisah sambut di Pontianak.   

"Pak TS akan datang ke Pontianak hari Kamis. Pesawat Sriwijaya, berangkat dari Jakarta jam enam pagi. Coba kamu kontak Pak TS." begitu Pak AK menjelaskan sambil menikmati mie tiau goreng Apollo yang kabarnya tidak pernah pindah sejak tahun 1968. 

"Baik, Pak. Nanti saya hubungi Pak TD."

Kami fokus mempersiapkan acara pisah sambut antara Pak AK dengan Pak TS. Selain acara pisah sambut itu, sebetulnya saya juga sudah mengagendakan acara Coffee Morning dengan Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Kalimantan Barat. Coffee Morning adalah pertemuan rutin sebagai sarana silaturahmi yang beranggotakan kantor Kementerian Keuangan, Kantor Asuransi dan Perbankan di wilayah Kalimantan Barat, khususnya kota Pontianak. Namun karena satu dan lain hal acara tersebut akhirnya ditiadakan. Padahal teman-teman staf TURT sudah terlanjur memesan Meja Bundar (Round Table). Untung saja pesanan meja tersebut bisa dibatalkan tanpa dikenai biaya. Kebetulan juga undangan belum disebar.

10 Februari 2015
Pak AK berencana ikut ke Bandara pada hari Kamis pagi untuk menjemput Pak TS. Pak AK mengirimi saya pesan lewat BBM :

"Mas, sy gak jadi ikut jemput Pak TS. Nanti dari bandara langsung saja ke kantor. Thanks."

"Baik, Pak." balas saya singkat.

11 Februari 2015
Rabu sore sebelum sholat Maghrib, HP saya berbunyi. Lagu Kehilangan dari Firman Idol mengalun merdu. Lagu itu terhenti saat saya merespon panggilan tersebut. Telpon dari Pak AK.

"Mas, besok jemput Pak TS pake mobil saya saja. Nanti saya ke kantor, untuk tukar mobil. Malam ini kamu pulang pakai mobil saya saja."

"Iya, Pak. Sebaiknya besok saja. Sebelum ke bandara saya ke rumah Bapak untuk tukar mobil." usul saya. 

"Oke. Begitu juga boleh, Mas."

Ternyata mobil Bapak, maaf, maksudnya mobil Pak AK (Mobil Dinas Kepala Kantor) masih terparkir di kantor sampai malam. Kata Pak Achwani, (sopir kantor -red), Pak AK tadi minta diantar ke rumah dinas, jadi malam ini mobilnya masih 'nongkrong' di kantor supaya besok pagi siap untuk dipakai.  

Mulanya saya berencana menjemput Pak TS cukup dengan mobil saya saja. Ups ! Sorry bukan mobil saya, maksudnya mobil kantor yang biasa saya pakai. Saya pikir hal itu nggak jadi soal. Tetapi dengan besar hati, Pak AK menawarkan untuk menggunakan mobil dinas Kepala Kantor. Hal itu beliau lakukan untuk menghormati pengganti beliau. Beliau tidak ingin mobil yang digunakan untuk menjemput Pak TS kondisinya kurang layak.

Tadinya saya sempat khawatir tentang prosesi pergantian pimpinan. Saya sempat mendengar cerita miring teman-teman mengenai hal ini. Tapi ternyata hal ini tidak terjadi. Alhamdulillaah, semuanya berlangsung dengan mulus dan cantik. Pak AK sungguh berjiwa besar. Beliau tidak merasa tersisih atau tergeser. Apalagi orang yang menggantikan posisi beliau adalah orang yang baru promosi. Saya tetap harus menjaga perasaan beliau. Saya berprinsip, selama Pak AK masih di sini, masih ada di kantor ini dan masih berada di kota ini, saya akan tetap menghormati beliau sebagai pemimpin kami sampai nanti kami mengantarkan beliau ke bandara untuk yang terakhir kali. (aduh jadi sedih nulisnya). 

Menurut teman saya (sekarang sudah pindah ke Semarang), "Kalau melihat kebiasaan Pak AK, saya gak khawatir, Pak." 

Sebelum pindah ke Semarang, teman saya ini bertugas sebagai "Demang" di KPKNL Pontianak. Dia juga mengatakan, "Saya yakin beliau sangat mengerti tentang hal itu. Sisi humanisme beliau sangat menonjol, Pak. Jarang ada Bos seperti beliau."

Saya merenung memikirkan kata-kata teman saya ini. Saya rasa benar juga pendapat teman saya ini.

Kamis pagi, cuaca cerah. Udara pagi terasa segar. Langit sedikit berawan. Saya bergegas menuju kantor untuk bertemu Pak Achwani dan bersiap-siap berangkat ke Supadio. Saya menyerahkan kunci mobil saya kepada Mas Edy, untuk dipakai menjemput Bos Kami ke rumah dinas.

Sebelum berangkat, saya mampir ke Pantry bertemu dengan Zainul dan Mbak Tiwi. Mereka berdua adalah OB. Eh salah, Zainul itu OB tapi kalau Mbak Tiwi kan cewek jadi harusnya OG dong, he he he ....

"Zai, tolong belikan sarapan." 

"Sarapan apa, Pak?" tanya si Zai dengan logat Melayu yang kental.

"Adanya, apa?" saya balik bertanya.

"Bapak maunya sarapan apa?" Zai, udah mulai kesal, tapi sambil senyum-senyum. Zai pura-pura galak tapi masih malu-malu. Pikirnya, sekalian belajar akting.

"Coba kamu kasih tiga pilihan," jawab saya nggak mau kalah. Sekalian beradu akting deh.

"Bubur Ayam, Lontong Sayur atau Nasi Kuning, Pak?" gayanya seperti pelayan restoran yang menawarkan menu tanpa membawa daftar yang dilaminating.

"Nasi Kuning aja. Tolong beli dua ya, buat saya dan Pak TD."

Sebelum saya buka dompet, saya tanya lagi sama Zai.  

"Kamu udah sarapan?" sambil ngeluarin duit warna biru.

"Belum, Pak."

"Kalo gitu beli tiga, eh empat deh buat Mbak Tiwi sekalian." Duit berwarna biru segera berpindah ke tangan Zai. "Segini cukup kan, Zai?"

"Cukup lah, Pak." jawab Zai sambil tersenyum.

"Makasih ya, Pak." ucap Mbak Tiwi.

"Sama-sama." 

Saya minta Zai dan Mbak Tiwi, untuk menempatkan nasi kuning di piring dan meletakkannnya di ruang rapat Bos. Sekalian dengan gelas kaki berisi air putih. 

Karena saya sebentar lagi harus segera berangkat ke Bandara, jadi sarapannya nanti saya kalau sudah tiba di kantor setelah pulang menjemput Bos Baru. Pasti Pak TD juga belum sarapan, karena pesawat beliau berangkat pagi. Beliau juga pasti harus berangkat dari rumah lebih awal. Jadi mana sempat sarapan.

Saya dan Pak Achwani berangkat pukul tujuh pagi dari kantor menuju bandara. Setelah tiba di bandara dan tak berapa lama menunggu, akhirnya saya bertemu dengan Pak TD, Bos baru saya pengganti Pak AK.


"Selamat datang di Bumi Khatulistiwa, Pak."

"Terimakasih, Mas. Bagaimana kabarnya?"

"Alhamdulillaah baik, Pak. Kenalkan, ini Pak Achwani, driver kita, Pak."

Setelah bersalamam dengan Pak TD, Pak Achwani segera menuju tempat parkir mengambil mobil. Sesaat kemudian kami meninggalkan Supadio menuju jalan Sutoyo. 

"Bapak sudah sarapan?" tanya saya ke Pak TD dalam perjalanan menuju kantor.

"Sudah." jawab Pak TD singkat.

Saya tidak yakin dengan jawaban beliau. Bukan bermaksud untuk berbohong, mungkin Pak TD sungkan untuk menjawab jujur.  

Kemudian saya menawarkan untuk sarapan di kantor.

"Sebaiknya kita langsung ke kantor saja ya, Pak. Nanti kita sarapan di kantor."

"Oh, boleh." Pak TD menyetujui usul saya.

"Sarapannya nasi kuning ya, Pak." 

"Wah, cocok tuh."  

Kurang dari tiga puluh menit, akhirnya kami tiba di kantor. Alhamdulillah, pagi ini jalan di kota Pontianak tidak terlalu macet. Kemudian kami menuju ruang Bos kami. Pak TD menyapa dan menyalami Yudha dan Yanti, dua sekretaris yang namanya kebetulan diawali dengan huruf yang sama. Kemudian saya dan Pak TD masuk ke ruang Bos. Di ruang Bos sudah ada Pak Aprito sedang berbincang-bincang sama Bos. Pak AK menyambut Pak TD dengan sangat akrab. Setelah bersalaman, mereka kemudian berpelukan. Sepertinya sudah sekian lama mereka tak berjumpa. Ah, saya jadi teringat lagunya Bang Haji Rhoma Irama, "Semakin lama kita berpisah, semakin mesra saat berjumpa". 

"Sehat, Kang?" Pak AK membuka percakapan.

"Alhamdulillaah, Kang. Sehat." jawab Pak TD.

Pak AK lalu memperkenalkan Pak Aprito. Lalu mereka bertiga terlibat dalam obrolan ringan. Saya tinggalkan mereka sejenak seolah-olah sambil berkata, "Jangan ke mana-mana. Saya akan kembali sesaat lagi."

Saya meminta Yanti bilang ke Mbak Tiwi untuk menyiapkan sarapan untuk Pak TD. Sebentar saya menuju ruangan saya. Ketika kembali ternyata di ruang Bos sudah berkumpul para Kabid. Namun saya tidak ikut masuk ke ruang Bos. Saya ingin memastikan Nasi Kuning untuk Pak TD sudah siap di ruang rapat.

Mbak Tiwi datang dengan membawa empat piring nasi kuning untuk disiapkan di ruang rapat lengkap dengan empat gelas kaki dan empat botol air mineral.

"Loh, kok empat?" tanya saya heran. 

"Kata Mbak Yanti, semua aja, Pak."

"Ya, tetap nggak cukup lah. Kan orangnya banyak."

"Jadi gimana, Pak?" tanya Mbak Tiwi ragu.

"Yang dua ini punya siapa?" 

"Punya saya sama Zai, Pak. Belum dimakan."

"Kalo gitu, dua saja. lainnya bawa ke Pantry."

"Iya, Pak." ujar Mbak Tiwi bingung.

Saya berpikir keras. Bagaimana memberi tahu Pak AK kalau Pak TD belum sarapan. Saya tulis BBM ke Pak AK.

Maaf, Pak. 
Pak TD belum sarapan.  
Sudah saya siapkan nasi kuning di ruang rapat
Sebaiknya Pak TD sarapan dulu.

Selesai mengetik saya pencet "Send". BBM terkirim tapi belum juga terbaca. Mungkin karena asyik ngobrol sehingga Pak AK tidak tahu ada BBM masuk. Kemudian saya masuk ikut bergabung ke ruangan Bos. Saya mengambil tempat duduk di sebelah Pak AK. Lalu perlahan saya berbisik kepada Pak AK, "Pak, saya kirim BBM."

Pak AK langsung mengambil BBnya dari atas meja lalu membaca BBM.

"Ayo, kita sarapan dulu." Pak AK mengajak Pak TD dan semua Kabid untuk sarapan bersama. Beliau mengira sudah disiapkan untuk semuanya.

"Aduh, bagaimana bilangnya", batin saya. 

"Maaf, cuma dua, Pak. Dua Piring Nasi Kuning untuk Bapak dan Pak TD." ujar saya cepat untuk mencegah para Kabid masuk ke ruang rapat. Lebih baik mencegah dari pada cuma jadi penonton. Bukan Kabu namanya kalau tidak bisa berimprovisasi.

Akhirnya Pak AK mengajak Pak TD ke ruang rapat untuk sarapan Nasi Kuning. Sementara para Kabid tetap menunggu di ruang Bos sampai Pak AK dan Pak TD selesai sarapan.

Akhirnya saya meminta Yanti ke Pantry. "Yanti, tolong bilang ke Mbak Tiwi untuk menyiapkan satu piring nasi kuning di meja saya."

"Baik, Pak." jawab Yanti sambil terus menuju ke Pantry.


Akhirnya Mbak Tiwi mengantarkan sepiring nasi kuning untuk saya.

"Makasih, Mbak."

"Sama-sama, Pak"

"Ini uang untuk ganti punya Zai."

Untung nasi kuning Zai belum dimakan. Terpaksa Zai beli nasi kuning lagi deh. He he .....

Setelah selesai menikmati nasi kuning, saya kembali bergabung dengan para Kabid yang lain di ruangan Bos. Tak lama kemudian, Pak AK dan Pak TD kembali dari ruang rapat dan bergabung bersama kami. Pak AK menuju meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan Kartu Ucapan.

"Mas. Sini, Mas."

"Iya, Pak." Saya beranjak menghampiri Pak AK.

Pak AK yang terlihat sibuk menandatangani Kartu Ucapan Mohon Diri untuk dikirim kepada para relasi kantor. Kartu tersebut berisi permohonan pamit kepada sejumlah relasi dan sahabat yang telah mewarnai perjalanan beliau selama di Bumi Khatulistiwa.

"Mas, nanti saya mau ajak Pak TD ke rumah dinas." Pak AK berkata pelan ke telinga saya

"Iya, Pak. Setelah itu kita rapat atau bagaimana, Pak?"

"Nggak. Langsung saja acara pisah sambut."

"Baik, Pak."

"Nanti sore saya mau ke Singkawang." Pak AK melanjutkan

"Sama siapa, Pak?" saya menyimak baik-baik.

"Pak Aprito dan Pak Achwani."

"Oke, Pak."

"Nanti ke Bandara pakai mobil saya saja. Biar saya pakai mobil Pak Aprito."

"Siap, Pak."

Tak lama kemudian, Pak AK dan Pak TD berangkat menuju rumah dinas Kepala Kantor yang terletak di jalan Palapa. Sementara kami tetap di kantor menunggu Pak AK dan Pak TD kembali dari rumah dinas.

Saya memastikan semua persiapan untuk acara pisah sambut.

"Rama, kenang-kenangan dari semua bidang sudah siap semua?"

"Tinggal satu bidang lagi, Pak yang belum. Tapi katanya sudah siap."

Rama mendapat tugas mengetik susunan acara pisah sambut. Dia juga menghimpun bingkisan dari semua bidang untuk diserahkan nanti sebagai kenang-kenangan untuk Pak AK.

Rima bertugas sebagai pembawa baki bingkisan yang akan diserahkan pada saat acara nanti.

Ayuk, nampak sedang mengikat bingkisan dari Bagian Umum.

"Macam ini kah, Pak?" ujarnya sambil memperlihatkan hasil kerjanya

Dia mengikat kotak perhiasan dengan pita berwarna biru disertai label ucapan yang diikat dengan tali emas. Saya pun kemudian memeriksa hasil pekerjaannya.

Ada bagian kata-kata yang hilang karena tertusuk alat pembolong kertas. Sebetulnya tidak begitu mengganggu, tapi tetap terlihat kurang bagus. Saya sarankan supaya lubangnya tidak mengenai tulisan. Saya minta Arief untuk mencetak ulang label ucapan dengan memberi ruang sedikit untuk dilubangi.

Bingkisan dari Bagian Umum, Bidang-bidang lain dan dua kantor operasional sudah terkumpul semua. Rama, Rima, Ayuk dan Arief membawa ke ruang aula dan diletakkan sesuai urutan yang tertulis dalam susunan acara. Tak lupa juga diberi label untuk masing-masing bingkisan.
   
Pontianak, 14 Februari 2015
ditulis oleh : Guntur Sumitro


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By