Breaking News

Kamis, 04 September 2014

SEGENGGAM GARAM, TEH DAN SANTAN

Garam, Teh dan Santan versi modern

Ada tulisan menarik yang saya baca di Pontianak Post. Judulnya Segenggam Garam, Teh dan Santan. Penulisnya adalah Aspari Ismail yang bekerja di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak dan sekaligus sebagai Pembina Forum Lingkar Pena. Isi tulisannya sangat menarik dan bisa dijadikan sebagai bahan renungan. Menurut saya judulnya menarik karena berkaitan dengan kuliner tetapi isinya penuh dengan makna dan filosofis.

Tulisan tersebut saya tulis kembali dalam catatan saya ini, tetapi saya ambil sebagian dan intisari dari cerita tersebut.

Berikut ini sebagian kisah tersebut yang menurut saya perlu untuk dibagikan kepada teman-teman semua.

Segenggam Garam
Seorang pemuda yang sedang galau, gundah gulana menemui seorang kakek yang bijaksana. Pemuda itu menceritakan semua keluh kesahnya dari A sampai Z. Sang kakek mendengarkan dengan penuh seksama. Usai pemuda itu bercerita, kakek meminta pemuda tersebut mengambil segenggam garam dan memasukkannya dalam segelas air. Kemudian meminta pemuda tersebut meminum airnya. "Apa rasa air itu?" tanya sang Kakek. "Asin, Kek" jawab pemuda itu sembari cemberut. 

Kemudian kakek mengajak pemuda itu membawa segenggam garam lagi dan menaburkan garam tersebut pada sebuah danau. "Coba kamu minum air itu. dan apa rasanya?" ujar kakek. Pemuda itu menuruti perintah kakek. meminum air tersebut. "Segar, Kek" katanya seraya tersenyum.

"Cucuku, perumpamaan kehidupan ini bagaikan rasa segenggam garam. Setiap orang pasti punya masalah. Masalah itu ibaratnya garam. Nah, hati kita bagaikan wadah yang menaungi garam tersebut. Kalau hati kita sempit, sama kecilnya sebuah gelas maka kita selalu merasa hidup ini tak mengenakkan, menyengsarakan. Namun bila hati kita seluas danau, ikhlas dan sabar dalam menghadapi masalah, maka kehidupan ini terasa menyegarkan, begitu indah. Karena ketahuilah bahwa setiap masalah pasti ada hikmahnya. Pasti ada jalan keluarnya!" ujar kakek dengan penuh semangat dan bijaksana.

Air Teh
Seorang ayah mempunyai tiga orang anak, A, B dan C. Ayah itu membuatkan teh hangat untuk ketiga anaknya. Ketiga anak tersebut mendapat air teh yang sama banyaknya tetapi dengan ukuran gelas yang berbeda. Gelas yang paling besar diberikan untuk Si A. Untuk Si B diberikan gelas ukuran sedang. Kemudian Si C diberikan gelas ukuran paling kecil. Si A protes, "Kenapa air teh yang Ayah berikan untuk dirinya sedikit, sedangkan untuk B dan C banyak?" ujar si A sambil merajuk. Sang ayah menjelaskan, "Sayang, sebenarnya air teh itu sama banyaknya, cuma gelasnya saja yang beda.  Karena itu jangan lihat gelas orang lain, syukuri saja rejeki yang ada pada kita".

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah itu adalah kenikmatan dan kesusahan yang Tuhan berikan pada manusia itu sejatinya sama banyaknya. Pembedanya adalah acapkali kita melihat dan membandingkan rezeki ataupun 'derita' diri sendiri dengan orang lain dari luarnya saja. Seperti Si A melihat gelas Si B dan Si C padahal isinya sama persis. Sejatinya kita mesti insaf bahwa kenikmatan yang terbesar dalam hidup ini adalah hidup itu sendiri. Tinggal bagaimana kita menemukan cara pandang, bersyukur dan bersabar untuk menikmati pesona kehidupan yang dianugerahkan Tuhan.

Buah Kelapa
Ada ilmu penuh gizi dari Aa' Gym yang menceritakan pelajaran dari buah kelapa. Proses sebuah kelapa menjadi saripati kelapa yang dikenal sebagai santan itu begitu panjang. Kelapa tua jatuh dari ketinggian dan sangat keras ke tanah. Setelah itu, kelapa digunduli dengan cara dibacok dan ditarik kesana-kemari. Setelah itu dipukul dengan sangat keras agar pecah. Selesai? Belum. Setelah kelapa pecah, buahnya harus dicungkil, dilepaskan dari batoknya. Kemudian kelapa diparut menggunakan besi-besi kecil tajam. Hasil parutan itu kemudian diperas-peras. Barulah menghasilkan santan kelapa yang lezat dan bermanfaat untuk berbagai masakan di dunia. 

Begitulah kehidupan. Untuk menjadi orang yang hebat kita harus melalui proses jatuh bangun. Saat ujian datang silih berganti, jangan bersedih. Itu bagian dari proses yang harus dilalui agar tercipta kehidupan yang lebih bermutu. Kuat dan sabar saat menanggung derita adalah kunci menuju kehidupan yang lebih bermakna. Kelapa tidak akan menghasilkan saripati santan bila prosesnya berhenti di tengah jalan. Anda pun tidak akan menemukan saripati kehidupan bila tidak sabar saat menghadapi proses kehidupan.

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan) tetaplah bekerja keras (untuk sesuatu urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmu-lah engkau berharap" (Qs. al-Insyirah : 5-8).

Dalam buku Menulis Nikmat di Atas Batu (Aspari Ismail, 2013:56) disebutkan bahwa kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti mewarnai sepanjang perjalanan kehidupan. Keduanya kadang dipergilirkan. Setiap orang pasti merasakan kebahagiaan. Setiap orang pernah pula mengalami kesusahan. Demikianlah adanya, karena hidup adalah ujian.

"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan) dan kepada Kami-lah kamu akan kembali" (Qs. al-Anbiya' : 35).

Itulah tulisan yang saya ambil dari surat kabar Pontianak Post, semoga bermanfaat dan dapat kita amalkan dalam menjalani kehidupan, amiiin ...

Pontianak, 5 September 2014

Sumber : Pontianak Post, 5 September 2014

Catatan :
Aspari Ismail saat ini bekerja di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Pembina Forum Lingkar Pena (FLP) Kalbar.

Tulisan ini sebagai catatan pribadi dan untuk menyebarluaskan kebaikan, semoga bermanfaat.       
  
     

4 komentar:

  1. Nice post, Pak Goen...... Kisah garam memberi saya pencerahan...Terimakasih...

    BalasHapus
  2. Sama2 Oleh2 Borneo. Makasih atensinya

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By