Breaking News

Minggu, 10 Agustus 2014

HUJAN DI BULAN AGUSTUS

Kemarin, tepatnya hari Minggu malam atau pada tahun kedua bulan kedelapan hari kesepuluh atau pada H plus tiga belas setelah lebaran (10-08-2014), Kota Pontianak diguyur hujan yang sangat lebat, bisa dibilang super deras. Hujan dimulai pada pukul setengah sebelas malam sampai pukul dua belas malam. Durasi yang lumayan panjang dengan intensitas curah hujan yang lebat.

Mengapa hujan begitu istimewa di Pontianak?

Pada saat pertama kali saya datang ke Pontianak, seorang teman kantor berkata, "Selamat datang di Kota Pontianak, Pak," sambil menyalami saya. Lalu dia melanjutkan, "Pontianak ini kotanya enak kok, Pak. Tapi ya gitu deh." Dia agak ragu untuk meneruskan kalimatnya.

"Emang kenapa, Mas?" tanya saya penasaran.

"Suatu saat nanti, kalau musim kemarau, kalau sudah lama nggak turun hujan, Bapak akan merasakan turunnya kabut asap akibat pembakaran lahan atau kebakaran hutan. Ditambah lagi, nanti air PAM rasanya asin, karena bahan bakunya berasal dari Sungai Kapuas. Pada musim kemarau, air laut masuk ke dalam Sungai Kapuas, sehingga air Sungai Kapuas akan terasa asin. Karena sumber air PAM adalah dari Sungai Kapuas, maka air PAM rasanya seperti dikasih garam," teman saya menjelaskan panjang lebar.

"Oh begitu ya, Mas," Saya menyimak penjelasannya dengan rasa ingin tahu.     

"Tapi Tuhan Maha Adil, Pak. Alhamdulillaah, di Pontianak hujan turun hampir sepanjang tahun. Mungkin di tempat lain kekeringan, tapi di sini nggak." Sejenak teman saya menyeruput secangkir kopinya yang sudah tidak terlalu panas. "Walaupun ada saatnya musim kemarau, tapi nggak sampai berkepanjangan. Jadi keringnya nggak lama."

Itulah informasi pertama yang saya dapat dari teman kantor saya mengenai Pontianak.

"Oh iya, Pak. Masyarakat di sini mempunyai kebiasaan yaitu menyediakan gentong-gentong yang besar untuk menampung air hujan. Air hujan yang disimpan itulah yang nanti akan digunakan apabila musim kemarau datang. Masyarakat di sini sangat senang apabila hujan turun, karena gentong-gentong besar mereka akan terisi air hujan untuk keperluan sehari-hari terutama untuk kebutuhan mandi dan mencuci."

Hm ... info yang menarik dan sangat penting.

Saat pertama saya datang di Pontianak saya tinggal di sebuah tempat kos yang merupakan tempat kos favorit teman-teman kantor. Apabila ada teman yang baru datang di Pontianak selalu direferensikan untuk tinggal di tempat kos ini. Termasuk Saya. 

Di tempat kos ini, terdapat tandon atau tempat penyimpanan air dengan kapasitas seribu liter diletakkan di lantai dua, tepatnya di bagian belakang, semacam teras terbuka yang berfungsi untuk masak dan mencuci pakaian. Pipa-pipa paralon dipasang untuk menyalurkan air hujan dari atap rumah kos kemudian diteruskan ke dalam tempat penyimpanan air. Air itulah yang digunakan oleh para penghuni kos untuk mencuci pakaian, mencuci piring dan untuk bersih-bersih.

Saya tengok di kanan dan kiri tempat kos, hampir semua rumah mempunyai gentong-gentong untuk menampung air hujan. Tak hanya di sekitar tempat kos saja, ternyata hampir semua rumah, ruko, perkantoran dan mall besar pun mempunyai tempat penampungan air hujan. Rupanya, masyarakat kota Pontianak mempunyai kebiasaan yang sama dalam menyikapi datangnya musim kemarau dengan memanfaatkan air hujan.

Pada tahun pertama saya di Pontianak atau pada tahun 2013, saya belum mengalami apa yang diceritakan teman saya tadi. Karena pada tahun 2013, hujan turun hampir sepanjang tahun, sehingga tidak menyebabkan air PAM terasa asin. Ternyata betul kata teman saya, Tuhan Maha Adil, kota Pontianak diberikan curah hujan yang melimpah sepanjang tahun 2013.

Nah, baru di tahun kedua yaitu pada bulan Agustus, setelah kembali dari Cirebon, saya merasakan air PAM yang terasa asin. Bukan agak asin, tapi memang benar-benar asin. Bahkan bila kita mencuci muka, air yang menempel di bibir pun akan terasa asinnya. 

Kejadian semalam, kembali mengingatkan ucapan seorang teman saat pertama kali saya datang di Pontianak. Sekarang saya sudah merasakan bagaimana asinnya air PAM. Untuk mandi dan cuci muka akan terasa lengket. Ibaratnya kita terdampar di pulau yang dikelilingi lautan. Dalam kondisi seperti itulah kita akan merindukan turunnya hujan. 

Dan tadi malam, kerinduan itu terobati dengan tumpahnya hujan yang begitu banyak. Saya pun senang dan masyarakat Pontianak pada umumnya juga senang dan bersyukur atas limpahan berkah dari langit. Terpaksa saya menunda tidur untuk menampung air hujan ke dalam bak mandi. Alhamdulillaah, rasanya bahagia sekali.

Subhanallah. 

Catatan :
Pada tanggal 5 Agustus 2014, hujan juga sempat turun tapi nggak besar.
Ini status saya pada tanggal 5 Agustus 2014 :

Alhamdulillaah, turun juga hujannya. Semoga durasinya diperpanjang supaya teman-teman di Pontianak bisa men-download air tawar secara gratis. Abis gak enak juga keramas pake air asin. Kalo dikasih gula pasir jadi kaya oralit. Ayo download yang banyak .... Piss Ah ... !

Menadah air hujan

Pontianak, 11 Agustus 2014
ditulis oleh : Guntur Sumitro. 
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By