Breaking News

Jumat, 04 Juli 2014

PUASA KETIKA DIKLAT PRAJABATAN

Foto waktu Diklat Prajabatan
Ketika puasa begini, ingatan saya melayang kembali pada saat saya ikut Diklat Prajabatan di Asrama Rindam Jaya, Condet Jakarta Timur. Kenangan saat-saat berpuasa sampai sekarang masih tersimpan dalam memori ingatan saya. Meski nggak ingat semuanya secara detil. Tapi akan saya ceritakan pengalaman saya ketika berpuasa bersama teman-teman saat mengikuti diklat tersebut.

Sebetulnya diklat dilaksanakan selama 21 hari atau tiga minggu. Memang tidak selama itu kami menjalani ibadah puasa di asrama atau barak tentara. Kira-kira satu minggu kami menjalankan ibadah puasa waktu itu.

Baru pertama kali itulah saya menjalankan puasa dengan jadwal kegiatan yang super ketat.

Diklat dimulai seminggu sebelum puasa. Jadi selama satu minggu itu kami masih bebas tapi jadwal kegiatan cukup ketat atau bisa dibilang disiplin. Semua kegiatan diatur mulai dari bangun tidur, kegiatan olah raga pagi, sarapan belajar di kelas, kegiatan baris berbaris, makan siang, makan malam, kegiatan malam, sampai waktu akan tidur semuanya terjadwal.

Memasuki minggu kedua pelaksanaan diklat adalah saat awal puasa. Selama satu minggu itu kami menjalani puasa di asrama tentara. setelah itu kami libur. Dan kembali masuk ke asrama lagi setelah Idul Fitri dengan tanggal yang sudah ditentukan. 

Nah disaat puasa itulah kami menjalani kegiatan yang agak berbeda tapi masih tetap terasa berat.

Sahur
Saat sahur kami dibangunkan oleh suara sirine yang berbunyi sangat keras. Suaranya nyaring sekali yang bisa di dengar ke seluruh penjuru asrama. Semua peserta diklat harus segera bangun tidur dan tidak boleh terlambat. Kami harus berpakaian lengkap saat makan sahur. Tak boleh ada atribut pakaian yang ketinggalan. Mulai sepatu tentara warna hitam, celana seragam hijau, kaos oblong hijau, baju seragam hijau, sabuk tentara, topi, semuanya harus dikenakan lengkap. Setelah selesai berpakaian, kami harus berkumpul dan berbaris rapi di depan barak masing-masing untuk berjalan secara berkelompok menuju ruang makan.

Masing-masing kompi dipimpin oleh seorang pemimpin barisan berjalan menuju halaman yang menghadap ke ruang makan. Setelah semua kompi lengkap, satu per satu masing-masing kompi memasuki ruang makan secara tertib. Ada satu kompi yang tidak ikut berbaris di luar. Mereka ditunjuk sebagai petugas piket untuk menyiapkan makan sahur. Mereka menyusun makan di meja makan. 

Sebelum kami memasuki ruang makan, semua tempat makanan sudah rapi tersusun di meja makan. Tempat makanannya terbuat dari plastik, berbentuk bulat dengan partisi atau batas-batas untuk memisahkan antara nasi, sayur, lauk dan buah. Makanan yang disajikan sangat spesial terdiri dari nasi yang agak keras, tidak pulen sama sekali. Kemudian lauk, biasanya adalah potongan ikan lele, bukannya seekor tapi sepotong, satu ikan lele dibagi dua. Ada yang dapat bagian kepala, ada juga yang dapat bagian ekornya. Sayurnya banyak kuahnya tapi sedikit isinya. Buahnya adalah pisang.

Sebelum makan, kami semua harus duduk dengan rapi. Duduk tegak dengan kedua tangan dilipat diatas meja makan. Satu orang petugas piket akan berdiri di tengah-tengah ruangan, memimpin jalannya acara makan dengan aba-aba lengkap.

"Duduk siap, Grakk .....!"

"Braaakk ... !!"

Suara sepatu kami serempak memecahkan kesunyian. Bunyi sepatu yang dihentakkan ke lantai menandakan kami telah duduk siap untuk menunggu aba-aba berikutnya.

"Sebelum makan, mari kita berdoa. Berdoa, mulai ... "

Kami semua menundukkan kepala dan berdoa. 

"Selesai. Selamat makan ........"

"Terimakasih ....."

Setelah kami menjawab dengan ucapan "Terimakasih" kami semua menikmati makanan yang telah disajikan di hadapan kami masing-masing. Semua makanannya sama. Doyan atau tidak doyan, pokoknya harus dimakan. Karena kalau tidak dimakan, besok kita akan kelaparan seharian selama puasa. Tidak ada lagi "Extra Puding" jam 9 pagi. Extra Puding adalah makanan tambahan pada jam 9 pagi semacam Coffee Break. Biasanya Extra Puding berupa bubur kacang ijo. Untuk menambah selera, saya membawa bekal dari rumah. Ibu membawakan bekal berupa balado tempe kering dengan campuran ikan teri dan kacang tanah. Saya makan jatah ransum dengan bekal dari rumah yang diguyur kuah sayur. Teman yang duduk di samping saya juga membawa sebotol kecap. Saya berikan sedikit bekal kepada teman saya dan saya meminta kecapnya. Kami saling bertukar bekal makanan dari rumah. Sahur di asrama tentara terasa benar-benar 'Mak Nyuss ....' 

Setelah selesai makan sahur, kami keluar ruang makan dengan tertib. Tentunya setelah berdo'a dipandu aba-aba oleh seorang pemimpin. Kami semua kembali ke barak masing-masing, bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di musholla. Pada saat ini, sebagian teman-teman ada yang menuju kantin untuk melakukan sahur kedua. Kantin memang sengaja buka untuk menyediakan makan sahur bagi teman-teman yang tidak memakan makan sahurnya. Menu di kantin lebih menggiurkan, padahal cuma semangkuk mie rebus plus telor. Suasana kantin begitu ramai. Teman-teman bebas pesan makanan apa saja. Tentunya tidak gratis. Sebagian lagi ada yang merokok sambil ngobrol-ngobrol sampai datang waktu sholat subuh. Kami pun sholat subuh berjamaah di musholla.

Siang Hari
Kegiatan siang hari dilaksanakan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda antara puasa dengan tidak puasa. Kami belajar di kelas menerima materi yang disampaikan oleh nara sumber. Sebagian teman-teman ada yang terlihat mengantuk di kelas. Memang rasa ngantuk sudah tidak bisa lagi dilawan. Ada yang serius mencatat, ada yang hanya mendengarkan. Ada teman yang tidur, tapi waktu bangun langsung mengajukan pertanyaan. Aneh kan, he he ..... 

Selain kegiatan di kelas, kami juga melakukan kegiatan di lapangan. Kami belajar baris berbaris dengan membawa senjata laras panjang. Di tengah cuaca yang panas terik, kami harus berbaris membawa senjata yang berat. Belum lagi kami juga harus melakukan posisi tiarap dan berguling-guling di lapangan. Adu capek banget. Tenggorokan terasa kering.

Bila hari Jum'at. Para peserta pria melakukan sholat Jum'at di mesjid. Sebelum sholat Jum'at kami mandi dulu. Seger banget, setelah latihan baris berbaris diguyur air terasa menyegarkan. Rasanya ingin berlama-lama mandi. Lumayan, bisa menambah kesegaran dalam melaksanakan puasa. Aduh, puasa masih setengah hari lagi. Tapi gak, apa-apa lah yang penting sudah seger lagi. 

Saatnya Buka Puasa
Inilah saat-saat yang dinanti-nanti. Tak lain dan tak bukan adalah saat berbuka puasa. Segala kelelahan di siang hari terasa hilang ditebus dengan makanan yang tersaji di meja makan. Saat berbuka puasa, kami pun harus berbaris rapi untuk memasuki ruang makan. Suasananya sama seperti ketika makan sahur. Ada aba-aba yang dipimpim oleh seorang teman. Ada tambahan kolak pisang dan ubi sebagai menu buka puasa. 

Kegiatan Malam
Kami melaksanakan kegiatan sholat taraweh berjamaah di Masjid Asrama. Setelah selesai sholat taraweh, kami beristirahat di barak kami masing-masing. Kami tidur di atas tempat tidur tentara. 

Itulah kenangan kami ketika mengikuti Diklat Prajabatan di Asrama Tentara pada tahun 1996. Setiap datang bulan puasa, saya pasti akan selalu teringat saat-saat berpuasa di sana. Itulah kenagan, meski jauh tetapi terasa dekat. Dikatakan dekat tapi juga begitu jauh. Seindah apapun kenangan, seburuk apa pun kenangan itu, kita tidak akan bisa lagi kembali ke sana.

Komentar teman-teman waktu diklat

Jamik :
Tidur di barak, mandi bareng, tak terlupakan
Jurit malam yang  menegangkan
Menu makan yg istimewa kepala/ekor lele
Tapi herannya badan bisa sehat n gak loyo
Evelyn, Mas Agus HW sama Mbak Mala yg membawa pulang hasil prajab

Icha :
Hari pertama masih bertahan utk puasa
Hari kedua pas baris berbaris panas2 saya muntah, batal deh puasanya
Hari ketiga dan keempat tidak puasa ajah deh takut muntah2 lagi, he he .....

Sigit :
Aku lupa

Rani :
Pak Sigit tentu aja lupa wong pake pita di dada ... hihihhi
Bos Sigit sakit sampe kurus yg gemuk rambutnya
Evelyn jg dapet hasil ... comblangnya gue ya ...

Evelyn :
Aku gak pernah lupa, karena bukti sejarahnya kubawa pulang ...
Jatuh bangun, jatuh sakit sampai jatuh cinta lengkap deh di rindam jaya
Kacang ijo bonus kutu, beras sama padi dan batu, semua jadi enak ...

Iis :
Eni nabrak komandan sampe jatuh bareng
jadi kangen bumbu nasgor ibunya Pak Goen
Sebelum maksi beli kerupuk di kantin disakuin di celana
ehhh disuruh push up dulu

Risang :
Kenangan tak terlupakan apalagi yg bawa bonus pulang kyk bos Hw, neng Evelyn dll.

Heni :
Tapi pasti gak ada yg punya pengalaman seperti aku
nemenin orang kesurupan tentara jadi seolah-olah dalam keadaan perang ...

Jose :
17 tahun lalu masih segar dlm ingatan, bapak2 TNI yg ndampingin kompi kita dah pada pension

Agus AQ :
Veteran kompi P barak Setyabudhi hadir ndan ...
# ikut nyimak nostalgia sambil gelar tikar #

Pontianak, 4 Juli 2014
ditulis oleh : Guntur Sumitro

2 komentar:

  1. hrs ditambah kisah sedih dan kisah kasih di asrama juga om

    BalasHapus
  2. Boleh juga tuh Om Icang, tapi kisah kasihnya kan versi yg menjalaninya he he ...
    Harus ngorek narasumber nih

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By