Breaking News

Rabu, 11 Juni 2014

TUGU DIGULIST PONTIANAK

Kota Pontianak dikenal dengan Tugu Khatulistiwanya. Obyek satu itulah yang ingin saya kunjungi ketika saya tiba di kota ini. Saya datang ke Pontianak untuk pertama kalinya pada tanggal 1 Januari 2013. Saya sekarang bertugas di kota ini. Sebelumnya saya bertugas di kota Cirebon.

Saya dan Pak Nanda (Widya Sananda), Kepala Bidang Lelang, kebetulan naik pesawat yang sama dari Jakarta. Kami dijemput Mas Casrudin, staf Bidang Lelang. Ketika kami tiba di Bandara Supadio, hari sudah malam. Dari bandara kami menuju kantor di Jalan Letjend. Sutoyo. Dalam perjalanan ke kantor kami melewati bunderan yang di tengahnya terdapat beberapa buah bambu runcing yang menancap dan menjulang ke atas dengan ukuran yang berbeda-beda. Jumlah pastinya saya tidak tahu. Tapi yang jelas ada satu yang paling tinggi terletak di tengah-tengah.

Tugu Digulist di malam hari
Bunderan Bambu Runcing inilah yang saya lihat pertama kali saat tiba di kota Pontianak. Pak Nanda bilang bunderan ini adalah Bunderan UNTAN (Universitas Tanjungpura), karena letaknya di kawasan Kampus Universitas Tanjungpura. Saya juga baru tahu, kalau perguruan tinggi di kota ini namanya Universitas Tanjungpura atau disingkat UNTAN. 

Saya jadi penasaran. Kenapa ada banyak bambu runcing di tengah-tengah bunderan Untan. Pasti ada maksud tertentu. Pasti ada sejarahnya. 

Beberapa waktu kemudian, setelah saya lama di Pontianak, saya mendapatkan referensi mengenai tugu ini. Dari referensi tersebut, saya mengetahui bahwa ternyata tugu ini dibangun untuk menghormati dan menghargai jasa sebelas orang pejuang yang dibuang ke Boven Digul, di Papua. Nah, dari jumlah para pejuang dan dari nama tempat mereka dibuang itulah, maka untuk mengenang perjuangan mereka dibangunlah tugu ini. Tugu ini bernama Tugu Digulist.  

Sebelas orang pejuang tersebut, adalah :
Moehammad Sohor yang berasal dari Ngabang
Moehammad Hambal alias Bung Tambal berasal dari Ngabang
Gusti Johan Idrus berasal dari Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digul
Haji Rais bin H. Abdurahman, berasal dari Ngabang 
Gusti Sulung Lelanang, berasal dari Ngabang
Gusti Moehammad Situt Machmud, berasal dari Ngabang
Gusti Hamzah, berasal dari Ketapang 
Achmad Su'ud bin Bilal Achmad, berasal dari Ngabang
Ya' Moehammad Sabran, berasal dari Ngabang
Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau
Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit. 

Tugu Digulist ini dibangun pada tahun 1986 dan diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat pada tanggal 10 November 1987.

Beberapa dari nama pahlawan tersebut diabadikan sebagai nama jalan di kota Pontianak, sebagai berikut :










Selain Tugu Bambu Runcing, saya menyebut Tugu Digulist dengan istilah 'Bunderan HI'-nya Kota Pontianak. Karena biasanya tempat ini dipilih untuk melakukan aksi unjuk rasa mahasiswa. Mungkin karena letaknya yang sangat strategis yang berada di tengah kota. Sekarang tempat ini nampak semakin cantik dengan taman di sekitarnya. Bila malam hari, tempat ini dijadikan tempat nongkrong bagi para muda-mudi yang biasanya sambil berfoto-foto. Pada malam hari tempat terlihat lebih meriah dengan sorotan lampu warna-warni dan juga air mancur yang bervariasi.

Sumber referensi :
Buku Pontianak Heritage ..... 
Penulis : Ahmad Asma DZ.

Pontianak, 11 Juni 2014
ditulis oleh : Guntur Sumitro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By