Breaking News

Senin, 09 Juni 2014

SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI KALIMANTAN BARAT

Sabtu pagi (7-6-2014) saya berolah raga jalan kaki santai seperti biasanya. Kali ini tempat tujuan saya adalah Jalan Arif Rahman Hakim, Pontianak untuk melihat Makam Jaman Belanda. Selain itu saya juga ingin melihat bangunan Gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos Lama yang merupakan peninggalan Belanda. Kedua bangunan ini letaknya tak jauh dari Taman Alun Kapuas di Jalan Rahadi Usman, Pontianak. Saya mendapat referensi dari buku Pontianak Heritage yang ditulis oleh Ahmad Asma dZ. 

Sebelum menuju Kantor Pos dan Gedung Bank Indonesia, sayang singgah sebentar di Lapangan Bola yang sekarang menjadi Markas Persatuan Sepak Bola Pontianak (PSP). Nah pada dinding bagian luar dari lapangan bola ini, terdapat relief seperti yang terdapat pada museum-museum. Relief ini menceritakan tentang sejarah kerajaan-kerajaan dan juga perjuangan melawan Belanda. Pada bagian bawah relief terdapat tulisan yang menjelaskan gambar pada relief di atasnya. 

Relief tentang Kerajaan Sukadana
Kerajaan Sukadana
Kerajaan Sukadana merupakan Kerajaan Bagian dari Kerajaan Tanjung Pura dipimpin oleh Prabu Jaya.
Pada masa pemerintahan Pangeran Bandala, Sukadana mengalami kemajuan di bidang perdagangan.
Pada masa pemerintahan Pangeran Anom, peningkatan kesejahteraan penduduk, perbaikan daerah dan angkatan perang.
Pada masa pemerintahan Panembahan Airmala kemajuan di bidang perdagangan kayu dan intan.
Pada tahun 1604 Belanda melakukan perjanjian monopoli dagang.
Pada tahun 1792 Kerajaan Sukadana dipimpin oleh Sultan Jamaluddin melakukan perlawanan namun gagal. Sultan dan pengikutnya mengundurkan diri ke daerah hulu.
Belanda melalui Residen Gronovius mengangkat Raja Akil sebagai sultan dan Sukadana diganti namanya menjadi Nieuw-Brussel.
Tahun 1830 Belanda mendirikan benteng pertahanan di pulau Datuk dan mengikat perjanjian dengan Raja Akil. Rakyat diwajibkan membayar upeti.

Kerajaan Sambas
Kerajaan Sambas didirikan tahun 1687 oleh Raden Sulaiman bergelar Sultan Muhammad Syafeiuddin I. Daerah Sambas merupakan daerah agraris, maritim dan tambang emas.
Bangsa China Thai Kong melakukan penambangan di daerah Lara, Lumar, Monterado, Pemangkat Seminis dan Sebawi.
Tahun 1779, Sultan Abubakar Tajuddin I terjadi perang dengan Raja Ismail dari Siak (Sri Indrapura) dan tahun 1801 dengan Sultan Said Ali, namun berhasil dikalahkan oleh Panglima Lawang Tendi dari Sambas.
Tahun 1799 terjadi perselisihan tapal batas antara kerajaan Sambas dengan Kerajaan Mempawah dan diselesaikan dengan damai.
Tahun 1812 kapal perang East Indian Company dari Inggris menyerang Sambas sebagai balasan atas tenggelamnya kapal cendana milik Inggris di perairan Banjarmasin tahun 1789. 

Kerajaan Kubu
Tahun 1815 terjalin perdagangan antara Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin dengan Gubernur Belanda. Tahun 1720 Syarif Idrus bersama rombongannya membangun permukiman dan menyebarkan agama Islam di Simpang Sungai Rasau.
Perompak bajak laut ingin menguasai daerah tersebut maka dibangunlah kubu pertahanan yang menjelma menjadi Kerajaan Kubu dipimpin oleh Syarief Idrus.
Masa pemerintahan Syarif Muhammad Kerajaan Kubu menandatangani perjanjian dengan Belanda. Perjanjian tersebut ditentang saudaranya yaitu Syarif Alwi yang meninggalkan Kubu menuju daerah Gunung Ambawang dan mendirikan kerajaan.
Belanda berusaha menangkap Syarif Alwi yang melarikan diri hingga akhirnya sampai ke daerah jajahan Inggris di Serawak. Kerajaan Kubu mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Syarif Hassan Bin Abdurrahman. 

Kerajaan Tayan 
Raja Pertama adalah Gusti Lekar berpusat di Mungguk Batu Angat Meliau kemudian dipindah ke desa Tanjung oleh Pangeran Mancar.
Tahun 1818 terjadi kerjasama Belanda diwakili Komisaris Tobias dan Kerajaan Tayan  oleh Gusti Mekkah.
Tahun 1858 pemerintah Belanda memberi gelar baru Panembahan Anom Paku menjadi Pangeran Anom.
Jepang datang pada masa Gusti Jafar. Ia bersama putranya Gusti Makhmud ditangkap dan dibunuh Jepang.
Gusti Ismail diangkat sebagai pengganti Gusti Jafar menjadi Panembahan Kerajaan Tayan sampai tahun 1960.
Kerajaan Tayan dirubah menjadi kawedanan dan Gusti Ismail menjadi wedana. Ibukota dipindahkan ke Sanggau.

Kerajaan Sintang
Silsilah Keluarga Sintang dimulai dari Aji Melayu yang nikah dengan Putung Kempal kemudian melahirkan Dayang Lengkong  yang menurunkan raja-raja Sintang sampai kepada Demong Irawan yang bergelar Jabair I yang menurunkan Dara Juanti.
Pada masa Pangeran Ratu Muhammad  Kamaruddin tahun 1822 Belanda datang dan melakukan politik adu domba dan langsung mulai menjajah Kerajaan Sintang yang mendapat perlawanan dari para pejuang Kerajaan Sintang. 

Perang Perlawanan :
1. Perang Sintang tahun 1827 dipimpin oleh Pangeran Ratu Kusuma Idris.
2. Perang Tebidah I tahun 1857 - 1860 dipimpin oleh Pangeran Kuning
3. Perang Melawi mulai tahun 1867 - 1913 yang pada awalnya dipimpin oleh Abdul Kadir gelar Raden Temenggung setia Pahlawan (sampai tahun 1845), setelah Abdul Kadir wafat perang dipimpin oleh pejuang lainnya. 

1. Perang Tempunak, tahun 1870 dipimpin oleh Abang Kadi
2. Perang Mensiku, tahun 1874 dipimpin oleh Padun
3. Perang Kayan/Tebidah II, tahun 1878 -1882 dipimpin oleh Pangeran Muda
4. Perang Kayan/Tebidah III, tahun 1890 dipimpin oleh Apang Nata
5. Perang Jangkit, tahun 1908 dimpimpin oleh Panggi
6. Perang Payak, tahun 1921 -1925 dipimpin oleh Apang Semangai alias Dunda

Perang Melawi merupakan perang berskala besar yang dipimpin oleh Abdul Kadir gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan. Beliau ditangkap dan disiksa sampai wafat pada tahun 1845 oleh Belanda di tahanan Benteng Pertahanan Belanda di Tanjung Saka Dua Nanga Pinoh.

Abdul Kadir gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan karena jasa-jasanya kepada Bangsa dan Negara, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional disertai tanda kehormatan BINTANG MAHAPUTRA  ADIPRADANA melalui Keppres Nomor 114/TK/Tahun 1999 tanggal 13 Oktober 1999.

Kerajaan Landak
Kerajan landak pertama kali dipimpin oleh Raden Ismahayana, bergelar Raja Dipati Karang Tanjung Tua tahun 1472 - 1542. Setelah menganut agama Islam bergelar Abdulkahar.
Tanggal 8-8-1886 terjadi perjanjian dengan Pontianak mengenai tapal batas di hadapan Residen Westeraf Deeling Van Borneo.

Relief tentang perjanjian tapal batas wilayah
Tahun 1778 Sultan Banten menyerahkan Sukadana dan Landak kepada Belanda.
Tanggal 31 Mei 1845 terjadi permufakatan Belanda dengan Panembahan Machmud Akamuddin.
Tanggal 7 dan 17 Juli 1859 dilanjutkan permufakatan Belanda dengan Panembahan Ratu Adi Kesuma Amaruddin, rakyat diharuskan membayar pajak dan kerja rodi.
Tahun 1831 terjadi perang oleh Ratu Adi Achmad Kesuma dilanjutkan tahun 1890 oleh Panembahan Landak Gusti Kandut Muhammad Taberi namun digagalkan Belanda.
Tahun 1899 terjadi pemberontakan oleh Gusti Abdurani Pangeran Nata Kesuma beserta para panglima. Dan Pangeran Nata Kesuma ditangkap dan diasingkan ke Bengkulu.

Kerajaan Simpang
Kerajaan Simpang berasal dari perpecahan Kerajaan Tanjungpura ketika terjadi perebutan kekuasaan kakak beradik putera Sultan Zainuddin. Didirikan oleh Pangeran Ratu Agung berpusat di Kecamatan Malano Kabupaten Ketapang.
Pada masa Gusi Panji terjadi perang Belangkait, disebabkan karena beliau tidak mau menandatangani kontrak yang isinya mengharuskan Kerajaan Simpang membayar pajak atau belasting kepada Belanda. Perlawanan dibantu Ki Anjang Samad dengan semboyan "Dari pada bayar belasting dengan Belanda lebih baik mati." Semboyan ini membakar semangat rakyat Simpang untuk melakukan perlawanan kepada Pemerintah Belanda. Dalam menghadapi perang, para orang muda dan sehat dikumpulkan sedangkan kaum ibu, anak dan orangtua lemah diungsikan. Dan mendapat dukungan suku Dayak lengkap dengan senjata pusakanya yaitu tombak, mandau dan perisainya. Perang Belangkait mendapat bantuan pasukan yang dikirim oleh Uti Usman dari daerah Tumbang Titi yang dipimpin oleh Panglima Ropa, Panglima Gani, Panglima Enteki, Panglima Etol, Panglima Ida dan Panglima Gecok. Ki Anjang Samad tewas terkena tembakan dalam pertempuran bersama para panglima lainnya kecuali Panglima Enteki yang ditangkap kemudian dibebaskan Belanda.

Kerajaan Sanggau
Pada masa Pangeran Ratu Surya Negara terjadi pertukaran cinderamata  dengan Sultan Pontianak. Sultan Pontianak memberikan cinderamata berupa meriam bernama "Segenter Alam" sedangkan Raja Sanggau memberi Balok kayu belian yang sekarang berada di depan Keraton Pontianak.
Terjadi perselisihan dan terjadi perang Kerajaan Sanggau dengan Kerajaan Pontianak.
Pada masa Panembahan Mohammad Thahir II terjadi kesepakatan batas wilayah hukum dengan Kerajaan Brunei. Batas wilayah ditandai dengan sebuah Meriam Kerajaan yang ujungnya bernama "Meriam Naga". Meriam Naga hanya dibunyikan pada saat raja wafat.  

Kerajaan Sekadau
Kerajaan Sekadau diperintah oleh keturunan Prabu Jaya dan raja Siak Bulun. Raja pertamanya bernama Pangeran Engkong, kemudian diganti Pangeran Kadar dan selanjutnya Pangeran Suma.
Pangeran Suma memperdalam agama Islam di Mempawah dan kemudian menyebarkannya di Sekadau.
Pusat Kerajaan dipindahkan ke Kampung Sungai Bara Sekadau.
Belanda datang pada masa Gusti Akhmad Sri Negara dan ia diasingkan ke Malang. Kerajaan Sekadau selanjutnya dipimpin Panembahan Haji Gusti Abdullah bergelar Pangeran Mangku, kemudian Panembahan Gusti Akhmad, Gusti Hamid dan Gusti Kelip.
Pada masa Gusti Kelip, Jepang masuk ke Sekadau. Ia ditangkap dan menjadi korban penyungkupan Jepang tahun 1944. Jepang mengangkat Gusti Adnan bergelar Pangeran Agung dan tahun 1946 Gusti Kolen memimpin Kerajaan Belitang.
Tahun 1952 Gusti Kolen dan Gusti Adnan menyerahkan administrasi kerajaan kepada pemerintah pusat di Jakarta.      

Kerajaan Mempawah
Mempawah pertama kali dipimpin oleh Patih Gumantang di pegunungan Sidiniang daerah Sangkiang, Mempawah Hulu. Tahun 1610 berdiri Kerajaan Mempawah dipimpin oleh Raja Kodong dan selanjutnya digantikan oleh Raja Senggauk.
Tahun 1740 Opu Daeng Menambon menjadi raja, berpusat di sebukit Rama yang subur dan makmur. Tahun 1766 dipimpin oleh Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya. Terjadi perang "Galah Hirang" di sebukit Rama dan Sangkiang. Tahun 1840 dipimpin oleh Gusti Jati bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin.
Kerajaan Mempawah mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat pertahanan dan kota pertahanan. Terjadi perang dengan Sultan Kasim dari Kerajaan Pontianak, Gusti Jati meninggalkan Mempawah dan kerajaan menjadi vacum. Tahun 1831 Belanda menobatkan Gusti Amir menjadi raja Kerajaan Mempawah.

Mungkin banyak masyarakat kota Pontianak yang belum mengetahui tentang adanya dinding relief yang merupakan sejarah perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda. Saya sendiri sudah sering melalui jalan ini, namun belum melihat secara dekat.

Keberadaan dinding relief sejarah beberapa kerajaan di Kalimantan Barat ini seperti terabaikan. Kondisinya kotor tak terawat. Banyak sampah di mana-mana. Perlu perhatian serius dari pihak yang terkait dan juga peran serta masyarakat dalam menjaga tempat ini.  

Itulah sekedar oleh-oleh yang saya dapat dari kegiatan berjalan kaki di sekitar sebagian kota Pontianak. Semoga tulisan di atas bermanfaat bagi para pembaca sekalian, khususnya yang ingin mengetahui beberapa sejarah tentang kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat.

Sumber :
Relief pada dinding bagian luar Lapangan Bola Keboen Sajoek (Sekarang PSP) terletak di Jalan Arif Rahman Hakim tepat di belakang Mall Matahari (Carefour), kota Pontianak.
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By