Breaking News

Jumat, 06 Juni 2014

KISAH SUWIDAK LORO

Seorang ibu pasti akan mencintai dan menyayangi anaknya dengan segenap hati dan sepenuh jiwa. Setiap saat, ibu selalu mencurahkan kasihnya dengan tulus kepada buah hatinya. Semua anak selalu cantik atau tampan di mata seorang ibu. Walau bagaimanapun rupa dan kondisi anaknya, seorang ibu akan tetap menyayangi anaknya. Dia akan selalu mendoakan yang terbaik untuk putra-putrinya. Dia akan memberikan apapun yang dimilikinya demi kebahagiaan mereka. 

Seorang ibu pasti selalu bilang anaknya cakep, cantik, gagah atau apalah sebutan yang dimaksudkan untuk selalu bersyukur dan memuji kebesaran Sang Maha Kuasa. Tak ada seorang ibu yang bilang anaknya jelek, buruk rupa dan lain sebagainya. Karena hal tersebut bisa berarti menggugat atau protes atas pemberian dari Yang Maha Pencipta. 

Jujur aja ya, apa ada seorang ibu yang mau mengatakan anaknya jelek? Nggak ada kan? O iya, pernah dengar nggak cerita "Suwidak Loro"? Kisah ini bercerita tentang seorang ibu yang mempunyai anak yang buruk rupa namun dia tetap mencintai dan menyayangi anaknya dengan tulus, serta selalu mendoakan untuk kebahagiaan anaknya. Cerita ini aku dapat dari teman saya yang tinggal di Ambon, namanya Irwan.

Begini Ceritanya :

Pada suatu masa di sebuah dusun yang sangat terpencil, hiduplah seorang janda yang bernama Rondo Dadapan. Dia hidup bersama seorang anak perempuan yang bernama Suwidak Loro. Dinamakan Suwidak Loro, karena Suwidak Loro hanya mempunyai enam puluh dua helai rambut di kepalanya. (Kalau dalam bahasa Inggris, Suwidak Loro artinya Sixty Two) Selain itu, anak tersebut mempunyai wajah yang jelek sekali. Bisa dibilang Suwidak Loro adalah anak perempuan terjelek di kampungnya. Bahkan mungkin terjelek di dunia.

Suwidak Loro selalu diejek oleh anak-anak di kampungnya. Tidak ada seorangpun yang mau berteman dan bermain dengan Suwidak Loro. Mereka selalu mengolok-olok karena rupanya yang sangat jelek. Tak jarang Suwidak Loro selalu menangis karena sering diejek. Dia pun tak mau keluar rumah dan selalu mengurung diri di rumah. 

"Mbok, aku elek yo mbok? Aku jelek to, Mbok?" tanya Sewidak Loro yang nampak kesal karena diejek anak-anak di kampungnya. 

"Kowe ayu, ndhuk. Kamu ini cantik, sayang. Kamu ini benar-benar cantik. Anak ibu adalah putri yang paling cantik di dunia." Jawab Mbok Rondo Dadapan. Mbok Rondo Dadapan tidak pernah bilang Suwidak Loro itu jelek. Dia selalu mengatakan yang sebaliknya bahwa anaknya cantik. Mbok Rondo selalu menanamkan keyakinan dan membangun kepercayaan diri anaknya. Setiap saat Mbok Rondo Dadapan selalu memuji-muji Suwidak Loro. Bahkan setiap malam selalu menyanyikan lagu yang kata-katanya tentang kecantikan anaknya. Mbok Rondo Dadapan selalu menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anaknya yang sangat dikasihinya. Mbok Rondo Dadapan selalu meninabobokkan Suwidak Loro sambil berdoa demi kebaikan dan kebahagian putrinya kelak.

Tak lelo lelo lelo ledhung
Cup menengo ojo pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis nhak ilang ayune

Tak gadhang iso urip mulyo
Dadio wanito utomo
Ngeluhurke asmane wong tuwo
Dadio pendekare bongso

Wis cup menengo anakku
Kae mbulane ndadari
Koyo butho nggegilani
lagi nggoleki cah nangis

Tak lelo lelo lelo ledhung
Cup menengo ojo pijer nangis
tak emban slendang batik kawung
Yen nagis mundak ibu bingung

Begitulah Mbok Rondo Dadapan mendoakan anaknya lewat tembang setiap malam sebelum Suwidak Loro berangkat menuju ke alam mimpi. Mbok Rondo selalu berharap kebahagiaan dan kemuliaan untuk putrinya tercinta. Mbok Rondo Dadapan bercita-cita bahwa suatu saat nanti anaknya akan menjadi seorang putri dan dipersunting oleh seorang pangeran tampan.

Akhirnya kisah Mbok Rondo Dadapan yang mempunyai seorang anak perempyan yang cantik terdengar oleh Sang Raja. Kemudian Sang Raja bermaksud untuk menikahkan anaknya dengan Suwidak Loro. Para pengawal kerajaan menjemput Suwidak Loro untuk dibawa ke Istana. Para pengawal menyampaikan maksud Sang Raja kepada Mbok Rondo Dadapan. Mbok Rondo pun meminta syarat agar selama dalam perjalanan ke istana kerajaan Sewidak Loro diboyong menggunakan tandu dan penutup wajahnya tidak boleh dibuka sebelum tiba di istana dan hanya boleh dibuka oleh Raja.

Sesampainya di istana kerajaan, Raja pun membuka penutup wajah Suwidak Loro. Raja benar-benar terkejut dan sangat kagum akan kecantikan Suwidak Loro. Wajah Suwidak Loro yang buruk rupa kini telah berubah menjadi cantik jelita. Tuhan mendengar doa-doa lewat tembang yang dinyanyikan oleh Rondo Dadapan. Tuhan pun mengabulkan doa-doa tersebut. Akhirnya Sang Raja menikahkan Sang pangeran dengan Suwidak Loro.

Putri Suwidak Loro dan Pangeran pun kini hidup berbahagia.

Inti dari cerita di atas adalah bagaimana seorang ibu mencintai dan menyayangi anaknya dengan tulus. Seorang ibu yang selalu berdoa demi kebaikan dan kebahagian anaknya. Seorang ibu yang menanamkan rasa percaya diri kepada anaknya. Seorang ibu yang selalu bersyukur dan pernah berhenti berharap dan berdoa demi masa depan anaknya.

Mungkin cerita di atas tidak relevan lagi pada jaman sekarang. Namun kebahagian dan kemuliaan seseorang tidak dilihat dari rupa atau wajah yang cantik saja. Artinya seorang anak harus selalu ingat dan berbakti kepada kedua orangtuanya terutama kepada ibu. Karena setiap langkah dalam perjalanan kita, doa ibu akan selalu menyertai kita.


Pontianak, 6 Juni 2014
ditulis oleh : Guntur Sumitro       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By