Breaking News

Rabu, 25 Juni 2014

BUBUR PEDAS (BUBBOR PADDAS)

Siapapun Presidennya sarapannya tetap Bubur Pedas (Bubbor Paddas). Untuk pertama kalinya menikmati makanan khas ini di tahun ke 2 bulan ke 6 hari ke 23 sejak menginjakkan kaki di Pontianak...

Sebungkus Bubur Pedas lengkap dengan atributnya

Semangkuk Bubur Pedas dengan topping kacang tanah dan ikan teri

Itulah status di Fesbuk saya pada Senin pagi tanggal 23 Juni 2014. Beberapa komentar pun bermunculan, sebagai berikut : 

Bety Widyaningsih : Emang suka?

Heru Susilo : Baru tahun kedua bulan ke enam ya bro, berarti masih lima tahun enam bulan lagi...

Dwi Wahyudi : Jam, Menit, ama Detik nya kurang Om 

Ardi Irawan : jadi saya akan nunggu 2 tahun 4 bulan 21 hari lagi pak kabu...

Ade Salman : mauuuuuu dunks

Endar Fernandes : Coba om langsung makan bubbor paddasnya tepi sungai disekitar keraton sambas. Uh lebih kerasa maknyuuus nya...

Must Abe : Enak bgt nampaknya #slurph

Annisa Nuryati 'Icha' : Enak tuh kayaknya...

Oke Sudrajatt : busettt enak keknya

Tiwi Eka : Deskripsinya dong om goen....kaya bubur manado gitukah? Mana lebih enak dengan bubur gudeg?

Anisa Kiftya : enak tuh pak bubur pedas  salah satu makanan favorit 

Selain beberapa komentar di atas, juga mendapatkan sejumlah jempol dari beberapa teman, yaitu : Ero Spitzner Prasitha, Tutut Budianto, Ravie Aljombangi, Ismet Mulyawan, Aditya Pratama, Ririd Wiyono, Khristine Budiarti, Hani Mumpuni, Amrin Zuraidi Rawansyah, Widia De Indar Parawangsa dan Angga Prayuda. 

Terimakasih buat teman-teman semua yang sudah memberi jempolnya dan juga buat teman-teman yang sudah memberikan komentarnya.

Baiklah, untuk memenuhi keinginan dan rasa penasaran teman-teman semua, khususnya bagi teman-teman yang belum tahu atau yang tidak tinggal di Pontianak, kali ini akan saya deskripsikan tentang Bubur Pedas. Silakan disimak, ya ...

Jadi kemarin itu, ada teman yang ingin pergi untuk sarapan. Mereka adalah Bu Eti dan Bu Ayuk. Bu Eti mengajak Bu Ayu pergi sarapan ke Pojok Berkah untuk membeli sarapan Bubur Pedas. Saya pun minta dibungkuskan. 

"Bu Ayuk, mau sarapan di mana?" tanya saya ke Bu Ayuk

"Ke Pojok Berkah, Pak. Mau sarapan Bubur Pedas sama Bu Eti." jawab Bu Ayuk.

"Jangan lupa bungkusin buat saya ya, Bu. Saya belum pernah nyobain Bubur Pedas." kata saya beralasan

"Oke siap, Pak." kata Bu Ayuk yang sudah siap-siap berangkat.

Bu Ayuk dan Bu Eti pergi bersama ibu-ibu yang lain untuk pergi sarapan Bubur Pedas di Pojok Berkah.

Kira-kira setengah jam kemudian, sampailah pesanan saya yang masih dibungkus plastik lengkap dengan berbagai macam atributnya. Tak lupa juga saya diberikan mangkuk yang dibawa dari dapur kantor. 

"Ini, Pak, Bubur Pedasnya." kata Bu Ayuk sambil memberikan bungkusan dan meletakkan mangkuk di meja saya.

"Berapa, Bu Ayuk?" 

"Ndak usah, Pak. Ini dari Bu Eti." kata bu Ayuk dengan logat Pontianak.

"Oh, gitu. Makasih ya, Bu."

"Same-same," ini juga bahasa Pontianak ya bukan bahasa Inggris.

Saya segera menuangkan Bubur Pedas dari dalam bungkusan plastik ke dalam mangkuk. Setelah itu saya beri taburan ikan teri kecil-kecil dan kacang tanah yang digoreng. Ada juga atribut lainnya, yaitu kecap manis, sambel dan jeruk kecil yang asam. Tapi saya nggak menambahkan tiga atribut itu. Saya ingin merasakan rasa Bubur Pedas yang asli. Bila kita ingin menambahkan rasa manis, pedas atau asam, silakan saja tambahkan ketiga pelengkap tersebut.

Ceeerrrrrrr .....

Bubur Pedas pun berpindah dari bungkusan plastik ke dalam mangkuk. Hm .... aroma wangi langsung tercium menusuk-nusuk indera penciumanku ... Sebuah sensasi wangi yang tak biasa. Aroma yang belum pernah kucium sebelumnya. Aroma apakah ini? Itulah salah satu ciri khas dari Bubur Pedas adalah aroma wanginya yang tak biasa. Kata teman di kantor, aroma itu berasal dari daun kesum. Seperti apa daunnya, saya juga nggak tahu.

Sebelum saya makan buburnya, saya coba perhatikan dulu apa saja daftar isi dari semangkuk Bubur Pedas ini? Dari keseluruhan bubur ini didominasi oleh warna keruh. Kemudian nampak satu persatu yang menjadi isi yang telah bercampur menjadi satu, yaitu ada sayuran yang berwarna hijau, seperti daun kangkung atau bayam, kemudian ada wortel dan juga jagung. 

Bagaimana dengan rasanya? 

Selain aromanya yang wangi, rasanya sedikit aneh. Mungkin karena saya baru pertama kali makan Bubur Pedas ini. Maklumlah peralihan dan penyesuaian lidah terhadap makanan baru. Walaupun namanya Bubur Pedas, tapi rasanya nggak pedas sama sekali. Kita bisa menambahkan sambel bila ingin rasa pedas. Secara keseluruhan rasanya segar. Bagi orang yang sedang ngantuk, bila makan Bubur Pedas rasa kantuknya akan langsung hilang. Seperti halnya Bubur Manado, bubur ini juga menyehatkan karena terdiri dari sayur-sayuran dengan aroma rempah yang kuat.

Menurut saya, semangkuk Bubur Pedas ini seperti banyak sekali. Perlu waktu agak lama untuk menghabiskannya. Hm .... sungguh pengalaman yang seru, menikmati makanan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Terimakasih buat Bu Eti dan Bu Ayuk yang sudah membelikan saya Bubur Pedas.

Buat teman-teman yang datang ke Pontianak, jangan lupa untuk mencicipi Bubur Pedas yang nama aslinya adalah Bubor Paddas. Makanan ini merupakan makanan khas Sambas yang banyak dijual di kota Pontianak ini.

Sekian dulu cerita saya tentang kuliner lokal, semoga bermanfaat. 

Tetap sehat dan tetap semangat ya .....

Bubur Pedas Pa' Ngah di Jl. Pangeran Natakusuma

Pontianak, 25 Juni 2014
ditulis oleh : Guntur Sumitro     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By