Breaking News

Senin, 14 April 2014

FILM SEPATU DAHLAN

Bingung, mau ke mana mengisi Minggu sore di kota Pontianak. Akhirnya aku dan istriku memutuskan untuk pergi ke A. Yani Mega Mall di jalan Ahmad Yani, Pontianak. Kami ingin nonton film Sepatu Dahlan yang sudah mulai diputar secara nasional sejak 10 April yang lalu.  
Ketika tiba di Studio XXI waktu sudah menunjukkan pukul 18.45 Wib. Aku langsung menuju tempat penjualan tiket. Kami datang agak terlambat, ternyata jadwal main film Sepatu Dahlan adalah pukul 18.45 Wib. Aku memutuskan untuk beli tiket dan langsung menuju studio 2. Biarlah terlambat sedikit nggak apa-apa. Saat kami masuk, film baru saja dimulai, yaitu adegan ketika Ayah Dahlan melihat tiga angka merah di raport Dahlan. Memang Dahlan dinyatakan lulus dari Sekolah Rakyat, namun ia gagal mewujudkan impiannya untuk masuk ke SMP Negeri di Magetan.   
Akhirnya Ayah Dahlan memasukkan Dahlan ke Pesantren Takeran. Satu impian Dahlan kandas, namun ia masih punya dua mimpi lagi, yaitu mempunyai sepatu dan sepeda. Dahlan berprinsip bahwa bagi orang miskin, hidup itu harus dijalani apa adanya. Dahlan tetap semangat untuk bersekolah meskipun ia harus menempuh jarak puluhan kilometer dengan bertelanjang kaki.

Dalam film tersebut dikisahkan pula bahwa orangtua Dahlan harus mengatur keuangan untuk membiayai kedua kakak perempuan Dahlan yang sedang kuliah di Madiun. Mereka tak bisa membelikan Sepatu untuk Dahlan karena tak punya cukup uang. 

Di Pesantren Takeran Dahlan bergabung dengan Tim Bola Voli MTs Takeran. Keinginan Dahlan untuk memiliki sepatu semakin besar. Ibu Dahlan sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Sementara ayah dan ibunya pergi ke rumah sakit, Dahlan hanya tinggal berdua dengan adiknya. Ayahnya tak meninggalkan uang dan persediaan makanan juga sudah habis. 
Itulah kehidupan masa kecil Dahlan. Di tengah keterbatasan ia tetap berjuang untuk bisa menjadi kebanggaan kedua orangtuanya. Kemiskinan memang bukan untuk diratapi tetapi kemiskinan harus dihadapi dan dilalui agar segera bangkit dari kemiskinan itu sendiri. 

Jalan cerita antara film Sepatu Dahlan dengan cerita dalam novelnya memang tak jauh berbeda. Bagi penonton yang telah membaca novelnya, jangan berharap apa yang dibaca dalam novel bisa sesuai dengan yang ada di film. Itulah perbedaan antara membaca novel dan menonton film. Imajinasi kita lebih luas dengan cerita yang digambarkan dalam novelnya. Sementara bila kita melihat filmnya, ya itulah hasil kreasi dari sutradaranya dalam menerjemahkan cerita dari novel.

Pontianak, 15 April 2014.
Ditulis oleh : Guntur Sumitro



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By