Breaking News

Minggu, 06 April 2014

FANTASTIC FOUR

Banyak orang-orang yang kurang tepat -kalo nggak boleh dibilang salah- dalam memaknai atau merayakan hari kelahiran atau yang biasa kita kenal dengan istilah ulang tahun.

Kok, tulisan kali ini membahas tentang Ulang Tahun? jawabannya adalah karena kemarin penulis baru saja berulang tahun atau istilahnya merayakan ulang tahun.

Sebagian besar dari kita, merayakan ulang tahun dengan berpesta, makan-makan, senang-senang dan hura-hura. Emangnya salah? Ya, nggak sih, siapa yang bilang salah. Boleh-boleh aja perayaan ulang tahun ditandai dengan syukuran potong tumpeng, acara tiup lilin dan ngajak teman-teman makan-makan di restoran mewah atau jajan di emperan kaki lima. Selama masih dalam batas yang wajar, hal itu sah-sah saja.

Terus apa nih yang mau dibahas? O iya, saya bukan mau membahas mengenai pesta, hura-hura dan makannya, tetapi makna daripada ulang tahun itu sendiri.

Kemarin saya merayakan ulang tahun yang ke 44 tahun. Sebetulnya saya kaget juga waktu dikasih pesta sederhana kecil-kecilan oleh anak-anak saya di kantor, maksudnya anak buah. Karena teman-teman di kantor sudah merupakan bagian dari keluarga, makanya saya menyebutnya anak-anak.

Saya kaget melihat lilin yang ada di atas kue ulang tahun, angkanya adalah 44. Padahal saya merasa seperti masih 40 tahun. Coba kalo boleh pesan kuenya jangan dikasih lilin yang berbentuk angka. Memang agak merepotkan juga menyusun lilin kecil-kecil sebanyak empat puluh empat buah lilin. Belum lagi menyalakan dan meniupnya nanti.

Saya baru disadarkan bahwa usia saya adalah sejumlah angka yang ada di atas kue ulang tahun. Artinya sudah 44 tahun saya hadir di dunia yang fana ini. Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa 44 tahun yang lalu ada seorang perempuan sederhana yang mengantarkan saya untuk memasuki dunia ini. Dia lah ibu saya yang telah melahirkan saya ke alam dunia.

Ketika kemarin saya memperingati hari ulang tahun saya, mungkin ibu saya juga memperingati detik-detik kelahiran saya. Menurut cerita ibu saya, saya lahir jam 5 sore lewat proses kelahiran normal tanpa operasi cesar. Karena pada jaman itu belum musim yang namanya operasi cesar. Kalaupun ada, pasti biayanya juga mahal dan akhirnya saya tetap dilahirkan tanpa operasi. Alhamdulillaah, kata ibu, saya tidak merepotkan dan menyulitkan waktu dilahirkan. Masih bersyukur dan beruntungnya saya lahir di rumah sakit di Jalan Guntur daerah Setia Budi, Jakarta Selatan. Mungkin karena itulah maka bapak memberikan nama saya Guntur.

Kalo boleh memilih, saya lebih senang bisa merayakan ulang tahun bersama ibu saya. Berada di dekat ibu rasanya nyaman sekali walaupun badan saya sudah jauh lebih besar daripada badan ibu saya. Hal yang tidak bisa saya lakukan, karena saat ini saya bertugas di Pontianak sedangkan ibu saya tinggal di Depok. Tapi sehari sebelumnya saya sempat menengok ibu saya di Depok yang kondisinya sehat wal afiat. Ibu pasti ingat kalau besok anaknya berulang tahun karena ibu yang melahirkan anaknya.

Memang saya bukan satu-satunya anak ibu di dunia ini. Saya adalah anak keempat dari lima bersaudara. Artinya sebelum saya, ibu sudah tiga kali melahirkan. Dan setelah saya, masih sekali lagi melahirkan adik saya dua tahun setelah kelahiran saya. Meskipun demikian, ibu selalu hapal dan ingat tanggal kelahiran anak-anaknya bahkan proses atau detik-detik kelahiran kami semua.

Itulah makna ulang tahun sebenarnya. Dua orang sekaligus yang memperingati satu momen penting secara bersamaan dengan tanggal yang sama. Seorang ibu dan seorang anak yang memiliki ikatan batin yang kuat. Seorang ibu yang melahirkan dan seorang anak yang dilahirkan. Sungguh jasa seorang ibu luar biasa hebatnya, sesederhana apa pun dia. Ibu akan selalu berjuang dan berdoa untuk anaknya.

Terimakasih Ibu. Ingin rasanya setiap tahun saya merayakan ulang tahun bersama ini dengan cara yang biasa, dengan cara yang sederhana, tanpa nasi tumpeng, tanpa kue ulang tahun dan tanpa tiup lilin. Hanya sekedar berada di dekat ibu, untuk bisa memastikan bahwa ibu selalu baik-baik saja.

Ya Tuhanku, sayangilah dan bahagiakanlah ibuku sebagaimana dia menyayangi aku ketika masih kecil, bahkan sampai sekarang.

Terimakasih Ibu.







Pontianak, 4 April 2014
ditulis oleh : Guntur Sumitro

Hiks... terharu... thank you for opening my eyes with such a great notes.... (Rima Pusparani)

Terharu biru tur...... (Khristine Budiarti)

nmr cantik nih (Hendrik Parlindungan)

4 komentar:

  1. Selamat ulang tahun om, selamat merayakan blog dengan domain baru :D

    BalasHapus
  2. Terimakasih Bro Heru ucapannya

    BalasHapus
  3. Terimakasih Andre atas ucapannya. Terimakasih juga atas bantuan dan kerjasamanya

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By