Breaking News

Selasa, 11 Februari 2014

TOM YAM PAK LONG



Jam tangan 'G-Shock'-ku -yang kubeli di toko jam langganan Pak Kosasih- sudah menunjukkan pukul setengah dua belas lewat waktu Pontianak. Aku bingung, mau makan apa hari ini? Aku coba BBM ke Mas Tonny Ardhianto, selanjutnya kita sebut saja Mas Tony. Kali aja dia punya ide brillian.

"Siang ini mau ketik REG spasi apa, Bro?"

Aku pencet send, terkirimlah pesan ke BB Mas Tony.

Nggak lama kemudian BB-ku berbunyi.

"Klentuuung ... !!"

"TOM YAM, Bos."

"Oke."

Pak Widya Sananda, selanjutnya kita sebut Pak Nanda, tadi mengajakku makan siang, tapi kutolak secara halus. Untung saja nggak kutolak mentah-mentah. Alasannya, karena masih blank, nggak tahu mau makan apa dan di mana. Pak Nanda pamit keluar kantor, katanya ada keperluan.

"Ya udah, kalo nggak ada wisata kuliner, saya pergi sekarang," sambil pergi berlalu meninggalkanku. 

Setelah Mas Tony nawarin ide mau makan Tom Yam, langsung kutelpon Pak Nanda. Mudah-mudahan masih belum jauh.

"Pak Nanda, di mana?" 

"Saya lagi di jalan, Mas. Mau ke Bank Mandiri."

Aku tawarkan Pak Nanda ikut wisata kuliner ke Tom Yam sama Mas Tony. Pak Nanda pun bersedia dan dengan suka hati menerima tawaranku secara halus. Mau nggak mau, Pak Nanda balik lagi buat jemput Mas Tony di kantornya abis itu mereka berdua ke kantorku.  

Sesampainya di kantorku, kami langsung cabut menuju ke arah Jembatan Kapuas I. Hari ini kami akan berwisata kuliner ke TOM YAM PAK LONG. Tempatnya bukan di Jembatan Kapuas apalagi di kolong Jembatan, tapi di dekat Jembatan Kapuas I sekitar perempatan jalan Tanjung Pura dan jalan Imam Bonjol. Tepatnya masuk ke Gg. H. Mursid I, kira-kira seratus meteran lah dari mulut gang menuju ke TKP.

Rumah makannya terlihat biasa dan sangat sederhana. Setiap hari tempat ini selalu ramai dikunjungi para pelanggan setia. Bukan setia sama Pak Long tentunya tapi setia sama masakannya Pak Long. Masakan Pak Long emang bikin mereka tergila-gila.

Tiba di lokasi, kami cari tempat parkir mobil yang memang agak susah karena penuh. Setelah memilih tempat duduk yang nyaman, kami memesan makanan kepada seorang karyawan. Pak Nanda dan Mas Tony memesan Tom Yam dan aku memesan Nasi Goreng. 

Setelah selesai pesan makanan, aku tanya sama Si Mbak Karyawan. Kita panggil aja dia, Mbak Ling

"Mbak, Pak Long itu yang mana sih?" tanyaku sama Mbak Ling.

"Itu dia, Pak," jawab Mbak Ling sambil menunjuk lelaki tua berbaju merah yang badannya kurus dan rambutnya berwarna putih.

"Saya bisa minta foto sama dia, nggak Mbak?" tanyaku lagi.

"Bisa, Pak. Nanti saya bilang Pak Long, ya."

"Terimakasih, Mbak."

"Sama-sama, Pak."

Dari meja kami, nampak Pak Long dan Mbak Ling sedang bercakap-cakap. Apa yang mereka bicarakan kami nggak tahu. Mbak Ling menunjuk ke arah kami. Mungkin saja dia sedang menyampaikan pesan kami tadi.

Tak lama kemudian, Pak Long berjalan ke arah kami. Pak Long menarik kursi, lalu duduk satu meja bersama kami. Pak Long mengulurkan tangan menyalamiku, Pak Nanda dan Mas Tony. 

Aku bilang mau minta foto sama Pak Long. Dengan ekspresi wajah datar, Pak Long bersiap-siap untuk berfoto. Kami pun terlibat dalam obrolan seru seputar usaha kulinernya.

Ngobrol bersama Pak Long

Pak Long mengisahkan bahwa warung ini beliau rintis pada tahun 1998 ketika beliau pensiun. Pak Long adalah pensiunan polisi. Jabatan terakhirnya yaitu sebagai Kapolsek Batu Ampar. Usaha kuliner ini memang sudah dipersiapkan dan sudah diniatkan sejak beliau masih aktif menjadi polisi. Pak Long memang mempunyai hobby memasak. Beliau pernah ikut lomba masak ketika masih aktif di kepolisian. Diantara lomba masak nasi goreng. Pak Long sering keluar sebagai juara pertama. Setelah itu menjadi juri dalam acara lomba masak, karena beliau sudah nggak boleh ikut lagi karena saking seringnya jadi juara.

Mengenai menu masakan Thailand, Pak Long menceritakan bahwa anaknya yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia mempunyai kakak ipar yang buka usaha kuliner. Menu yang ditawarkan adalah masakan Thailand. Maka Pak Long belajar dengan kakak ipar dari anaknya itu. Karena semangat juang yang keras, Pak Long bisa menguasai cara membuat makanan Thailand itu. Akhirnya Pak Long membuka usaha kuliner dengan nama TOM YAM PAK LONG.

Pak Mas'udi Husin alias Pak Long

"Kenapa nama warungnya TOM YAM PAK LONG?" tanyaku penasaran

"Long itu bukan nama saya. Nama saya adalah Mas'udi Husin. Long berasal dari kata Sulung dalam bahasa melayu yang artinya anak pertama. Karena logat Melayu, jadi nyebutnya Sulong. Orang Melayu atau Pontianak biasa memanggil dengan sebutan Pak Along atau Pak Long yang artinya anak sulung, anak pertama atau anak tertua."

Kartu anggota saat masih aktif

Aku baru tahu kalo Long itu ternyata bukan diambil dari bahasa Inggris yang artinya panjang, tetapi dari bahasa Melayu yang mempunyai arti anak pertama.

Sejak saat itulah warungnya selalu ramai dikunjungi para pencinta kuliner sampai saat ini. Jadi nama PAK LONG benar-benar membawa hoky buat usaha kulinernya ini. Usahanya bisa bertahan sampai sekarang alias panjang umur seperti kata LONG dalam bahasa Inggris.

Pesanan kami sudah datang. Pesananku nasi goreng biasa. Biasa aja sudah enak apalagi yang luar biasa alias spesial. Sebelum makan kita berdoa dulu dan tak lupa sebelum makan, makananya difoto dulu supaya yang baca tulisan ini jadi kepengen. Oh iya, berhubung aku nggak pesan Nasi Goreng Pattaya, maka pesanan orang aku foto dengan meminta ijin dulu sebelumnya.

Pak Long kemudian pamit sambil mempersilakan kami menikmati sajian khas warungnya ini.

Coba lihat foto-fotonya, asyik kan? 

 Tom Yam

 Nasi Goreng Pattaya

 Mas Tony menikmati Tom Yam

Pak Nanda dan Tom Yam

ditulis oleh : Guntur Sumitro

3 komentar:

  1. mau dong om ditraktir makan disini :D
    enak kayanya itu -__-

    andre.web.id

    BalasHapus
  2. Kayaknya ada info yang ketinggalan Bang yaitu lokasi wisata kuliner ini berada. Mungkin bisa ditambahkan karena saya bingung kalau mau mencicipi tom yam ini harus kemana? Trims...

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By