Breaking News

Minggu, 23 Februari 2014

NASIB BULOK

Oleh : Pakabu

Pagi ini aku malas keluar rumah, mau olahraga ke GOR juga malas. Teman nggak ada yang ngeping alias nggak ada yang ngajak untuk lari-lari kecil di stadion. Walhasil jadi nggak wiskul bubur ayam yang biasa aku nikmatin setiap hari Minngu pagi. 

Perut rasanya lapar. Karena malas keluar rumah, akhirnya kembali ke selera asal. Maksudnya asal nggak kelaparan. Ya maklumlah nasib bulok alias bujangan lokal. Jadi apa-apa harus dikerjakan sendiri. Masak-masak sendiri, makan-makan sendiri, cuci baju sendiri, setrika juga sendiri. Maklum lah pembantu mudik dan nggak pernah kembali lagi, bagaikan ditelan bumi.

Kembali ke selera asal tadi. Akhirnya pagi ini aku sarapan Mie Aceh, tapi bukan Mie Aceh yang asli. Jadi yang aku makan pagi ini adalah Mie Aceh KW 10 yaitu Mie Goreng Instan buatan sendiri. Untung masih ada mie instan di dapur dan masih ada telor di kulkas. Telornya dibikin omlet supaya keliatan keren dikit padahal sih didadar pake daun bawang dikasih garam dan merica bubuk. Lumayan lah, cara masak telornya niru adegan kaya di hotel-hotel gitu, tapi hasilnya nggak mirip sama sekali. Kalo baunya sih udah mirip kayak bau telor goreng.

This is it, ini dia Mie Aceh KW 10 ala Pakabu yang rasanya sangat jauh dari Mie Aceh yang sebenarnya. Sama sekali nggak mirip dengan Mie Aceh yang sering aku beli di Warung Mie Aceh langgananku. Tapi kita harus selalu bersyukur, paling tidak bisa meredakan demo para cacing-cacing di perut yang menuntut perbaikan gizi. Mereka juga nggak bisa bedakan kok mana Mie Aceh yang asli dan Mie Aceh yang kawe-kawean. Namanya juga cacing.

Tak terasa hari begitu cepat berjalan, siang pun datang begitu cepat. Dinding perutku ada yang menggedor-gedor dari dalam. Rupanya mereka kembali berdemo. Sialan nih cacing, cepet banget sih laparnya. Pake aksi protes segala.

Karena persediaan makanan di rumah sudah habis, akhirnya terpaksa aku keluar rumah buat cari makan. Kira-kira makan apa ya yang enak. Aha, timbul ide di kepalaku dan terlihat gambar bohlam 5 watt. Terinspirasi dari status fesbukku, aku putuskan untuk makan siang dengan sayur asem. 

Database di otakku langsung loading. Aku pun memacu mobilku untuk mencari tempat makan yang keren. Sampailah aku di depan Restoran Bumbu Dusun. Letaknya bersebelahan dengan Hotel Orchid di Jalan Pratama, nggak jauh dari Mol. Wah asyik juga nih, sudah lama banget aku nggak makan di restoran ini. Terakhir makan di sini waktu ditraktir sama teman. Maksudnya kalo bayar sendiri, bisa dibilang nggak pernah.

Mobil aku parkir persis di depan pintu masuk restoran ini. Begitu mau masuk restoran ini, pintu sudah dibukakan sama pegawai yang khusus membukakan pintu. Sambil tersenyum membalas senyum si penjaga pintu restoran, aku pun pura-pura menanyakan sesuatu. 

"Di sini ada rokok nggak Mas?" tanyaku kepada si penjaga pintu.

"Nggak ada, Pak," jawabnya ramah.

"Oh, gitu ya. Kalo gitu saya ke warung sebentar, mau beli rokok."

"Oh, silakan, Pak."

Akhirnya aku pergi ke warung persis di seberang pintu masuk restoran Bumbu Dusun. Bukannya untuk beli rokok tapi ya makan siang dengan menu sayur asem dan ikan asin. Nasinya juga ngambil sendiri. Aha, ini baru bener-bener Bumbu Dusun, bukannya restoran tapi ala warung pinggir jalan. Rasanya nggak jauh beda dengan yang di restoran. Di mana-mana sayur asem itu ya rasanya asem. Di mana-mana yang namanya ikan asin pasti rasanya asin, nggak mungkin manis. Kalo rasanya manis, itu namanya dendeng, ha ha ha .....

Setelah mengambil nasi, sayur asem, tempe goreng dan ikan asin, aku cari tempat duduk untuk menikmati makan siang mewah hari ini. Si Mbak pelayan mendekatiku, lalu bertanya.

"Minumnya apa, Pak?"

"Maaf, Mbak, saya bawa minuman sendiri dari rumah. Boleh kan, Mbak?"

"Oh, iya Pak. Boleh." mungkin dalam hatinya bilang, "Pelit amat sih, Bapak ini."

Untung saja di warung ini nggak ada tulisan yang bernada larangan.

"MAAF, DILARANG MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI RUMAH"

Coba kalo ada tulisan itu, mau nggak mau aku harus pesan minuman, yah paling-paling pesan aja Air Mineral Gelas tapi gelasnya bawa dari rumah. Kan nggak ada larangan bawa piring dan gelas dari rumah, he he ngeles aja.

Setelah selesai makan, aku sempatkan untuk update status BB. Aku tulis : "Bumbu Dusun." Kemudian aku bayar ke Si Mbak penjaga warung, masa penjaga gawang sih, emangnya dia kiper. Xi xi xi ....

Alhamdulillah, akhirnya perut kenyang. Dan aku kembali ke parkiran mobil di depan Restoran Bumbu Dusun. Si Penjaga pintu bengong aja, lihat aku nggak jadi masuk dan makan di restoran itu. Dia menghampiri aku dan bertanya.

"Sudah dapat rokoknya, Pak?"

"Oh, iya sudah, Mas. Rokoknya berhadiah sepiring nasi plus lauknya, Mas."

Si Mas Penjaga pintu restoran cuma bisa bengong aja.

Dalam hatiku berkata, "Makasih ya, Mas. Sudah mau dititipin mobil."

O iya teman-teman, untuk makan siang kali ini sengaja nggak aku foto ya. Nanti saja kalo ada yang traktir aku atau kalo ada tamu kantor dari Jakarta, aku ajak makan di sini. Nanti aku foto-foto yang banyak buat aku posting di sosial media dengan judul "Maksi @ Restoran Bumbu Dusun." Hm ... bener-bener, Maknyuss ....

Tetap sehat dan tetap bisa makan enak.

Keterangan :
BULOK = Bujangan Lokal
Cerita ini fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tempat itu hanya kebetulan saja, maksudnya kebetulan mirip.

Pontianak, 23 Februari 2014.





7 komentar:

  1. sekarang udah ganti yang jalan di belakang mol? hehe..
    btw,ide yang kreatif mas, tapi di halaman restorannya pakai bayar parkir nggak ya??? #gakmaubayarparkir

    BalasHapus
  2. wihihi saya kira beneran tadi om...
    ternyata oh ternyata fiktif belaka...

    BalasHapus
  3. gmna mau ngeping mas blm aja add pin ne :D blh la klo mau ngjk2 mkn dripda sndrian bgs be 2 an :v

    BalasHapus
  4. Makan di warung seberang Restoran Bumbu Desa-nya beneran kok, sambil berkhayal kapan ya makan di tempat itu lagi, muncul deh ide membuat tulisan di atas, semoga bisa menghibur paling tidak bisa bikin pembaca tersenyum

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By