Breaking News

Senin, 27 Januari 2014

AYO KE SINGKAWANG

Oleh : Guntur Sumitro

Klentuuung ... !!

BB gue berbunyi nyaring. Itu tandanya ada pesan masuk. Oh, dari Fendy.

F :  Bangun boz dah siang
      Nanti jadi gak berburu lelongnya?


G : Iya jadi, Tony gimana?

F :  ikut dia
      janjian di mana n jam brapa?

G : Kata pa nanda, jam 9 di ktr ya, gmn?

F : Oke boz

G : Siiiip, semangat semangat buat para Pejabat Lelong

F :  He he ... semangat buat Pejabat Lelong yg bulok.


Hari ini, gue sama Fendy mau berburu lelong ke Jeruju. Kita nggak tahu tempatnya, jadi kita ajak Tony buat nganterin dan nemenin kita ke sana. Pak Nanda juga katanya mau ikut. Jum'at sore kemaren sebelum pulang, kita sepakat ketemu di kantor jam sembilan pagi.

Sambil manasin mobil di depan rumah, gue manasin bubur kacang ijo di dapur. Lumayanlah bisa buat sarapan pake roti tawar. Kreatif sekaligus hemat. Kata teman gue, jadi 'BULOK' alias 'Bujang Lokal' itu harus proaktif, kreatif dan inovatif. Termasuk menyediakan dan menyiapkan sarapan pagi untuk diri sendiri supaya nggak bosen dan nggak ngebosenin. Biar gak tergantung sama warung. Harus ada variasi menu. Jadi gak selalu makan mie instan setiap hari.

Alhamdulillaah, mobilnya sudah panas dan buburnya juga sudah mendidih. Sekarang tinggal ngademin badan alias mandi.  

Abis sarapan 'Burjo' spesial bikinan sendiri yang rasanya so pasti enak banget, gue langsung cabut ninggalin rumah dan ninggalin sepanci gede bubur kacang ijo yang masih asyik nangkring di atas kompor gas satu tungku. Emang salah gue juga sih, bikinnya banyak banget. Maklumlah bulok, kalo masak nggak dikira-kira. Ini adalah pengalaman pertama gue bikin bubur kacang ijo. Masak sendiri dan makan sendiri.

Burjo Paqabu

Jam sembilan kurang, gue udah sampe kantor. Gue tanya satpam, ternyata belum ada yang dateng. Jadi gue yang dateng pertama. Ya udah gue tunggu aja deh. Baru aja bokong gue menyentuh jok sofa di ruang tunggu, muncul deh Fendy pake kaos warna ijo lumut dengan gambar pulau kalimantan dan tulisannya Borneo. Kayaknya beli di PSP, pusat oleh-oleh  di Jalan Patimura. Setelah itu Tony nongol pake baju warna biru gelap pas banget sama warna kulitnya yang juga gelap. Gimana kalo mati lampu ya? He he he ... 

Udah jam sembilan lewat, Pak Nanda belum kelihatan batang hidungnya alias belum datang dan gak ada tanda-tanda mau datang. Ditelpon gak diangkat, di sms gak dibalas, di bbm gak bisa karena cuma ada PIN nya aja tapi BB-nya belum ada. Kami pun panik, bingung dan bertanya-tanya. Ada apa dengan Nanda? persis film-nya Dian Sastro sama Nicholas Saputra.

Daripada menduga-duga, akhirnya kami putuskan untuk pergi ke kosnya Pak Nanda. Dari info seorang teman yang enggan disebutkan nama lengkapnya, tapi kalo nama samarannya sih boleh. Tak lain dan tak bukan, dia adalah Bibing. Orangnya ramah, baik hati dan tidak sombong. Selain itu, dia juga rajin pergi ke Bang untuk menabung. Bibing telah menginspirasi Tante Titiek Puspa menciptakan lagu yang liriknya begini : 

Bing bing bang yok, kita ke Bang
Bang bing bung yok, kita nabung
Tang ting tung Hey jangan dihitung
Tahu-tahu kita nanti dapat untung

Setelah memakan waktu tempuh sekitar dua menit dan lima belas detik, perjalanan dengan kode perjalanan KB1601QB itu, akhirnya tiba di tempat kosnya Pak Nanda. Tidak ada perbedaan waktu antara kantor dan tempat kos.

Pas sampe tempat kos Pak Nanda, gue nggak tahu kamarnya.Tapi jelas bukan yang di bawah. Fendy dan Tony nunggu di bawah, gue naik ke lantai dua.

"Nah lo, kamarnya yang mana nih?" pikir gue. Gue ketok pintu semua kamar satu per satu. Ada pepatah mengatakan, "Jika semua pintu tertutup, niscaya ada satu pintu yang akan terbuka". Jadi kita jangan menyerah dan nggak boleh putus asa. Pepatah itu ternyata ada benarnya juga. Akhirnya, sebuah pintu pun terbuka. Bukan pintu maaf apalagi pintu tobat, melainkan pintu kamar Pak Nanda.   

Setelah kami terlibat dalam obrolan yang cukup panjang dan melelahkan, maka diputuskan bahwa kita sepakat untuk berburu lelong ke Jeruju. Ketika hendak ke mobil, Pak Nanda balik ke kos buat ngambil topi sedangkan gue, Fendy dan Tony nunggu di mobil. Pas nunggu itulah tercetus ide untuk jalan-jalan ke Singkawang setelah dari Jeruju. Adapun tujuan ke Singkawang yaitu dalam rangka Studi Banding Lelong. Pak Nanda pun setuju dengan ide tersebut. 

Pas saat di jalan, Fendy dan Tony pengen mampir ke rumah gue dulu di Gg. Nursalim di samping Masjid Nursalim Jalan Gusti Hamzah, yang lebih dikenal dengan Jalan Pancasila. Kebetulan nih, gue bisa nyiapin baju ganti buat nginep di Singkawang. Sekalian juga mereka bisa nyicipin bubur kacang ijo bikinan gue. Maksudnya bantu ngabisin.

Pas sampe rumah, gue minta mereka langsung ke dapur, ngambil jatah bubur kacang ijo. Pancinya masih nongkrong di kompor. Setelah bubur kacang ijonya sudah dimakan baru gue bilang kalo pas ngerendemnya kelamaan, sehingga kacang ijonya sudah mulai keluar akar dan nyaris jadi toge. Kalo kelamaan bisa jadi toge rawon. Kalo lebih lama lagi bisa buat bikin ketoprak atau bakwan. Waduh jadi kangen ketoprak sama  bakwan. Adakah mereka juga kangen sama gue ya? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Untuk menghalau rasa kangen itu, makanya cepat-cepat kita menuju Jeruju buat berburu lelong. Supaya lupa, nggak inget-inget terus sama ketoprak dan bakwan. Setelah beberapa waktu berlalu, mobil yang dikemudikan oleh Mas Sotem bernama 'Tenggo Oscar November Yengki' ini akhirnya sampai di Jalan Komyos Sudarso dan mendarat persis di dekat kios lelong.

Perburuan pun dimulai. Eng ... Ing ... Eng ..... !!




Setelah pindah-pindah tempat dan capek ngacak-ngacak, namun nggak satu pun barang yang cocok. Pak Nanda sempat juga naksir sama sebuah kemeja garis-garis warna kalem. Tony  juga sudah megang-megang kemeja biru jangkis, cuma pas ditawar-tawar hargaya nggak turun juga. Sudah lah kalo begitu apa boleh buat dan kita nggak bisa berbuat apa-apa. Manusia hanya bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Pembeli hanya bisa menawar tapi pedagang lelong lah yang menetapkan harganya.

Kita berempat yang tergabung dalam Tim Pemburu Lelong Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Mulai Tua) ini memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Siantan untuk menikmati minuman segar yaitu Es Lidah Buaya. Akhirnya pesawat take off dari Jeruju dan landing di Siantan. Lagi-lagi nggak ada perbedaan waktu antara Jeruju dan Siantan.

Di warung yang terletak di Jalan Budi Utomo ini, kita pesan tiga gelas Es Lidah Buaya dan sebuah kelapa muda yang tentunya tanpa Es Lilin. Karena Es Lilin Kalapa Muda mah adanya di Jawa Barat.

Abis nikmatin segernya Es Lidah Buaya dan Kelapa muda, kami lanjutin perjalanan ke Singkawang. Di tengah perjalanan kami mampir di Pondok Pengkang Bakar buat nyicipin Pengkang Bakar. Makanan ini sekilas mirip sama lemper. Terbuat dari beras ketan putih dibungkus pake daun pisang. Bentuknya segitiga, tapi nggak kaya kue lupis. Bedanya, kalo lemper isi ayam atau abon sedangkan pengkang isinya adalah udang ebi. Sebelum disajikan pengkangnya dibakar dulu. Makannya dicocol sambel kepah atau sambal kerang. Rasanya jangan ditanya, lezat dan gurih luar biasa.

Pengkang Bakar dan Sambel Kepah

Setelah selesai makan, terus sholat Djuhur di Mushola dan lanjutin perjalanan.

Ditengah perjalanan, semua penumpang termasuk 'Shot Driver' alias SOTEM (Sopir Tembak) terserang penyakit menular. Penyakit ini menyerang bagian mata, tapi bukan mata kaki dan juga bukan mata pencaharian, melainkan mata di bagian wajah. Sampai sekarang jenis penyakit ini belum ditemukan obatnya. Ada sih obatnya, tapi bukan obat kimia ataupun obat herbal. Kita nggak perlu resep dokter. Nggak usah ditebus di apotik atau toko obat. Obatnya terdiri dari 5 huruf, yaitu T-I-D-U-R. Sungguh sangat praktis bukan? Penyakit ini dinamakan NGANTUK. Kalo dalam bahasa Inggrisnya adalah SLEEPY. Jadilah tiga orang penumpang pada tidur semuanya. Mas Sotem nggak bisa tidur karena harus mengendarai mobil supaya baik jalannya. Dia bisanya cuma NGE-DUMEL alias NGE-GERENDENG. Ini adalah penyakit turunan dari ngantuk tapi nggak bisa tidur. Dan dia cuma bisa berkata dalam hati, "Duh gusti, beginilah nasib jadi Sopir Tembak."

Perjalanan terus berlanjut. Sotem mengantarkan kami memasuki pintu gerbang Pantai Pasir Panjang. Pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 15.000/orang.

Untuk ukuran akhir pekan seperti hari ini, pengunjung pantai nggak begitu banyak. Masih bisa dihitung pake jari tangan dan jari kaki kami berempat digabungin. Mungkin ramenya kalo hari Minggu pagi, Pasir putih terlihat menghampar di sepanjang pantai. memanjang. Terlihat beberapa remaja tengah asyik bercengkerama bermain ombak. Dua pasang muda-mudi terlihat sedang asyik mengambil gambar. Kami menggunakan kesempatan ini untuk minta tolong diambilkan gambar.      

Sesaat kemudian kami melaksanakan sholat ashar di musholla. Setelah itu kami menantikan saat-saat matahari tenggelam ditelan cakrawala.

Pantai Pasir Panjang - Singkawang

Dengan tenggelamnya matahari di garis cakrawala maka berakhir pula kunjungan kami di Pantai Pasir Panjang. Kemudian kami menuju rumah Pak Sujarwo yang sebelumnya telah kami beritahu bahwa kami sudah berada di Singkawang sebentar lagi meluncur ke rumah dinas beliau.

Sesampainya di rumah Pak Jarwo, kami melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di musholla kantor di depan rumah Pak Jarwo. Setelah istirahat sebentar, kami bersiap-siap pergi ke Pasar Hongkong untuk membeli kaos, celana dalam, handuk kecil dan sikat gigi. Suasana Pasar Hongkong sangat ramai, maklumlah karena menjelang Hari Raya Imlek. Gue nggak tahu kenapa dinamakan Pasar Hongkong. Apakah para pedagangnya berasal dari sono, atau mungkin barang dagangannya dari Hongkong, bisa jadi karena suasananya mirip seperti di Hongkong? Yang jelas gue nggak tahu karena gue belum pernah pergi ke Hongkong. Jangan-jangan di Hongkong juga ada Pasar Singkawang. Meneketehe .....

Setelah selesai berbelanja di Pasar Hongkong, kami kembali ke rumah Pak Jarwo. Tibalah saatnya buat mandi. Sebelum mandi gue membagikan handuk kecil, jatah celana dalam dan sikat gigi. Mandinya pun gantian, jadi kami harus rela ngantri sambil makan Kuaci Hongkong yang dibeli Pak Jarwo di Pasar Hongkong.  Setelah mandi, acara berikutnya adalah makan malam dengan menu spesial malam ini adalah Nasi Padang dengan lauk yaitu ayam goreng. Sorry ya, gue makan dulu, hm .... enaaaak ... !!

Makan Nasi Padang

Mandi sudah, makan juga sudah. Sekarang saatnya kita jalan-jalan ke pusat Kota Singkawang untuk mejeng alias foto-foto di tengah kemeriahan suasana malam menyambut Tahun Baru Imlek 2565. Tujuan utama kita adalah Masjid Raya Kota Singkawang dan Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Pengen tahu hasilnya kaya apa? Lihat aja foto-foto di bawah ini, keren kan?

Masjid Raya Kota Singkawang

Vihara Tri  Dharma Bumi Raya

Gedung Kuno

Setelah capek bernarsis ria, kami pun pulang dan istirahat di rumah Pak Jarwo. Keesokan harinya, setelah sholat Subuh kami naik ke atap gedung kantor menanti munculnya mentar pagi. Namun berhubung langit tertutup awan sehingga kemunculan mentari tak begitu elok dipandang mata. Akhirnya jadilah kami kembali narsis dengan berfoto ria. Lihat aja, apaan tuh !!

Bergaya di atap gedung

Bintang Iklan Panasonic

Berhubung matahari tak jelas terlihat dan pesona langit pagi juga tak nampah indah, kami pun turun dari atap gedung dan kembali menyentuh tanah. Kami turun melalui tangga yang sudah disediakan tentunya, bukannya lompat dari atap gedung. Selanjutnya kita menuju Toko Kopi Nikmat untuk menikmati secangkir kopi yang nikmat dibalut dengan hangatnya kebersamaan dan persahabatan.  

Toko Kopi Nikmat

Roti Bakar dan Kopi Hitam

"Sekarang kita kemana nih?" tanya Mas Sotem.

Dan gue jawab, "Gimana kalo berburu lelong?" 

"Setuju ... !!" semua hadirin menjawab kompak kaya anggota DPR yang lagi sidang. 

Akhirnya Mas Jendra menjadi 'GAET' dan membawa kita menuju toko lelong di Jalan Gunung Bawang.

Dan perburuan lelong pun kembali dimulai, eng ing eeeeeeng ......... !!!  

Pejabat Pembeli Lelong

 Lelong di Jl. Gunung Bawang Gg. Pinang Merah

Vihara Chikung Ji Gong House of Help

Bersama Cici dan Koko

 Di Depan Rumah Pak Jarwo

Keraton Kesultanan Mempawah

Saatnya kita berpisah. Saatnya kita berpisah. Oh .... tidak !!
Begitulah suara Teletubbies mengingatkan kami untuk bersiap-siap kembali ke Pontianak. Sebelum berpisah kita foto-foto dulu di rumah Pak Jarwo. Dalam perjalanan ke Pontianak kita transit dulu ke Mempawah untuk mengunjungi Keraton Kesultanan Mempawah. Rencananya kita mau wiskul Soto Iga yang dekat Keraton, tapi sayang sayang seribu kali sayang, soto iganya sudah habis. Kita semua jadi kecewa. Memang katanya soto iga di Warung Bestari di depan Keraton Mempawah terkenal enak, makanya cepat habis karena banyak yang datang untuk menikmatinya. Oke deh wisata kulinernya dilanjut lain kali saja dalam acara dan perjalanan yang berbeda.

Sampai di sini dulu cerita perjalanan kami ke Kota Singkawang pada H min 6 dan H min 5 menjelang Imlek. Bye bye ..... 

Pontianak, 6 Februari 2014

6 komentar:

  1. Aaakhiirnyaaa... diajak juga..!!!!!

    BalasHapus
  2. Singkawang?
    Itu yang ada traksi Tatung-nya ya mas?
    Pengin sih ke sana pas ada atraksi itu. kayanya

    BalasHapus
  3. Tahun ini cap go meh jatuh pada hari Jum'at tgl 14 Februari. Iya atraksi Tatung biasanya pada perayaan Cap Go Meh itu.

    BalasHapus
  4. salam kenal pak... nyasar ke sini dari blognya mbak rima... blognya bagus... diksinya bapak menarik sekali, luwes (dan lucu, huehehe)

    tadi asline males komen tapi jadi gatel lihat foto pak fendy nampang di marih... brarti nama2 orang disini asli semua ya? hihihi...

    foto2nya pada bikin ngiler... sayang saya belum pernah kesana :(

    BalasHapus
  5. Salam kenal kembali Mbag Fauziah85. Terimakasih sudah mampir ke blog saya dan memberikan apresiasinya. Mudah2an suatu saat bisa jalan-jalan ke Singkawang ya

    BalasHapus
  6. Pak Kabu... Foto Sunset Pasir Panjangnya mannaahh...

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By