Breaking News

Jumat, 18 Oktober 2013

GADO-GADO BOPLO

Oleh : Guntur Sumitro

Kereta listrik Comuter Line tiba di Stasiun Gondangdia. Aku dan sebagian penumpang lain turun di sini. Aku ingin pulang ke Cirebon dengan Kereta Cirebon Express yang berangkat dari Stasiun Gambir. Karena Comuter Line tidak berhenti di Stasiun Gambir, maka aku harus turun di Stasiun Gondangdia.

Inilah perjalananku pulang dari Pontianak ke Cirebon. Jum'at sore, aku naik Lion Air dari Bandara Supadio, Pontinak menuju Jakarta. Pesawat Lion Air membawaku terbang dengan ketinggian tiga puluh tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Setelah pesawat melayang-layang di udara selama satu jam dua puluh menit, akhirnya Lion Air mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng Banten. Tidak ada perbedaan waktu antara Pontianak dan Jakarta.

Dari Soekarno Hatta perjalanan aku lanjutkan dengan Bis Damri menuju Pasar Minggu. Bis Damri merayap membelah kota Jakarta yang macetnya sungguh luar biasa. Tapi kata orang Jakarta, macet semacam ini sungguh sudah biasa. Kemacetan di Jakarta sudah menjadi cerita sehari-hari. Betapa beruntungnya aku sekarang bertugas di Pontianak, sehingga tidak mengalami kemacetan seperti ini. Berangkat dan pulang kerja bisa santai. Dari rumah ke kantor cuma lima belas menit. Akhirnya Bis Damri sampai di Pasar Minggu. Meskipun hari Jum'at namun Pasar Minggu tetap ramai. Dari Pasar Minggu aku naik Ojek ke rumah ibuku di Kalimulya, Depok. Naik ojek atau naik taksi ongkosnya sama-sama 50 ribu. Naik ojek bisa lebih cepat sampai rumah. Arus kendaraan di jalan Lenteng Agung dan di jalan Margonda Raya juga setali tiga uang dengan arus kendaraan di Jakarta.

Tiba di rumah, aku bertemu dengan ibuku. Beberapa waktu yang lalu aku mendapat kabar bahwa ibuku sedang sakit. Syukurlah, kini ibuku sudah sehat kembali. Katanya sudah berobat ke dokter diantar oleh kakakku. Aku juga bertemu dengan kakakku dan dua keponakanku, Anggie dan Bella. Aku bermalam di rumah ibuku dan besok aku akan melanjutkan perjalanan pulang ke Cirebon naik kereta Cirebon Ekspress dari Stasiun Gambir.    
     
Sekarang kita kembali ke Stasiun Gondangdia. Stasiun Gondangdia siang ini terlihat sangat ramai. Para penumpang mengantri untuk membeli tiket kereta di lantai 2. Sebagian penumpang naik ke peron di lantai 3 dan sebagian lagi turun ke lantai dasar untuk melanjutkan perjalanan sesuai tujuan masing-masing. Aku turun menggunakan eskalator. Belum tiba di lantai dasar aku sudah disambut teriakan pasukan tukang ojek yang menawarkan jasanya.

"Ojek Pak" kata seorang tukang ojek.

"Nggak, Pak." Jawabku singkat.

Begitu seterusnya setiap aku melewati barisan tukang ojek, aku tolak sambil melempar senyum ala kadarnya.

Akhirnya aku keluar stasiun dari pintu barat. Aku berjalan menyusuri jalan dengan suhu udara yang terasa panas. Mataku melirik ke pergelangan tangan kiriku. G-Shock yang kubeli di Pasar Nusa Indah, Pontianak  baru menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Rasanya masih sempat untuk jalan-jalan dulu sebelum ke stasiun Gambir. Aku berhenti di depan sebuah toko kelontong. Aku bertanya kepada seorang ibu penjaga toko. 

"Permisi, Bu. Gado-gado Boplo yang dulu di daerah sini masih ada ya, Bu?"

"Oh, sudah lama pindah, Mas."

"Pindah ke mana, Bu?"

"Di jalan Gereja Theresia, dekat pom bensin"

"Jauh nggak, Bu?"

"Kurang lebih satu kilometeran lah."

"Kalo mau ke sana naik apa ya, Bu?"

"Naik ojek aja, Mas. Itu ada tukang ojek di pengkolan."

"Makasih ya, Bu."

"Sama-sama."

Aku berjalan lagi menuju ke pangkalan ojek di pengkolan. Ucluk ucluk ucluk ucluk ucluk, setelah beberapa langkah kemudian aku bertemu tukang ojek yang lagi mangkal. Dia sedang lihat temannya main catur. Aku dekati tukang ojek itu. Kemudian aku ngobrol-ngobrol sebentar.

"Kalo ke stasiun Gambir berapa, Pak?"

"Biasa, Mas, sepuluh ribu aja."

"Oh, iya Pak. Tahu Gado-Gado Boplo nggak, Pak? Dulu kayaknya, di situ." kataku sambil menunjuk ke sebuah warung.

"Sudah lama pindah, Mas. Ada kali dua tahunan."

"Bapak tahu tempatnya?"

"Iya, tau, Mas."

"Bapak bisa antar saya ke sana? Habis makan, nanti kita terus ke stasiun Gambir."

"Bisa, bisa, Mas. Bisa!"

"Ongkosnya berapa, Pak?"

Belum sempat bapak itu menjawab, aku langsung memotong, "Sepuluh ribu ya, Pak?" 

"Jauh, Mas tempatnya. Dari sini ke Gambir aja sepuluh ribu."

"Nanti Bapak saya ajak makan juga. Jadi nggak nunggu di luar, tenang aja. Gimana? Mau nggak, Pak?"

"Iya mau, Mas. Kebetulan, saya juga belum makan."

Setelah bernegosiasi, akhirnya tercapailah kesepakan antara aku dan tukang ojek itu. Dia kemudian bergegas menghidupkan motornya. Aku membonceng di belakang. Di tengah perjalanan aku ngobrol dengan bapak itu yang umurnya kira-kira lima puluh tahunan. Namanya Pak Karta. Asalnya dari Bekasi. Dia sengaja tidak mangkal di stasiun Gondangdia karena sudah terlalu banyak tukang ojek. Katanya kalau yang bukan biasa mangkal di sana, suka diusir-usir. Pak Karta tahu diri dan merasa nggak enak hati. Katanya lagi, rejeki itu sudah diatur sama Yang Diatas. Rejeki itu sudah diatur sama Yang Maha Mengatur. Aku pun manggut-manggut mendengar ucapannya, tapi sayang Pak Karta nggak lihat. Tangannya memegang stang motor. Pandangannya menatap ke depan. Pikirannya membayangkan makan siang yang enak dan perutnya sudah pasti keroncongan alias lapar.

Akhirnya, kami sampai di depan Restoran Gado-Gado Boplo. Letaknya di jalan Gereja Theresia nomor 41. Pom bensin terlihat tak jauh dari tempat ini. Aku agak kaget, ternyata restorannya bagus dan mewah. Padahal dulu, waktu di Gondangdia, tempatnya biasa-biasa saja. Nggak nyangka sekarang sudah jadi restoran besar dan megah. Sebelum masuk, aku sempat foto narsis di depan restoran yang ada tulisannya yang gede. Biasalah buat dokumentasi pribadi dan bisa ditunjukin ke teman-teman. Nah, ini dia fotonya. 



Setelah beberapa kali dijepret satpam (difoto maksudnya), aku masuk ke dalam restoran ini. Aku pilih tempat duduk yang nyaman dan asyik. Pak Karta aku ajak masuk dan duduk semeja sama aku. Nggak lama kemudian datang seorang pelayan dengan membawa daftar menu.

Ternyata daftar menu makanan yang disajikan di restoran ini semuanya makanan tradisional. Sesuai dengan mottonya yaitu Ahli Makanan Tradisional. Aku salut aja sama restoran ini, yang mengangkat makanan tradisional ke kelas yang lebih terhormat. Jadi tidak hanya restoran dengan makanan dari luar aja yang membanjiri hampir di setiap kota di negeri kita tercinta ini. Inilah saatnya makanan kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Selain gado-gado, menu lainnya adalah Ketoprak, Karedok, Nasi Timbel, Nasi Uduk, Nasi Kuning, Aneka Sop dan Aneka Soto.

Nama Boplo diambil dari nama daerah yaitu Pasar Boplo dimana pemilik restoran ini, Ibu Juliana memulai  usahanya di sebuah gang sempit. Jadi, daripada aku BOSAN PLONGA PLONGO di Stasiun Gambir, mendingan aku makan Gado-Gado Boplo. Iya, nggak? Iya, kan? Iya, dong ...!!

"Silakan, Pak" kata seorang pelayan sambil menyodorkan daftar menu.

"Gado-gadonya dua ya, Mbak" ujarku kepada pelayan.

"Minumnya apa, Pak?" 

"Es teh manis dua."

Pak Karta juga memesan menu yang sama dengan yang aku pesan. Karena dia tidak mau pesan menu yang harganya di atas harga makanan yang aku pesan. Untuk amannya dia pilih menu yang sama.

Beberapa saat kemudian, pesananku datang.

Tarraaaaaaa .....
Inilah menu makan siangku hari ini. Gado-gado Boplo




Seperti biasa, sebelum makan aku foto dulu makanannya sebagai barang bukti. Setelah membaca doa, aku pun menikmati suap demi suap, terus dan terus sampai suapan yang terakhir. Dan dalam waktu yang terlalu lama, tandaslah sudah gado-gado yang lezat, hm ... pokoknya nikmat deh.



Oh iya, keaslian gado-gado Boplo masih tetap terjaga dengan baik loh. Saus kacangnya istimewa, terbuat dari campuran kacang tanah dan kacang mede. Itulah yang membuat gado-gado Boplo terasa begitu lezat dan nikmat.

Selesai makan, aku bayar di kasir. Harganya cukup terjangkau, nggak menguras isi dompet apalagi sampai menguras ATM. 

Setelah memanjakan perut, akkhirnya perjalanan aku lanjutkan ke Stasiun Gambir menunggu jadwal kereta yang akan mengantarku pulang ke Kota Udang.

Setibanya di Stasiun Gambir, aku turun dari motornya Pak Karta.

"Saatnya kita berpisah, saatnya kita berpisah"

"Oh, tidaaaaak .... !!"

Eh maaf ya, ini bukan serial teletubbies. Aku dan Pak Karta akhirnya berpisah di pintu gerbang Stasiun Gambir bukan di St. Carollus. Aku mengucapkan terimakasih kepada Pak Karta yang sudah mengantarkan aku ke Stasiun Gambir dan menemaniku makan siang. Pak Karta juga mengucapkan terimakasih padaku.

Jadi teman-teman jangan merasa bangga kalo menyukai makanan luar negeri tapi nggak cinta sama makanan asli negeri sendiri. Siapa lagi yang cinta makanan negeri sendiri, kalo bukan kita sendiri.

Pontianak, 18 Oktober 2013

Ingin tahu lebih banyak, silakan klik di sini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By