Breaking News

Kamis, 26 September 2013

RAPAT PAGI-SORE

(Absen Sore jilid-3)

Oleh: WiNanda

Pembicaraan tingkat tinggi di Kanwil DJKN Kalbar, baru saja dimulai. Bapak Nanda atau Widya Sananda, Kepala Bidang Lelang Kanwil DJKN Kalbar sedang berbincang dengan Pak Kabu atau Pak Guntur Sumitro, Kepala Bagian Umum Kanwil DJKN Kalbar, keduanya sedang terlibat pembicaraan terkait Agenda Rapat hari ini, karena acara ngobrol-nya di ruang rapat yang berada di lantai 3, lantai tertinggi di kantor mereka, jadilah namanya Pembicaraan Tingkat Tinggi.

Pagi itu Pak Nanda dan Pak Kabu berpakaian rapih mungkin yang terapih yang mereka punya, karena sejak menjadi anggota SJDI segala kebutuhan hidup harus bisa diatur sendiri, cuci baju, setrika apalagi makan ya cari sendiri (seperti lagu dangdut aja neh... masak..masak sendiri... makan..makan sendiri... cuci baju..sendiri... kazziann dehh..... itulah kalau Suami Jauh Dari Isteri...).

Rapat menurut penelitian adalah sangat bermanfaat bagi organisasi dalam melakukan fungsi manajemen, dengan adanya data dan masukan akan diperoleh suatu gambaran analisis SWOT kondisi organisasi yang nantinya berguna bagi peningkatan kinerja organisasi. (itu mah... kata Pak Nanda aja.. kata penyelia cukup bijak tapi binggung juga... saat mau menulis pakarnya siapa ya.. mau ditulis pakar-ena takut salah...)

SAAT JELANG BUKA RAPAT

“Pak Kabu saya mau tanya... kita pagi ini mo rapat mengenai apaan sih.....?” Tanya seorang staf yang ikut nimbrung saat kedua SJDI berbincang.
“Memang tidak tahu... bukannya sudah dikirim Nota Dinas untuk rapat hari ini” Pak Kabu sedikit kesal karena dari tadi pagi banyak yang menanyakan agenda rapat, siapa yang ikut, sampai jam berapa acaranya dan tentunya ada makannya ndak, snacknya berapa kali gunanya untuk menjaga kesehatan, memangnya mau rapat apa makan-makan, mungkin mereka merasa seperti Rumah Makan Padang Pagi-Sore kaliii ya...

“Tenang Pak... mungkin mereka saking sibuknya lupa acara hari ini...” kata Pak Nanda dengan masih membuka buku tipisnya yang terisi banyak coretan, ndak tau apakah coretan tentang pekerjaan kantor atau tulisan mengarang cerita ..... pokoknya bawa terus tuh buku tipis...
“Kita rapat hari ini membahas persiapan kedatangan tamu dari Jakarta, acaranya bisa sampai sore..”kata Pak Kabu yang mulai membuka diri dengan suara yang sedikit keras, untuk memperlihatkan keseriusannya rapat hari ini... (emang biasanya gitu nggak ya.... maaf Pak kabu..).

“Tapi pak Kabu, jelaskan juga deh rapat ini rapat apa, Rapat Pleno, Rapat Terbuka atau Rapet Wangi...”kata Pak Nanda sedikit ber-philosofi. tapi... sepertinya sudah mulai buka front dengan Pak Kabu neh...
Bentar.., maksud philosofi disini filsafat, bukan philo-SOFIE, nama Kasi di Kanwil Jakarta, maaf ya mbak Sofie.. salam tuk keluarga... (eit... ini mo cerita apa mo kirim salam sih... kata makhluk yang baik hati di kiri penulis....)
“Kalau Rapat Pleno adanya di DPR, tapi kalau Rapat Terbuka dan Rapet Wangi... itu sih lain lagi Pak.. off the record...” jawab Pak Kabu yang sudah mulai membaca alur cerita pendek dan agak nyeleneh ini...

Memang kalau keduanya bila sudah menjurus pembicaraan “hal yang penting” selalu “off the record”, maksudnya kalau bahasa hati yang digunakan hanya Tuhan lah yang tahu.
Pak kabu yang tadinya ada kerinyit di kepalanya mulai pindah tuh nyerinyitnya di pipi.. memang Pak Kabu ini ganteng apalagi kalau tersenyum tampak lesung pipinya, menjadikan nilai tambah pastinya....???? (eng.. ing.. eng.. semu nih ye...)

MULAI KE CERITA LEPAS...

Peserta sidang eh rapat tertutup mulai menempati kursi yang tersedia, dengan peraturan untuk yang tidak mendapat kursi harus mengambil sendiri di ruang lain, tertutup sebab pintunya memang harus tertutup kalau terbuka nanti AC-nya kurang dingin, maklum Pontianak pagi ini cerah dan gerah....

“Bapak dan Ibu sekalian, hari ini kita rapat membahas persiapan kedatangan tamu, jadi peserta yang hadir harus mewakili seluruh Bidang di Kanwil dan KPKNL Pontianak, sedang untuk Bagian Umum cukup saya sendiri karena Kepala Seksi dan lainnya sedang mempersiapkan sarana dan prasarana pertemuan nanti”. Pak Kabu mulai bersyair saat sebelum memulai acara, karena setiap informasi dan apalagi tatakelola rapat wajib diberitahukan sebagai bentuk transparansi birokrasi, itu kata kerennya.
 “Tunggu dulu Pak.. Kalau wakil-mewakili perlu penjelasan dulu dong...”kata Pak Nanda yang sepertinya sering duduk dekat-dekat Pak Kabu (mungkin keduanya memang mempunyai hubungan serius nih... jangan-jangan.....??? penyelia cerpen sudah mulai nakal...).

Pak Kabu menengokkan wajahnya kekanan arah wajah Pak Nanda, untungnya saat menengok mereka tidak dalam keadaan terlalu dekat, bisa bahaya... (maksudnya bisa bikin kaget, bukan yang lain... kacau nih penulisnya...).
“Saya Kabu tapi juga sebagai plh. Kepala Kantor tuk pimpin rapat ini..” kata Pak Kabu mulai menunjukan wibawa.
“Ok kita setuju, tapi kan tadi dikatakan bahwa seluruh unsur Kabu dan Kabid perlu ada perwakilan, sedangkan Bagian Umum Kasi-nya sibuk, jadi tetap harus ada perwakilan..” kata Pak Nanda sambil tersenyum manis saat memandang wajah Pak Kabu yang hampir dekat wajahnya. (mangnya.. mo ngapain sih.. jangan bikin bingung penonton dong....).

“Iya.. tapi kan saya bisa rangkap jabatan...” kata pak Kabu yang mulai senyum juga, jadilah mereka berdua berpandangan dengan saling tersenyum.... (mungkin penuh arti...???? kacoooo.....!!!!)
“Begini Pak Kabu... Bagaimana kalau saya jadi plh. Kabu untuk melengkapi unsur fraksi Bagian Umum sedangkan untuk fraksi Bidang Lelang di-plh kan bisa ke Ibu Nuning... Bagaimana..??.” Pak Nanda mulai melontarkan kata-kata mutiara, sambil melemparkan senyumnya ke arah kursi Ibu Nuning yang tersenyum manis..
Memang Bu Nuning ini yang paling cantik di Bidang Lelang, maklum hanya ia sendiri wanita-nya dan untungnya senyum Pak Nanda tidak terlempar jauh bisa-bisa salah arah atau salah jatuhnya.....

“Terserah saja deh, yang penting saya ada suratnya... dan Pak Nanda tidak ada suratnya...” Pak Kabu berkata pasrah sepertinya tidak mau mendebat panjang, atau karena Bu Nuning duduk di sampingnya...

“Sudah ayo dimulai saja Pak...” suara Pak Samsuddin yang jernih, sejernih wajahnya yang tampan dan selalu menjadi perhatian wanita peserta rapat, suara itulah yang telah bisa menuntaskan pandang-memandang Pak Kabu dan Pak Nanda.
(dalam hati peserta rapat plh- saja kok diributin, memang honornya beda kali ya...???. )

Rapatpun dimulai dengan penuh semangat dan konsentrasi yang tinggi dari para peserta rapat pagi ini, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 12.45.
Peserta rapat baru menyadari waktu yang terlalu cepat berjalan karena sedang asyik membahas bahan-bahan yang akan disampaikan kepada tamu dari Jakarta.

Nah... saat Bidadari Bagian Umum masuk mereka baru tersadar sudah jam 12.45, karena saat Bidadari masuk selain membawa keharuman (maklum Bidadari harus wangi dong... atau wangi nasi kotak kalii...), karena saat masuk sambil membawa nasi kotak, inilah suatu kenyataan yang harus dihadapi dan memang ditungguin.... (ohh... itu loh... maksudnya...??)
“Kita ishoma dulu Bapak-Ibu sekalian, nanti jam 14.00 kita kembali lagi melanjutkan rapat ini..” kata Pak Kabu yang saat itu memang layak jadi pemimpin rapat.. (la iyalah.. pan ada surat plh-nya sedangkan Pak Nanda kan nggak....).

BREAK MOMENT.

“Berjalan di kota Pontianak melintas sungai Kapuas, kalau sudah makan enak memang terasa puas....” kata seorang peserta rapat.
Puisi apa ngerayu... kata Bidadari yang semakin hari semakin manis, maklum makan siang gratis bisa membuat orang berkata manis....
5 menit sebelum jam 14.00 di ruang rapat sudah duduk para peserta rapat tadi pagi, karena sesuai Budaya Kerja ke-2 Kemenkeu harus hadir 2 menit sebelum rapat dimulai, dan kalau 5 menit bisa dapat pahala...

Seperti biasa untuk menyemarakkan suasana cerita ini, Pak Nanda dan Pak Kabu duduk dekat-dekatan lagi, sesekali menggoyang dan menggerakkan kursinya, maklum di rumahnya nggak ada kursi seperti itu, jadi... mungkin lagi seneng-senengnya kali ya...
Tut..tut..tu... BB-anyar Pak Kabu berbunyi, Pak Kabu memang selalu menjaga baik BB-nya, apalagi kalau lagi dekat Pak Nanda, karena Pak Kabu tahu Pak Nanda belum biasa pencet-pencet BB.
Pak Kabu dengan segera membuka wacana BB-nya, tiba-tiba tersenyum sendiri saat membaca sms BB-nya.

“Dari siapa Pak..”kata Pak Nanda, mungkin sedikit cemburu, karena pasangan rapatnya dapat sms BB dan senyum sendiri lagi.
“Dari tukang cendol AHUA.. mengabari cendolnya sudah habis laku diborong ibu-ibu, sekalian ngucapin terimakasih sudah dipromosikan melalui Blog saya, Pak..” kata Pak Kabu yang belum hilang senyum manisnya.

“Whats...??? cendolnya habis dibeli ibu-ibu..., jadi yang tinggal Ah... uh... ah... saja dong Pak... hebat tuh tukang cendol dengan ibu-ibu lagi....” Pak Nanda sepertinya cepat mengangkat situasi yang mendadak berubah cunihin..
Pak Kabu masih saja melihat ke layar BB-nya, tapi tidak lama karena sadar akan pertanyaan Pak Nanda yang membuatnya semakin tersenyum lebar.....

“Bukan Ah... uh... ah... Pak, tapi A-HU-A jangan diplesetkan Pak, nanti bisa jatuh tuh tukang cendolnya....” kata Pak Kabu yang sesama jenis dengan Pak Nanda dan juga cepat selaras cunihin-nya....
“Stop pacarannya Pak... kita mulai lagi rapatnya...” kata peserta rapat yang sudah memenuhi kuorum, karena melihat keduanya sedang asyik-masyuk bisik-bisik.
“Pak mereka sudah rapat.. maksudnya duduknya yang rapat..he..he..he...” kata salah seorang peserta rapat, yang sepertinya pernah ikut diklat purnabhakti dengan sedikit bijaksana tapi terkekeh-kekeh juga bicaranya.. maklum... baru diklat....???

RAPAT PENENTUAN...

“Bapak dan Ibu sekalian, kita mulai lagi rapat dan hari ini harus tuntas dan bisa menyelesaikan tugas kita... untuk membuat bahan-bahan pada kegiatan acara tamu kita dari Jakarta..” kata Pak Kabu sambil sedikit mengangkat badannya, sepertinya agar tampak berwibawa sebagai pemimpin rapat yang handal... (bukan handal-tolan kan.. Pak Kabu...).

Rapat kembali berlangsung dengan penuh semangat, konsentrasi terhadap apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan, peserta juga saling memberikan masukan yang berarti untuk bahan-bahan acara dengan tamu dari Jakarta (memang begitu kalau rapat Pak... bisik penyelia cerita).

Sepertinya nilai-nilai Kementerian Keuangan sudah diterapkan, Integritas, Profesional dan Sinergi untuk dapat memberi kepuasan Pelayanan terhadap apa yang diharapkan bagi tamunya nanti, sehingga dapat mencapai titik Kesempurnaan dalam memberikan jawaban dan solusi pada setiap permasalahan... (keren kan... Tim Rapat Kanwil DJKN kalbar...).

Pak Kabu dan Pak Nanda dengan kapabilitasnya yang mumpuni (mumpuni bukan nama orang ya... maaf Bu...), yang duduk bersebelahan mulai memperhatikan jalannya rapat. Pak Samsuddin sebagai Kepala KPKNL Pontianak memperlihatkan kepiawaiannya karena memang beliau sudah kesekian kalinya menjadi Kepala Kantor Opersional, termasuk Mas-Ton dengan pengalamannya dan pernah menjadi Kepala KLN Pontianak.

Pak Prast dengan pengetahuannya yang luas dan Mas Sugeng dengan berbagai keahliannya apalagi sebagai Kepala Bidang KIHI, serta peserta rapat lainnya yang mempunyai berbagai pengalaman telah menjadikan keadaan ruang rapat kondusif penuh makna dan akhirnya bisa membuat suatu hasil rapat yang baik, dalam memberikan masukan untuk bahan-bahan pada pertemuan dengan tamu dari Jakarta nantinya. (ini mah cerita serius....)

“Pak Sam.. keren ya.. pakaiannya selalu rapi....” kata seorang peserta rapat wanita berbisik, yang selalu menengok ke Pak Sam saat memberikan penjelasan dan masukan bahan rapat, memang tampak beberapa peserta wanita menengok saat beliau berkata... (duh.. Pak... mulai ada penggemar nih... tapi Mas-Ton masih ganteng kok.....)
“Pak Pimpinan rapat... kita sampai jam berapa nih rapatnya... lom ashar sekarang sudah jam 4 sore..” kata salah seorang audience rapat tertutup ini.

“Kita selesaikan dulu Pak, kalau bisa kita selesai sebelum jam 5 sore..” kata Pak Kabu selaku plh. Pimpinan Rapat yang selalu siap memperhatikan jalannya rapat.
“Tapi Pak.. sebaiknya kita beri waktu saja kepada peserta rapat yang mau sholat ashar, sebagian tetap melaksanakan rapat saja, bergantian saja...” kata salah seorang peserta rapat yang wajahnya tampak sendu dengan arif-nya.
“Ok.. kita sepakati saja begitu..” Pak Kabu sebagai pemimpin rapat dengan penuh mufakat dan kebijaksanaan, sesuai azas Pancasila yang saling menghormati sesamanya.

Setelah mendengar kata Pak Kabu, rupanya Pak Nanda ikut juga berdiri...
“Pak Nanda mau kemana...”kata Pak Kabu melihat Pak Nanda mulai menggeser kursinya... untuk berdiri (mungkin pak Kabu khawatir kursi Pak Nanda kosong nanti ada yang isi, kalau sejenis sih tidak apa tapi kalau lawan jenis... wah... bisa ada investigasi KI di Blog-nya... itu sih bisa-bisanya aja penulis saja... kata penyelia cerpen... ).
“Saya mau sholat juga Pak... tapi kursi saya jangan ada yang isi ya....” kata Pak Nanda dengan tersenyum ramah. (seperti juga khawatir bila kursinya diduduki orang lain maklum lagi seneng jadi plh. Kabu tanpa surat kaleee.... guyon Pak.. kata penyelia..).

“Pak Kabu ndak usah khawatir.. saya masih di sini kok...” Pak Rohadi dengan nada suaranya yang khas, saat itu duduk agak jauh, tiba-tiba saja berkata saat melihat Pak Kabu bertanya ke Pak Nanda yang akan keluar ruangan tuk sholat..
Pak Rohadi memang aktor yang berbeda, beliau mulai menunjukan keramahan-nya, untuk Kasi yang satu ini mempunyai nilai lain dari yang lain, selalu mau membantu orang yang memerlukan bantuannya, walau orang itu sudah menolak halus karena sungkan...?? dengan keramahan Pak Rohadi... (memang sih kadang-kadang..... dan sepertinya beliau tahu siapa yang harus dibantuin... terutama..... r.h.s. ya Pak...).

“Pak Rohadi.. jaga Pak Kabu ya... jangan digangguin....” kata Pak Nanda saat membuka pintu sambil bercanda dengan memberikan kode jempolnya.
“Siap.. Bos..” kata pak Rohadi yang duduk di sebelah Pak Salya. (dalam hati Pak Salya maksudnya apa sih..., apa ini bisa masuk dalam investigasi KI karena sepertinya ada hubungan khusus antara ketiga orang itu...)
Rapat tetap berjalan dengan penuh semangat terutama dengan masih tetap adanya Pak Samsuddin dalam ruangan rapat, sehingga membuat hati para penggemarnya semakin hangat... (apa iya...??? maaf ya pak....)

Akhirnya rapat pun ditutup dengan hasil yang akan disampaikan kepada Pak Kanwil, dengan semangat kebersamaan peserta rapat mulai ke acara tambahan yaitu mejeng di-foto, untuk menunjukan bahwa rapat benar terjadi. (maklum harus ada bukti.... karena audience-nya ada KI lo...), demikian ending dari Rapat Pagi-Sore dan Makan Siang di Kantor.

Melalui tekanan jari pada mesin fingerprint... dan suara ”terimakasih....” absen diterima dengan baik dan usailah tugas ke-ikhlasan pada sore hari itu, karena snack sore tidak keluar... (maaaf Pak Kabu.... karena plh. Kabu tidak ada suratnya jadi tidak bisa langsung perintah beli.....).
Udah..ah.. kepanjangan nanti penonton bosen.. lagi blog isinya cerita absen mulu.... kata penyelia cerita ini sewot, karena namanya tidak disebut, sepertinya...????.


Selesai dulu deh... cape ah......










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By