Breaking News

Sabtu, 21 September 2013

KUE KESEMBUHAN

(Absensi Sore Kanwil DJKN Kalbar jilid-2)

Oleh : WiNanda

THRILER...
“ikan asin rasanya asin, kalau tidak asin bukan ikan asin, terasa lain kalau diceritain, dari pada dibacain mendingan diplototin..” kata seorang staf Kanwil DJKN mencoba belajar berpuisi, sepertinya setelah membaca blog gaul Pak Kabu yang mulai rajin terisi cerita “inklusif-life”.

Memang Pak Kabu ini agak berbeda dengan Kabu lainnya diseantero “jagad Borneo”, bayangkan seorang Kabu masih mampu untuk berbuat amal shalih, perhatian yang tinggi terhadap kehidupan global yang penuh warna-warni style, juga mempunyai rasa eksotis terhadap lingkungan, apalagi perhatiannya terhadap kemajuan sumber daya alam dan manusia, penuh humor dan ganteng lagee.... (Kabu atau ustad sih.. kata penyelia cerita)
wow.. mengerenyit tuh jidat staf wanita di Bagian Umum... maklum inilah ruang yang banyak wanitanya.
Nah inilah salah satu kehebatan dan kemakmuran Bagian Umum yang mempunyai staf banyak wanita cantik dan menarik... (maksudnya menarik asa Pak Kabu hingga bisa betah diruangan karena takut tergoda kali ya..)

Kepedulian Pak Kabu pernah teruji, yaitu saat salah seorang staf Kanwil DJKN sakit, Pak Kabu ber-atensi iapun rela kalau terpaksa memanggil 911 yang dikira “DK” kepanjangan Delivery Kentucky (nakal juga nih Pak Kabu..).
Hatinya juga penuh kasih (maksudnya mau kasih apa aja kalau bukan ia yang beli... maaf ya Pak Kabu), sehingga iapun rela memberikan yang terbaik bagi yang telah sembuh sakit diberikan Kue Kesembuhan Brownies Aman-Dah Bandung Asli yang dibawa oleh Pak Dadi.

Dimulai dari Pak Dadi Kasubbag Keuangan pada Bagian Umum yang membawa berkah kue Brownies,.. awalnya sih tuk teman-teman di Bagian Umum saja, tapi berhubung bosnya Pak Kabu kedatangan tamu khusus ke Ruang Bagian Umum yaitu Pak Rohadi bersama komandannya “Mas-Ton” dan Pak Nanda, maka sebagai Pak Kabu mau atau mau harus menjadi inspirator, apalagi saat itu si-Brownies terpampang dan tergeletak pasrah.

Sebagai penyambung lidah “silahkan makan” akting ini sempurna dilakukan Pak Kabu bukan oleh Pak Dadi tentunya, maka dengan kewibawaan dan dengan muka cerah telah menawarkan ke tamunya, khususnya Pak Rohadi yang baru sembuh kaki-nya akibat salah sendiri untuk mencicipi Brownies Aman-dah, maka jadilah kue Brownies sebagai Kue Kesembuhan..... untuk menjamin Pak Rohadi benar-benar sembuh kakinya.
Akhirnya dengan menyantap kue tersebut Pak Rohadi sudah makin benar-benar sembuh, yang juga waktu makan ditemani Bidadari Bagian Umum yang siap menggodain tamunya.. (maaf ya Bid.. Bidadari.. gitu loh...).

Produser hanya berharap agar cerita ini dapat menghibur bukan membuat pemirsa menjadi sedih atau berpikiran apapun bentuknya, karena senyum yang tulus adalah suatu amal yang baik dan merupakan bagian daripada iman.... mohon maaf apabila terjadi kesalahan dan keterlambatan jam tayang cerita karena alasan operasional...

KITA MULAI KE JAM TAYANG...
Kondisi cuaca di kota Pontianak sore itu terasa sejuk, siang tadi cuaca terik dan sorenya turun hujan gerimis, membuat situasi kantor terasa sejuk, sesejuk hati para pencinta absensi sore yang bersedia menunggu dengan ikhlas kedatangan waktu jam 5 sore... (maksudnya ikhlas atau tidak ya... wajib ‘ain...)

Ada hal yang berbeda di ruang Bagian Umum tempat untuk mencurahkan hati yang kesal karena terlambat datang ke kantor dan absensi fingerprint telah lewat jam 7.30 pagi...
Di ruang ini suasana ceria sangat terasa, karena baru saja Pak Dadi (salah satu Tim Bagian Umum yang cukup menawan hati...) baru saja kembali dari tugas mulia ke Bogor dan baru semalam kembali ke Pontianak, saat itu wajahnya sangat cerah, lebih cerah dari wajah pak Nanda dan pak Kabu tentunya, yang masih kelompok SJDI...

Mengenai tugas mulia itu, adalah hal ini perlu dijelaskan agar penonton dan pembaca terutama yang pernah menjadi peserta diklat purnabhakti tidak semakin puyeng setelah mendengar ceramah mengenai tata cara angkut barang... (konon saat diklat purnabhakti yang dilaksanakan oleh BDK Pontianak ada seminar mengenai perusahaan pemindahan barang, kalau orangtua yang mau pensiun disuruh angkut barang yah gempor semuanya, dah tua dan batuk-batuk lagee.. apa nggak puyeng dengar ceramahnya).

Tugas Mulia, yang dilaksanakan Pak Dadi adalah sesuai dengan ajaran keagamaan yaitu mendatangi isteri, bertemu isteri, “menyenangi” isteri dan membawa isteri turut bersamanya... itulah tugas mulia yang dilakukan beliau ke Bogor dan teorinya tidak perlu dibahas panjang, (kata editor tunggal di ruang pak Kabu agak sewot... “ribet amat sih tulisannya, jadi intinya pak Dadi pulang ke Bogor ketemu isteri dan sekarang isterinya ikut pak Dadi ke Pontianak, gitu aja toh...” maklum penulis asal njeplak..he..he..he..)

Sehubungan dengan itu, setiap tugas mulia biasanya selalu membawa berkah, baik bagi yang melakukan maupun yang dilakukan..... (maksudnya.... bisa ditanya yang bersangkutan saja ya... off the record).
Nah saat pak Dadi masuk kantor paginya Ruangan Bagian Umum masih damai dan anteng, tapi siangnya setelah jam istirahat dan menjelang sore, suasana mulai berubah, rupanya tadi saat waktu istirahat kantor Pak Dadi kembali dari rumahnya membawa berkah kue Brownies Aman-dah made in Bandung.

Usut punya usut rupanya kue itu adalah bawaan isterinya yang baru ikut kembali ke Pontianak dari pulau seberang, katanya lagi kue itu adalah pemberian tetangganya disana saat isteri Pak Dadi mau kembali ke Pontianak.. (kaya orang mau umroh dibekalin kue agar tidak kelaparan dijalan... maaf Bu Dadi sekedar guyon... tapi kan... kue Brownies yang lain tuk Pak Dadi masih ada kan...??  emmmaksudnya... tau ahh.... kata pemirsa).

Saat kue Pak Dadi sudah berada di ruangan Bagian Umum, tampak suasana mulai berkilatan sinar cerah karena Para Bidadari Bagian Umum mulai mengepakkan sayapnya menuju kenikmatan makan kue (maklum bidadari konon katanya punya dua sayap di punggung belakang kiri-kanan... jadiii... membuat bidadari jadi tambah manisss.... gombal ahh.....)
Nah.. dikala kue sudah tergeletak dan pasrah terpotong, Pak Kabu keluar dari haribaan ruangannya, mungkin ia sudah menganalisis waktu yang tepat saat keluar kue sudah terpotong dan bisa langsung nyappp.... memang pintar Pak Kabu ini.

“Ada kue nih... sepertinya enak tuh....”kata Pak Kabu berbasa-basi dengan gaya komandonya.
“Iya.. Pak... Tadi isteri saya bawa dari Bogor....”kata Pak Dadi mempersilahkan bossnya untuk mencicipi.
(dalam hati pendengar memang enak sih pak.... gratis lagi..... tapi tidak ada yang berani bersuara ke Bos-nya)
“Untuk saya nih Pak Dadi..”kata lagi pak Kabu berjalan tenang sambil mendekati sasaran matanya.
“Iya.. Pak silahkan diambil.. yang lain sudah ambil..”jawab pak Dadi lagi dengan gaya sundanesnya yang ramah dan penuh hormat. Maklum Bos kalau tanya harus dijawab dengan sopan dan siap selalu.

Pak Kabu dengan kewibawaan seorang pemimpin mulai mencicipi kue brownies, mulailah dengan basa-basi sesuai anjuran pakar Manajemen Mario Teguh (bukan Mario Bros ya...) untuk pendekatan kepada staf harus selalu koordinasi dan bersinergi, mengajak bicara permasalahan yang bukan menjadi masalah.
“Pak Dadi, kue-nya isteri yang bawa ya.., sekarang isteri-nya sudah di Pontianak dong...” kata pak Kabu kalem.
“Iya Pak, saat saya pulang ke Bogor dan waktu kembali ke Pontianak hari minggu malam kemarin, isteri saya sudah ikut ke Pontianak Pak, sekarang sudah dirumah..” kata Pak Dadi dengan senyum ramahnya.

Situasi sudah mulai berwarna, kepak sayap Para Bidadari membuat Pak Kabu semakin renyah bicaranya.
“Kue yang bawa isteri pak Dadi, dan pak Dadi kembali ke Pontianak bawa isteri, jadinya pak Dadi bawa isteri dapat brownies....” kata pak Kabu yang sudah mulai on gaya “cunihin”-nya.
“Iya Pak. rejeki bawa isteri dapat Brownies Aman-dah lagi...” kata pak Dadi tersenyum manis ikutan “cunihin” pula. Tak perlu dibahas panjang lebar tapi kembali ke inti cerita saja, kata editor tunggal yang cukup galak ketika penulis mau komentar.

Singkatnya, jadilah Pak Kabu menikmati sambil dihibur kicauan Bidadari Bagian Umum, karena staf di Bagian Umum banyak terdapat wanita yang memang manis kalau diajak makan kue... (Kalau Bos makan seperti itu kale... yah... nikmat memang....).
Selagi asyik masyuk ber-brownies, masuklah aktor cinema dalam film “Yang Tak Pernah Tayang”, Pak Rohadi tetapi kala itu tidak sendirian, beliau ditemani sang komandan-nya yang sudah pasti lebih ganteng dari Pak Rohadi, kumisan pula kata orang Pontianak namanya “Mas-Ton” panggilan sayang dari yayang-nya.

“Wah.. lagi ada yang Ultah nih...”kata Pak Rohadi kalem sekalem aktor Patrick Swayze dalam film Ghost dengan si cantik Demi Moore saat mulai pedekate.... Komandan Pak Rohadi hanya tersenyum membuat wajahnya makin ganteng mirip Brad Pitt aktor Hollywood, (pengarangnya sudah mulai kena virus “cunihin” pula...)
Untungnya, saat Pak Rohadi masuk para Bidadari Bagian Umum tidak histeris, entah mau kaget atau mau yang lain... tapi yang pasti bersama Komandan ganteng penampilan Pak Rohadi bisa jadi lain, meningkat rating-nya.

Melihat Pak Rohadi berjalan gagah sambil menebar pesona senyum manisnya, membuat Pak Kabu sedikit tersedak karena terlalu cepat makan kue Brownies-nya, iapun segera bangkit dari duduknya dengan penuh wibawa berdiri dan menanyakan kondisi kaki Pak Rohadi yang beberapa waktu lalu sakit.
“Bagaimana kondisi kakinya Pak sudah tampak sehat nih.. ugh..ugh..”kata Pak Kabu terbatuk tapi menunjukan wajah simpatinya (jangan juga diganti simpati jadi simpan**... stop... konsent aja dong ke tulisan deh...)

“AlhamdulIllah Bapak dan Ibu, semua berjalan lancar...”kata Pak Rohadi berbicara mungkin mengikuti gaya ustad Uje almarhum walaupun pertanyaan dan jawaban kurang sinkron, maklum saja ya...
Pak Rohadi semakin aktif, iapun mulai menggoyangkan kakinya untuk memperlihatkan kakinya memang sudah sembuh dan sesekali lututnya ditekuk, padahal yang sakit kemarin telapak kaki, pokoknya semaunyalah.....

Gerakan ini otomatis membuat pemirsa di ruang Bagian Umum terfokus ke goyang kaki pak Rohadi, bahkan para bidadari yang semula duduk teratur karena ada Pak Kabu bos-nya, ikut juga melongok ke kaki Pak Rohadi tapi tidak bisa jelas terlihat, karena terhalang celana panjang pembagian kantor dan sepatu tempurnya...
Gerrr..... penonton tertawa, maklum gaya Pak Rohadi menghibur, seperti pemain rodeo goyang-goyang kaki.
(Dalam hati para bidadari mungkin berkata, benar juga analisis Pak Nanda dengan dibungkus kantong plastik hitam kaki Pak Rohadi bisa cepat sembuh... bisa juga nih dicoba kalau lagi sakit kaki... wuih nekadzz kalee...)

Suasana saat itu di Ruang Bagian Umum turut bergembira ria, mendengar dan melihat Pak Rohadi sembuh total, terlebih lagi Komandan-nya yang mendampingi merasa bangga punya anak buah yang tadinya sakit sekarang sudah sembuh total serta semakin sehat dan sepertinya semakin tambah nekat....
Pak Kabu memang orang hebat, ia bisa baca pikiran tamunya yang sudah mengarah sasaran tembak ke Kue Brownies.. (salah sendiri kenapa Brownies dibiarkan tergeletak pasrah dan menantang pula...)
“Silahkan Pak dicoba kue Brownies-nya... anggap saja sebagai Kue Kesembuhan dan yang pasti bisa menambah tenaga lo....”kata Pak kabu dengan penuh bijaksana dan semakin handal menempatkan keadaan..

Akhirnya merekapun semua menikmati kue Brownies Kesembuhan disertai lagu-lagu manis dari Bidadari cantik Bagian Umum. (maksudnya lagi pada ngerumpiin, terserah siapapun orangnya yang penting ngerumpi..)
Saat asyik masuk di ruang Bagian Umum, masuklah Pak Nanda konon pernah masuk TVRI jaman cerita drama “Keluarga Pak Is” bersama Hamid Arif dan Mak Wok almarhumah, sehingga bisa juga disebut aktor dengan tampangnya pasti lebih lagi gantengnya dari Komandan Pak Rohadi.. (maksudnya kalau dilihat dari atas jembatan Kapuas Hulu ke arah kantor kaleee... jauhhhh....).

“Assalamu ‘alaikum warahmatUllahi wabarakatuh..” salam khas Pak Nanda, maklum kadangkala jadi ustad di mushola, jadi harus jaga penampilan... (dalam hati pak Nanda bilang enak aja inikan yang diajarkan RasulUllah dan juga sudah menjadi Budaya Kantor yang ke-3 yaitu 3 kali salam setiap hari... kalau lebih ya amal...)
“Wa’alaikum salam warahmatUllahi wabarakatuh..” jawab semua hadirin dan hadirot diruang Bagian Umum.
“Sepertinya Pak Nanda mempunyai penciuman tajam, dari lantai 1 bisa tercium bau Brownies....”kata Komandan Pak Rohadi “MasTon” seketika, sembari menebarkan senyum gantengnya yang mempesona.

“Ayo... Pak Nanda silahkan cicipi kuenya tapi jangan dibawa pulang..ya....”kata Pak Kabu santai.
“Terimakasih Bapak dan Ibu sekalian, saya akan coba mengambil satu potong untuk melepas rindu pada Aman-dah di Bandung...”kata Pak Nanda dengan gayanya yang khas....
“Iya Pak... itung-itung untuk membuka memory waktu tugas di Bandung....”sahut Pak Rohadi penuh kebijaksanaan dan perwakilan, maksudnya supaya ada teman yang sama-sama menikmati si-Brownies legit.
Konon berdasarkan serat sentini (sentini bukan Ibu Tini lo... Kasi di Kanwil Bandung.. maaf ya Bu Tini.. tapi “Mas-Ton” senyum-kan.... maklum mereka semua pernah menjadi Tim Bandung...), ceritanya Pak Nanda pernah bertugas di KLN Bandung 2 tahun lebih sebagai Kasubbag TU (Umum), jadinya beliau tahu tentang sejarah keberadaan Brownies dan cara memakannya (bukan membuat kuenya....)

Singkat cerita Pak Nanda pun ikut bergabung bersama kelompok Bagian Umum dan kedua aktor ganteng tadi menikmati Kue Kesembuhan dengan lahapnya, mereka lupa ada bidadari yang mengawasi, tapi berhubung sedang gembira karena Pak Rohadi sembuh didiamkan saja deh... (laper apa doyan nih....)
Itulah sekelumit sejarah perjuangan yang terjadi di bagian Umum, yang selalu welcome terhadap tamunya. (maksudnya saat itu ada berkah dari “perjuangan tugas mulia” Pak Dadi.. maaf dan makasih ya..)

Berhubung waktu sudah mendekati jam 5 sore, maka para peserta dalam cerita ini mulai berbenah membubarkan diri untuk melakukan kewajiban sebagai PNS Kemenkeu yaitu absen fingerprint sore.

Semoga kebersamaan ini bukan yang terakhir tapi awal dari mulainya bawa kue setiap isteri datang ke Pontianak, maaf ini bukan suatu legalitas hanya himbauan saja, dilakukan berpahala dan tidak dilakukan bebas saja (makruh kaleee...), waktu terus berjalan dan akhirnya terdengar “terimakasih...” tanda absen sore tuntas.















2 komentar:

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By