Breaking News

Rabu, 11 September 2013

ABSEN SORE DI KANWIL DJKN KALBAR

Oleh : WiNanda

Tulisan ini hanya merupakan karangan biasa dengan sedikit improvisasi, sebagai upaya membuat suatu cerita yang sedikit fantastis dan bombastis agar bisa menarik perhatian pembaca. Maklum di Pontianak perlu ada suatu cerita hiburan guna bisa meningkatkan rasa persaudaraan dan kebersamaan, disamping anekdot tentunya.

Cerita ini juga bukan untuk menjatuhkan kredibilitas tokoh sentral yang menjadi topik bahasan, tetapi sebagai sarana yang mengingatkan adanya suatu peristiwa yang mungkin bisa menjadi sejarah kehidupan bagi teman-teman yang saat ini bertugas di Pontianak (dan pastinya... jangan disimpan di hati, cukup di laci saja).

Pak Rohadi namanya, orangnya supel dan sabar, sebelum mutasi ke Kanwil DJKN Kalbar beliau adalah tokoh di KPKNL Pangkal Pinang yang menangani masalah IP BMN, sehingga saat ini menjadi salah satu tokoh yang  berperan penting di Bidang Penilaian Kanwil DJKN Kalbar sebagai Kepala Seksi Penilaian II, sepertinya memang cocok sesuai pengalaman kerjanya di tempat tugas sebelumnya.

Awal ceritanya, sore itu Pak Nanda (Kabid Lelang) sedang duduk di ruang Pak Guntur Sumitro jabatannya Kepala Bagian Umum jadi dipanggil Kabu, saat itu keduanya masih cerita tentang masa kecil masing-masing, yang senang bermain hujan-hujanan, maklum suasana di luar kantor masih hujan yang cukup deras, memang di Pontianak ini cuaca dalam beberapa hari ini sering berubah, siang terik tiba-tiba sore bisa turun hujan...
Saat bercengkerama itulah HP BB Pak Kabu berbunyi “tut..tut..tut..” SMS masuk via BBnya yang masih anyar.

Nah tentang BB-nya yang masih anyar ini ada cerita menarik, beberapa bulan yang lalu saat Pak Tri Suwarto masih bekerja menjelang purna-bhakti beliau ikut lomba gerak jalan santai harian Pontianak Post, ada doorprize-nya. Rupanya Pak Tri ini ahli membaca situasi, jadilah ia merupakan salah seorang yang memperoleh hadiah doorprize berupa handphone BB.

Setelah hadiahnya dibawa pulang, teman di tempat kostnya heboh termasuk Pak Kabu ini, yang kebetulan seatap rumah kost dengan Pak Tri. Singkatnya, dengan sedikit pembicaraan “rahasia”, terjadilah barter barang yaitu Pak Kabu diberikan Pak Tri HP BB hadiah itu, sedangkan Pak Tri mendapatkan beberapa lembar uang berwarna merah senilai harga BB. (itu mah bukan barter tapi jual-beli, celetuk Pak Edy Rusbiyantoro kala itu belum mutasi ke Tegal)

Akhirnya dengan BB itulah Pak Kabu bisa masuk komunitas “DJKN BB Club” dan saat ini sudah ahli pencet-pencet tuts BB-nya, tidak gaptek lagi dan tidak seperti Pak Nanda (Widya Sananda) yang sampai saat ini belum bisa pencet BB, maklum belum beli sih.... (nunggu doorprice kali ya ...).

Kembali ke SMS yang masuk, ternyata dari Pak Rohadi yang mengabarkan ia sakit pada kakinya sehingga kemungkinan tidak bisa ke kantor sore itu, ia pun mohon ijin ke Pak Kabu agar diberi ijin sore itu tidak meletakkan jarinya di atas mesin fingerprint untuk absensi.

Pak Kabu bingung juga karena kuasa absensi, untuk boleh tidaknya adalah kewenangan Pak Kanwil, sedangkan untuk absen fingerprint wajib ‘ain hukumnya, yaitu bila dilakukan berbahagia dan bila tidak dilakukan berbahaya, serta tidak bisa diwakilkan kecuali sidik jarinya sama.

Tak lama masuk lagi SMS Pak Rohadi bahwa kondisi cuaca masih hujan, ia tidak bisa ke kantor naik motor dan kalau bisa minta bantuan untuk dijemput... Pak Guntur tambah bingung, ia pun minta pendapat Pak Nanda

“Gimana nih, Pak Nanda..??” tanya Pak Kabu.

“Bagaimana kalau Pak Guntur telpon 911 untuk disiapkan mobil khusus untuk jemput Pak Rohadi sepertinya gawat tuh..” kata Pak Nanda dengan gaya bicaranya sedikit melenceng tentunya agak bergurau.

"Oh, saya kira telpon 911 untuk pesan KFC, Pak ..." ucap Pak Kabu sambil memencet-mencet BB-nya.

“Karena pagi tadi saya masih bertemu Pak Rohadi dan masih bisa bercanda jadi maklum saja kalau ada asumsi gawat, dan lagi adanya permintaan tolong untuk bisa dijemput sama Pak Kabu lagi, sepertinya agak gawat” lanjut Pak Nanda dengan senyum damainya.

Pak Kabu masih mengernyitkan keningnya, ditolak repot apalagi di-iyakan lebih repot lagi. “Jelangkung aja datang tak dijemput, pulang tak diantar. Masa Pak Rohadi kalah sama jelangkung,” gerutu Pak Kabu lagi.

Hujan di luar kantor sudah mulai reda, tapi masih gerimis dan cuaca memang masih agak gelap, tapi tidak segelap pikiran Pak Kabu menangani situasi Pak Rohadi tentunya.

“Pak Kabu.. bagaimana kalau absen fingerprint-nya saja dibawa ke kost Pak Rohadi, sepertinya battery absensi tahan untuk waktu 45 menit pulang-pergi dari kantor ke kostnya Pak Rohadi”, jawab Pak Nanda bersolusi.

“Iya sih Pak, tapi... bagaimana yang lain mereka juga perlu absen, dan.. kalau absennya dibawa mereka tidak bisa absen, nanti saya bisa didemo teman-teman”, kata Pak Kabu serius dikit (mungkin dalam hati berkata bisa saja nih Pak Nanda, bukan solusi tapi masalah yang terjadi, contoh dong iklan Pegadaian mengatasi masalah dengan masalah eh bukan, mengatasi masalah tanpa masalah, maaf ya pegadaian).

“Gampang Pak, kalau urusan teman-teman masih bisa diatasi”, kata Pak Nanda lagi dengan tenangnya.
“Kita umumkan saja ke teman-teman, bahwa berhubung Pak Rohadi sakit maka absensi sore hari ini dilakukan di kost Pak Rohadi, jadi sekaligus menjenguk orang sakit... berpahala Pak..”, kata Pak Nanda santai, tapi dalam hati Pak Kabu berkata, itu sih jawabannya seperti sedang main pentas ketoprak Srimulat saja.
“Ngaco tuh Pak..”, jawab Pak Kabu semakin serius tapi nyengir juga sih.. sambil berberes arsip dimejanya.
Seusai berdiskusi keduanya lalu berdiri mau absen fingerprint di lantai 1, karena ruang Pak Kabu ada di lantai 2.

Singkatnya ketika sudah dekat mesin fingerprint yang merupakan mesin sakti mandraguna, mereka masih berbincang mengenai kemungkinan Pak Rohadi tidak bisa ke kantor untuk absen.
Kenapa “fingerprint” sakti, karena inilah yang sangat menentukan kinerja pegawai bukan pekerjaan yang banyak atau berhasil baik, tetapi fingerprint-lah yang menentukan kalau kita lupa, maka akan dipotong sesuai keterlambatannya, dan kalau total waktu terlambatnya melebihi 5 hari dalam setahun, maka tanpa ampun tahun depannya TKPKN bisa hanya 25% saja yang diterima, apa bukan sakti namanya..

Konon sahibul hikayat, sejak adanya mesin fingerprint, seolah-olah prestasi pekerjaan hanya sebatas ucapan penghargaan saja tidak bisa menentukan peningkatan pendapatan secara langsung tetapi tetap harus dibarengi dengan penuh tidaknya, tepat tidaknya jari-jari berada di atas fingerprint yang di print-outkan setiap akhir bulan (mudah-mudahan asumsi salah seorang staf yang pernah di Kanwil Kalbar salah...)
Itulah kemajuan teknologi kadangkala bisa menghilangkan faktor manusiawi maupun prestasi seseorang.

Kembali ke jalan yang benar, saat berada di depan fingerprint rupanya sudah ada Pak Kumis Parwoto yang akan absensi juga, ia menyampaikan pesan yang sama bahwa Pak Rohadi kemungkinan tidak bisa absensi sore ini karena kakinya sakit, merekapun turut sedih apalagi di luar kantor masih hujan rintik-rintik.
Wuzz.. Tiba-tiba angin berhembus agak kencang, rupanya pintu ruang lobby dekat tempat absensi terbuka dan muncul aktor yang menjadi bahan perbincangan, Pak Rohadi dengan jalan yang agak terseok sedikit.

“Maaf bapak-bapak saya terpaksa harus datang daripada dipotong TKPKN saya”, katanya sambil berjalan dengan suara yang khas agak berwibawa bak aktor laga “Bruce Willis” dalam film GI Joe (sama nggak ya... taulah yang penting seperti itulah gaya bicaranya saat itu...)
“AlhamdulIllah Pak Rohadi datang juga..”, kata Pak Guntur sedikit improvisasi kearifannya sebagai Kabu.
“Duh.. Pak Rohadi, tadinya kami mau panggil ambulance atau antar mesin fingerprint ke kostnya, karena kami kira kakinya sudah benar-benar sakit..” kata Pak Nanda sedikit bergurau tapi memang rencananya begitu.

Pak Parwoto yang dengar tersenyum dengan khasnya, maklum kumis tebalnya cukup menggoda iman. (Nggak tahu imannya siapa, terutama iman istrinya kali ya ....)

“Pak Rohadi, sepertinya kakinya masih sakit..”tanya Pak Parwoto dengan gayanya yang khas pula.
“Ya benarlah.. memang sakit dan bukan sakit-sakitan...” kata Pak Rohadi sedikit sewot.
Pak Rohadi yang agak mangkel tapi nyengir juga, seolah orang tidak percaya kakinya sedang sakit, sambil mencoba menunjukan kakinya yang rupanya terbungkus plastik hitam konon untuk menghindari air hujan.
“Lah... mana kita tau, tuh kaki sakitnya seperti apa.. wong tertutup plastik hitam pula warnanya”, kata Pak Nanda lagi yang di iyakan juga oleh Pak Kabu, (bukan sama gelapnya lo... jangan menyamakan deh....).

“Pokoknya sakit, kalau tak percaya rasakan saja seperti kalau diinjak pedal motor”, kata Pak Rohadi sewot.
“Sakit dong Pak.. tapi kalau disuruh tergencet pedal motor sih ogah...”, jawab Pak Guntur dengan senyum manisnya, sambil meletakkan jarinya di mesin fingerprint...”terimakasih” bunyi suara mesin fingerprint tanda sidik jari Pak Kabu sudah terekam pada data mesin fingerprint sore itu.
“Dah ah.. absen dulu... mau balik ke kost lagi”, lanjut Pak Rohadi sambil nyengir juga dan kembali ke kost.
Pak Parwoto pun mengikuti jejak Pak Rohadi untuk siap pulang ke rumah, tentunya setelah absen sore.

Setelah Pak Rohadi pulang, Pak Nanda sedikit berasumsi dan berkata kepada Pak Kabu.
“Mungkin begitu cara pengobatan ahli pertanian kalau kaki sakit dibungkus plastik, biar cepat mateng kaya mangga dibungkus dan diperem... nantinya bisa baik sendiri kali ya....” sambil meletakkan jari manisnya di mesin fingerprint..”terimakasih”..tanda absen sore sudah tuntas.
Pak Kabu hanya mesem manis saja dan menjawab, “yang penting urusan absen dan kaki Pak Rohadi hari ini bisa terselesaikan..” kata Pak Kabu sedikit berwibawa (maklum Kabu... harus gagah dikit kali ya...).

Dalam hati saya inilah Pontianak, antara kaki sakit, absen dan potongan TKPKN bisa menjadi objek penelitian disertasi program doktor, karena mempunyai korelasi hubungan yang kuat dan saling mendukung.
Itulah sedikit joke staf Kanwil DJKN Kalimantan Barat yang saat ini Pak Kabu, Pak Nanda dan Pak Rohadi masuk komunitas “SJDI” bukan kependekan dari Sistem Jaringan Digital Internet, tetapi kepanjangan dari Suami Jauh Dari Istri... karena saat itu isteri mereka ber-3 masih di pulau seberang.


Mohon maaf Pak Rohadi karena saat ini menjadi objek cerita, selamat bekerja dan semoga sudah sembuh. Amiiiin.

PROFIL PENULIS

WiNanda adalah nama pena dari Widya Sananda. Pria kelahiran Jakarta ini sekarang menjabat sebagai Kepala Bidang Lelang di Kanwil DJKN Kalbar. Menulis merupakan hobynya sejak lama. Disela-sela kesibukannya di kantor, beliau masih menyempatkan untuk menulis. Hasil tulisannya bisa ditemukan di blog : www.ananda-widyas.blogspot.com. Menurutnya kegiatan menulis bisa mengasah otak agar tidak cepat tumpul dan menulis juga memperlambat kepikunan. Cita-citanya adalah ingin menekuni kegiatan menulis setelah pensiun nanti.


Rohadi Dwi Winarno sebagai Pak Rohadi


Guntur Sumitro sebagai Pak Kabu (kiri)
Widya Sananda sebagai Pak Nanda (kanan)



Parwoto sebagai Pak Kumis


Mesin Finger Print sebagai Mesin Sakti Mandraguna

2 komentar:

  1. Beruntungnya TKPKN didasarkan kehadiran. Kalau didasarkan kinerja bisa-bisa banyak orang yang kena lebih banyak potongan ni... (termasuk saya kali ya pak...)

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By