Breaking News

Senin, 13 Mei 2013

SATRIA KUNDANG


Oleh : Guntur Sumitro

Selamat Malam teman-teman. Apa kabar semuanya? Jumpa lagi bersama saya, Dalang Kunto Prasti Trenggono dalam acara Opeje Opejean. Trok tok tok tok.  Malam ini kami akan menghibur meskipun ceritanya agak sedikit ngawur. Kali ini kami akan mengangkat sebuah kisah dari Sumatera Barat yang Berjudul : Satria  Kundang.

Dikisahkan pada jaman dahulu kala, di sebuah Kampuang Nan Jauh di Mato, hiduplah seorang perempuan nan cantik jelito jo elok ruponyo. Perempuan itu  bernama Harmani Sri Mumpuni alias Bundo Hani. Dia hidup bersama seorang anak yang bernama Satria Kundang, yang diperankan oleh Mas Satriotomo. Satria Kundang adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada orangtuanya. Selain itu dia juga cerdas, jujur, baik hati, suka menolong dan gemar menabung. Semua penduduk Kampuang Nan Jauh di Mato begitu menyukai dan sangat menyayangi Satria Kundang.

Bagaimanakah kehidupan Satria Kundang ketika masih kecil? Langsung saja kita saksikan di Te Ka Pee !!

(Sinden Tiwi  dan Sinden Retno alias Den TINO kemudian menyanyikan lagu “Kampuang Nan Jauh Di Mato”)

“Satria, Satria, kau di mana sayang? Kau di mana nak?” ibunda Satria Kundang keluar rumah mencari dan memanggil-manggil Satria.

“Iyo Bundo, Awak di sini. Awak lagi main kelereng sama Irwan,” jawab Satria.
“Berhentilah mainnya nak, makanlah dulu, Bundo sudah masakkan semur jengkol kesukaanmu. Cepatlah makan.”

“Bundo Ciyuuus? Miapa?” Satria Kundang kembali bertanya kepada ibunya.

“Iyo Satria, makanlah dulu, ajak kawanmu Irwan. Setelah itu pergilah kalian ke surau untuk sholat Djuhur. Habis itu kalian boleh bermain lagi.”

“Baiklah Bundo. Ayok wan kita makan.” Satria dan Irwan segera masuk ke rumah untuk makan siang.

Setelah makan, Satria dan Irwan pergi ke surau dengan membawa dua buah layang-layang. “Bundo, kami pergi ke surau dulu ya. Habis itu kami hendak pergi ke lapangan untuk bermain layang-layang.” Satria berpamitan sambil mencium tangan ibunya. “Iyo, mainnya jangan jauh-jauh ya nak, cepatlah kembali sebelum senja.”

Di sini yang berperan sebagai layang-layang adalah Pak Widodo Sunarko alias Pak Kapolres yang biasa dipanggil Pak Oles. Karena saking semangatnya, layang-layang Satria Kundang putus. Akhirnya layang-layang itu terjatuh, tetapi ini diluar skenario, karena Pak Oles bukan sedang akting tetapi memang jatuh beneran. Penonton semuanya tertawa terbahak-bahak karena mereka mengira akting Pak Oles sungguh natural dan beliau terlihat begitu menjiwai perannya. (Pak Oles, Pak Oles, kasian deh loch ...!)
  
Den Ti-No menyanyikan lagu bermain layang-layang :

Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang
Bermain-bermain, bermain layang-layang
Bermain kubawa ke tanah lapang
Hati gembira dan senang.

Itulah kehidupan Satria Kundang ketika masih anak-anak. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya? Kita saksikan setelah dua orang yang mau lewat berikut ini, Tetap di opeje opeje-an, Yaaa ..... Ee ..!!

Pak Herbudi Adrianto dan Pak Djunaedi berjalan masuk ke arena TKP bukan sebagai pemain iklan tapi hanya sekedar lewat, ya boleh dibilang cuma numpang lewat. Yang penting bisa masuk tipi, he he he .....

Para penonton sekalian, kita kembali lagi untuk melanjutkan kisah Satria Kundang. Satria Kundang tumbuh dan berkembang menjadi seorang pemuda yang tampan. Sayangnya, pertumbuhannya tidak hanya ke atas tapi juga ke depan dan ke samping. Satria Kundang remaja diperankan oleh teman kita yang serba bisa  alias bisa segala-galanya, kalau ibarat tempat makan mungkin namanya pujasera. Tak lain dan tak bukan, dia adalah M. Gauss Sitompul. Setelah remaja, Satria Kundang meninggalkan ibunya dan pergi merantau untuk melanjutkan sekolah atas biaya pamannya, Isulinda Perangin-angin. Ketika masa-masa di SMA, Satria Kundang jatuh cinta pada seorang gadis sederhana bernama Kurnia Ratna. Mereka pun berpacaran sampai kelas 3 SMA. Itulah saat-saat indah Satria Kundang bersama Ratna.

Tiwi & Retno, nyanyi :
Resah dan gelisah menunggu di sini
Di sudut sekolah tempat yang kau janjikan
Ingin jumpa denganku walau mencuri waktu
Berdusta pada guru

Malu aku malu pada semut merah
Yang berbaris di dinding menatapku curiga
Seakan penuh tanya sedang apa di sini
Menanti pacar jawabku

Sungguh aneh tapi nyata tak ‘kan terlupa
Kisah kasih di sekolah dengan si dia
Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah

Setelah lulus SMA, Satria Kundang ikut tes seleksi masuk ke Program Diploma (Prodip) Keuangan. Dia berhasil lulus dan kuliah di Kampus Jurang Mangu. Singkat cerita Satria Kundang sekarang sudah bekerja menjadi pegawai di Kementerian Keuangan. Dia melanjutkan kuliahnya sampai kemudian lulus dengan menyandang gelar sarjana. Dia baru saja mendapat promosi sebagai Pejabat Eselon Tiga.

Semenjak menjadi pejabat eselon tiga, dia menjadi pemuda yang kaya raya dan begitu sombong. Kisah asmaranya masih berlanjut dengan Ratna. Suatu saat dia bertugas pergi ke kampung halamannya. Dia bertemu dengan teman akrabnya di masa kecil, Irwan. Ketika Irwan melihat Satria datang, dia memanggil Satria Kundang dan berusaha untuk memeluknya tetapi Satria menolak. “Hey, siapa kau. Aku tidak pernah punya teman yang kurus seperti kau, ingat itu.” Akhirnya Irwan berlari menuju ke rumah ibunda Satria Kundang. Irwan melaporkan bahwa Satria Kundang datang. Ibunda Satria Kundang pergi menuju tempat Satria Kundang.

Satria Kundang kini menjadi anak yang durhaka. Ketika ibunya datang ke rumah Pak Isulinda, ibunya bertemu dengan Satria Kundang. Satria merasa malu dan tidak mengakui ibunya. Bagaimanakah kisah selanjutnya, mari kita lihat di Te Ka Pe.

“Satria Kundang, aku adalah ibumu. Akulah yang melahirkanmu. Kemarilah, ibu ingin memelukmu nak.” Ibu Satria Kundang mendekat dan berusaha ingin memeluk anaknya. “Apa?!, Ibuku?! Tidak, aku tidak punya ibu seperti kau, ibuku sudah lama meninggal,” Satria Kundang memaki-maki ibunya. 

Ibu Satria Kundang sangat terpukul dan begitu bersedih dengan ucapan anak kandungnya sendiri. Ibu Satria Kundang berniat untuk mengutuk anaknya menjadi Patung Pancoran, namun sebelum sumpah serapahnya terucap, Sang Paman, berusaha untuk mencegahnya. “Mbak yu, jangan kau kutuk anakmu menjadi patung pancoran. Nanti kau akan menyesal seumur hidup. Lebih baik kita kirim saja Satria  Kundang ke Magelang untuk mengikuti Diklatpim 3. Bagaimana mbak yu?” Akhirnya ibunda Satria Kundang setuju, “Okelah kalo begitu. Okelah kalo begitu”

Magelang tak akan kulupa
Tempat kita berlatih bersama
Siang malam selalu ditempa
Untuk menjadi anak yang berguna
Itulah harapan paman dan ibunda
Untuk menjadi anak yang berguna

Setelah melewati waktu kurang lebih tujuh minggu, dengan pelatihan dan pengayaan materi dan presentasi, akhirnya Satria Kundang pulang ke Kampuang Nan Jauh di Mato. Satria Kundang kini sudah menyadari kekeliruannya. Dia sekarang kembali menjadi anak yang baik. Satria Kundang kini menjelma menjadi sosok yang baru, yang diperankan oleh Pak P. Epi Sumanto. Namun ibu kandungnya tidak mengenal dan mengakui Satria Kundang sebagai anaknya. Teman kecilnya, Irwan juga tidak mengakuinya. Penduduk Kampuang Nan Jauh di Mato juga tidak mengenalnya. Mereka mengusir Satria Kundang untuk pergi meninggalkan kampung mereka. Satria Kundang begitu sedih. Dia tak tahu harus pergi ke mana. Dia tak tahu, arah mana yang akan dituju. Ke sana ke mari membawa alamat. Ternyata semuanya alamat palsu. Akhirnya Satria Kundang menyesali semua perbuatannya. Dia pun berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar diberikan jalan yang terbaik. Kini Satria Kundang bertugas di daerah Maluku Tenggara.

Demikian cerita opeje opeje-an kali ini, semoga bisa menghibur teman-teman semua. Sampai berjumpa lagi besok dengan lakon yang berbeda. Di sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengah Pulau Jawa. Dalangnya bingung, wayangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa. Sampai berjumpa lagi di opeje-opeje-an, Ya E..!

Cerita ini diangkat dan dikembangkan dari Kisah Satria Kundang yang ditampilkan  pada saat Outbond Diklatpim Tingkat III angkatan 49 di Pondok Remaja Salib Putih, Salatiga tanggal 25 – 27 Maret 2013.

Magelang, 12 April 2013.
(Nara Sumber : Widodo Sunarko)

  Kunto Prasti Trenggono sebagai Dalang

 
  Satriotomo sebagai Satria Kundang anak-anak

Harmani Sri Mumpuni sebagai Bundo

Irwan sebagai Irwan (teman Satria)

M. Gauss Sitompul sebagai Satria Kundang Remaja

P. Epi Sumantosebagai Satria Kundang Dewasa

Kurnia Ratna sebagai Ratna (Pacar Satria Kundang)

Retno dan Tiwi sebagai Sinden


Widodo Sunarko sebagai Layang-layang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By