Breaking News

Senin, 18 Maret 2013

ANAK KOS YANG MENGINAP DI HOTEL


Oleh : Guntur Sumitro

Tidak ada perbedaan waktu antara Pontianak dan Jakarta. Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Pramugari Lion Air ketika pesawat akan mendarat di Bandara Supadio Pontianak. Sampai sekarang kata-kata tersebut masih terngiang-ngiang di telingaku. Sejenak aku melihat jam tanganku, waktu menunjukkan pukul dua puluh lewat empat puluh lima menit.

Hari itu adalah hari pertama di tahun yang baru, tepatnya Selasa tanggal 1 Januari 2013. Di hari pertama, di bulan pertama tahun 2013 ini untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Bumi Khatulistiwa, Propinsi Kalimantan Barat. Sebuah provinsi di bagian barat pulau Kalimantan. Sebelumnya aku pernah bertugas di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di Kota Samarinda pada tahun 2002 sampai tahun 2007. 

Aku tinggal bersama beberapa orang teman di tempat kos di jalan Karya Bakti III nomor 17 Kota Pontianak. Tak terasa sebulan sudah aku jalani hari-hari sebagai anak kos. Kegiatanku sehari-hari adalah berangkat ke kantor setiap Senin sampai Jumat. Selain itu aku dan teman-teman mengisi kegiatan dengan bermain bulutangkis dua kali seminggu, setiap hari Senin dan Rabu malam. Pada hari Sabtu dan Minggu kami mempunyai kegiatan mancing.

Pada tanggal 4 sampai dengan 14 Februari 2013, aku mengikuti diklat PBJ yang dilaksanakan di Hotel Kapuas Palace, Kota Pontianak. Bagi para peserta diklat disediakan penginapan selama mengikuti diklat. Sebetulnya bagi peserta diklat yang tinggal di Kota Pontianak, bebas memilih untuk pulang ke rumah atau bisa juga menginap di hotel.

Aku berkemas-kemas menyiapkan pakaian dan perlengkapan untuk keperluan sehari-hari selama tinggal di hotel. Hari Minggu sore, tanggal 3 Februari 2013 dengan berat hati aku meninggalkan tempat kos. Tempat yang selama satu bulan ini menjadi rumahku selama aku berada di Kota Pontianak. Selepas waktu Ashar kira-kira jam empat sore aku tiba di Resepsionis Hotel Kapuas Palace Kota Pontianak. Tidak ada perbedaan waktu antara di Hotel Kapuas Palace dan Tempat Kosku. Tapi yang jelas, banyak sekali perbedaan-perbedaan yang aku jumpai di sini. Kamar di hotel menggunakan AC, sedangkan kamar di tempat kos menggunakan kipas angin baling-baling yang terpasang di langit-langit kamar. Kalau tengah malam lupa mematikan kipas angin bisa-bisa masuk angin. Di hotel, kamar mandinya di dalam sedangkan di tempat kos kamar mandinya di luar alias kamar mandi umum, kalau mau mandi harus antri. Selain itu selama mengikuti diklat, para peserta disediakan berbagai macam fasilitas yaitu, makan tiga kali dalam satu hari plus dua kali makanan ringan (snack) dan kopi/teh. Disediakan pula cuci pakaian gratis atau Londry sebanyak enam helai pakaian dalam sehari. Di hotel terdapat kolam renang yang bisa digunakan kapan saja kalau kita mau. Ya, itulah perbedaan-perbedaan yang aku temukan di sini.

Aku selalu teringat teman-teman kosku di saat aku sarapan, ketika aku makan siang dan pada waktu makan malam. Aku membayangkan mereka malam ini menunya apa ya? Bila aku sedang makan yang enak-enak seperti ini, aku jadi  teringat pada  mereka. Apakah mereka juga merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan malam ini? Kami selalu makan malam bersama meskipun dengan menu seadanya. Sementara makan malamku setiap hari di sini menunya serba ada.  Benar-benar perbaikan gizi dan perbaikan kesejahteraan. Tak lupa aku bersyukur kepada Tuhan seperti apa yang tertulis dalam status Facebook, “Ya Allah, terimakasih atas hidangan yang lezat malam ini dan sembilan hari ke depan. Aku bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan kepadaku.”

Kadang-kadang aku dan teman-teman diklat merasa jenuh juga dengan menu yang serba lengkap. Tetapi inilah yang namanya nikmat, biar bagaimanapun harus tetap kita syukuri. Daripada harus beli atau jajan di luar, sudah pasti harganya mahal. Untuk membunuh kejenuhan, sekali-kali kami jalan-jalan ke toko buku, nonton film di bioskop atau sekedar lihat-lihat di mall, tentunya setelah selesai makan malam. Kadang-kadang kami sempatkan nongkrong untuk ngopi di WK Winny di jalan Gajah Mada di seberang Hotel Orchadz. Setiap hari di dalam kelas, setiap hari belajar lama-lama bosan juga.            

Tanggal 14 Februari 2013 adalah saatnya pelaksanaan ujian bagi para peserta diklat dan juga para peserta ujian yang tidak mengikuti diklat. Hari itu adalah hari terakhir kami mendapatkan jatah makan siang di hotel. Kami pun sudah harus meninggalkan hotel siang itu juga. Semua fasilitas dan kenikmatan yang selama ini diberikan sudah dicabut. Para peserta kembali ke asalnya masing-masing.

Setelah selesai makan siang, aku kembali ke kantor untuk menemui seorang tamu yaitu pegawai dari Bagian Kepegawaian kantor pusat. Meskipun seharusnya aku boleh langsung pulang ke tempat kos untuk istirahat. Menjelang waktu Maghrib aku tiba di tempat kosku yang selama sepuluh hari ini aku tinggalkan. Memang terasa  aneh ketika aku harus kembali ke tempat kos. Ini memang nyata dan ini sungguh-sungguh terjadi, aku tidak bermimpi. Selama ini, selama sepuluh hari ini aku menginap di hotel, kini aku harus kembali tidur di tempat kos yang sederhana. Inilah tempat kos yang aku rindukan. Meskipun sederhana tetapi membuat diriku merasa nyaman. Aku pun disambut hangat oleh teman-teman kos ku. Aku berkata dalam hati, “Selamat tinggal dunia mimpi, selamat kembali ke dunia nyata. Selamat tinggal kemewahan dan selamat menikmati kesederhanaan.” Malam itu aku dan teman-teman kos kembali makan malam bersama. Suasana seperti ini yang selalu aku rindukan.
 
Itulah pengalamanku ketika mengikuti diklat selama sepuluh hari di hotel dan untuk sementara meninggalkan tempat kos. Pada tanggal 1 Maret 2013, setelah aku pulang dari Kota Singkawang, ada kabar yang memberitahukan bahwa aku tidak lulus. Ternyata dari 59 orang peserta hanya 2 orang yang lulus ujian. Semoga di lain kesempatan aku bisa ikut ujian dan berhasil lulus, amiiin ya Allah.

Pontianak, 18 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By