Breaking News

Kamis, 14 Februari 2013

HIKMAH LARANGAN MEROKOK

“Segala sesuatu ada hikmahnya”. Begitu kira-kira salah satu ucapan menghibur yang dilontarkan pimpinan ketika peresmian diberlakukannya Surat Edaran (SE) Menteri tentang larangan merokok. Yah, memang terkesan dipaksakan, tapi apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur, meski sebenarnya penulis lebih suka soto (#@^!?).

Mulanya, penetapan berlakunya SE tersebut mendapatkan protes, walaupun hanya berupa obrolan yang tak satupun berani menyampaikannya kepada pimpinan. Protes dalam hati. Tercatat 13 dari 40an pegawai kantor ini adalah perokok aktif, termasuk 1 orang perokok semi aktif, perokok aktif yang tidak pernah membeli rokok. Rojali, begitu teman-teman menyebutnya (Rokok Jarang Beli, tapi pinjem - :).

Larangan merokok di kantor ini diterapkan dengan tegas, menyeluruh, tanpa ampun. Siapapun, baik untuk tenaga honorer, pelaksana, pejabat bahkan Ketua DPRD (karena kantornya memang bukan disini). Di manapun, baik itu di teras kantor, basement, kamar mandi, gudang, maupun di atas genting. Mungkin yang Anda pikirkan benar, merokok di atas genting sudah dilarang sejak negara ini belum merdeka. Dan mengenai perjalanan panjang para pahlawan kemerdekaan sebaiknya Anda baca di buku-buku sejarah tingkat SD hingga SLTA. Penulis selanjutnya akan menceritakan salah satu hikmah dari berlakunya aturan dilarang merokok di areal kantor. Kisah (agak) nyata.

Sebut saja Hari (nama sebenarnya Harry Azwan, penulis samarkan menjadi Hari, dengan alasan lebih gampang ngetiknya). Hari adalah pegawai kantor ini yang pernah mencetak rekor jumlah keterlambatan terbanyak pada tahun 2010 silam. Penulis tahu betul karena saat itu penulis adalah petugas absen kantor ini. Alasannya klasik, bangun kesiangan. Kadang sempat mandi, kadang istirahat siang baru sempat mandi. Untuk masalah gosok gigi sebaiknya Anda tanyakan sendiri kepada yang bersangkutan. Penulis tidak mengamati sampai kesana.

Namun, belakangan ini ia sudah jarang terlambat. Bahkan hampir tidak pernah terlambat. Setiap bangun kesiangan, Hari langsung meluncur ke kantor, absen, balik ke kost, tidur lagi sejenak, mandi, sarapan, lalu balik ke kantor lagi. Biasanya Hari sampai kantor kembali sekitar pukul 8 : 30 (kecuali tidur sejenaknya diperpanjang). Sesampainya di kantor, ritual rutin Hari adalah pesan kopi di pantry dan merokok di depan ruangannya. Kopinya? Ya diminum sambil merokok. Kebiasaan rutin ini sudah seperti nafas dan denyut jantung buat Hari, tidak bisa tidak. Seperti iklan jual beli online “sekalipun hujan badai, ngopi dan merokok di depan ruangan tetap jalan” (asal badainya cuma pelan).

Betapa terpukulnya Hari ketika SE larangan merokok ditetapkan dan diberlakukan di kantor ini. Hari-harinya terlihat hampa, pandangannya kosong, dan lebih sering menyendiri. Tapi itu semua karena tanggal tua, bukan karena larangan merokok. Terkait adanya larangan merokok di kantor ini, Hari tergolong pihak yang menyayangkan aturan tersebut. Larangan diberlakukan tanpa adanya toleransi ataupun penyediaan ruangan alternatif untuk para perokok. Setelah beberapa hari terpuruk dalam kesedihan (karena tanggal tua), akhirnya Hari bangkit. Dia memulai hari-harinya seperti biasa. Bangun tidur, absen, mandi, sarapan, balik kantor, lalu ngopi & merokok.

Untuk tempatnya merokok, sekarang Hari memilih teras musholla. Meski jaraknya tidak dekat, tapi tempatnya nyaman, tenang, luas & asri. Sesekali ia menyeruput kopi hitam kesukaannya, berkali-kali menghisap dan meniupkan asap rokoknya. Berbentuk bulat, hati, kotak dan tidak berbentuk. Kadang senyum-senyum sendiri (untuk hal ini hanya berlaku saat awal bulan).

Pilihan Hari merokok di teras mushola ternyata membawa kebiasaan baru. Setelah menghabiskan dua hingga tiga batang rokok mild, Hari langsung wudhu, lalu sholat. Alhamdulillah, mungkin inilah hikmah berupa hidayah dibalik kesengsaraannya. Beberapa teman yang melihatnya pun berkomentar, "Wah, gara-gara dilarang merokok di kantor, Si Hari jadi rajin sholat Dhuha," kata Pak Yuliarno, atasannya. "Wah, kunci motor saya mana ya?" Pak Heryantoro menimpali. Dan saat bertemu Hari, penulis yang juga penasaran iseng bertanya, "Rajin Dhuha, sekarang Har? Dua atau empat roka'at nih?". Berbisik Hari menjawabnya, "Sholat Subuh, Mas, hi hi hi ....."

(ditulis oleh : M. Dliyaul Umam)

Gambar hanya illustrasi
(Courtesy : M. Dliyaul Umam dan Slamet Irianto)

Harry Azwan (Hari)

M. Dliyaul Umam
Tentang Penulis :
M. Dliyaul Umam atau biasa disapa Umam, lahir di Bondowoso pada tanggal 2 Agustus 1982. Matt Umam merupakan nama bekennya. Kegiatannya sehari-hari adalah sebagai PNS di Kanwil DJKN Kalimantan Barat di kota Pontianak. Pria yang mempunyai hobby bermain musik ini, vocalnya lumayan bagus, tapi sering malu bila didaulat untuk nyanyi. Nggak PD alasannya, PD-nya kalo main gitar. Selain musik, Bapak 2 anak ini juga gemar membaca dan menulis. Hikmah Larangan Merokok adalah salah satu tulisannya. Kita tunggu tulisan berikutnya.    

2 komentar:

  1. hihihi...like it banget...kantor bebas rokok is kantor idamanku...

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By