Breaking News

Rabu, 09 Januari 2013

OBJEK WISATA DAN SENI BUDAYA PONTIANAK


Pendahuluan
Bumi Khatulistiwa merupakan sebutan yang paling populer untuk ibukota propinsi Kalimantan Barat, Pontianak, yang dilalui oleh garis khatulistiwa. Kota Pontianak didirikan pada tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrachman Alqadrie, keturunan Arab Saudi. Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia, dengan panjang 1.143 km yang membelah kota menjadi dua bagian. Sebagai ibukota provinsi, Kota Pontianak tidak hanya menawarkan daya tarik wisata kota tetapi juga keindahan alam, budaya dan keagungan sejarah yang pantas untuk dikunjungi. Daya tarik ini didukung oleh pusat-pusat hiburan termasuk diskotik, karaoke, cafe, pusat perbelanjaan dan berbagai jenis tipe penginapan dari yang berkelas internasional sampai yang sangat sederhana.  

Seni Budaya Kota Pontianak

Cap Go Meh
14 Februari
Sebagai rangkaian perayaan Tahun Baru Cina-Tionghoa (Imlek) digelarkan prosesi Cap Go Meh atau upacara ritual pada hari ke 15 setelah Imlek. Tatung/Sin Min/Loya turun ke jalan dan memasuki tempat pemujaan di perkampungan dengan diiringi sekelompok gendang untuk mengusir roh jahat.
Bersamaan dengan itu diselenggarakan juga Festival Cap Go Meh dan atraksi wisata lainnya sehingga membuat suasana kota semakin semarak dengan warisan budayanya. Atraksi yang menakjubkan ini hanya dapat ditonton di Singkawang, Sambas, Bengkayang, Mempawah, Sungai Piyuh, Sintang, Ketapang, Kubu Raya dan Pontianak.

Pesona Kulminasi Matahari
21-23 Maret dan September
Atraksi wisata seni dan budaya yang diselenggarakan berkenaan dengan fenomena alam Titik Kulminasi Matahari pada tanggal 21-23 Maret dan September, dimana bayangan benda pada siang hari di sekitar puncak tugu tersebut menghilang seketika, sebagai pertanda awal musim semi di dunia belahan utara. Para wisatawan mengexplorasi pengalamannya terhadap fenomena alam ini selama 5 – 10 menit.

Gawai Dayak
18 Mei
Merupakan salah satu pesta sebagai ucapan terimakasih kepada Sang Pencipta “Jubata” atas panen padi yang berlimpah, dapat melambangkan persatuan, aspirasi, identitas kemakmuran serta memperkenalkan bahwa masyarakat Dayak memiliki andil dalam pemersatuan bangsa Indonesia. Festival ini wajib dikunjungi untuk menyaksikan berbagai macam atraksi Suku Dayak asli pada saat Karnaval keliling kota, ritual, pameran, fashion show serta kontes Bujang Dara, ukiran kayu, tarian, dan berbagai permainan rakyat. Hanya dapat disaksikan di Rumah Betang Jl. Sutoyo, Pontianak.

Hari Jadi Kota Pontianak
23 Oktober
Hari ulang tahun Kota Pontianak diperingati dengan menyelenggarakan Pontianak Fair, permainan rakyat dan panggung hiburan serta event-event berikut :

Lomba Sampan
Berlokasi di Sungai Kapuas. Wisatawan dapat menyaksikan perlombaan sampan tradisional dengan beraneka ragam bentuk dan warna.

Festival Layang-layang
Kegiatan festival layang-layang adalah event yang diadakan dalam rangka mensukseskan visit Indonesia Year dan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Pontianak.

Pemilihan Bujang Dare
Pemilihan bujang dare Kota Pontianak guna mencari duta pariwisata Kota Pontianak. Ajang pemilihan ini diikuti para pemuda dan pemudi di Kota Pontianak.

Meriam Karbit
Seni permainan rakyat yang spektakuler oleh masyarakat di sekitar Jembatan Sungai Kapuas Kota Pontianak menjelang malam Lebaran Idul Fitri. Dentuman dahsyat festival suara meriam dari dua sisi pinggiran Sungai Kapuas menjadi kebanggaan pengunjung sebagai tanda berakhirnya masa Bulan Puasa.

Malam Tahun Baru
31 Desember
Merupakan rangkaian kegiatan menyambut Tahun Baru. Pertunjukan berupa panggung hiburan terbuka dengan menampilkan artis lokal terbaik dan penyanyi terkenal dengan peralatan kombinasi antara musik tradisional dan modern. Sungguh pengunjung akan merasakan sangat terhibur pada pertunjukan Tahun Baru ini.

Objek Wisata

Tugu Khatulistiwa
Sekitar lima kilometer setebelah utara dari pusat Kota Pontianak, dapat ditemukan sebuah tanda garis Khatulistiwa yang membagi bumi menjadi dua bagian. Tempat ini ditandai oleh sebuah tugu ataupun monumen yang ditemukan pada tahun 1928 oleh sebuah Ekspedisi Astronomi Belanda. Pada 1938 atau tepatnya sepuluh tahun kemudian Tugu Khatulistiwa direnovasi dan dikembangkan kembali oleh seorang arsitek Indonesia, bernama Sylaban.
Kejadian alam yang unik dimana posisi titik perpotongan antara pusat matahari dengan garis khatulistiwa berada pada 109201 00 Bujur Timur atau disebut kulminasi atas terjadi pada setiap tanggal 21-23 Maret dan September menjelang tengah hari. Pada saat itu semua benda yang berada di sekitar tugu tidak memiliki bayangan. Puncak peristiwa kulminasi matahari ini dapat disaksikan hanya selama sekitar 5-10 menit.

Makam Batulayang
Makam Batulayang juga biasa disebut sebagai taman makam dari Kerajaan Pontianak, mulai dari raja pertama (Sultan Syarif Abdurrachman Alqadrie) hingga raja terakhir (Sultan Hamid II) serta beberapa keluarga raja. Tempat ini ramai dikunjungi khususnya pada hari besar Islam. Makam ini terletak sekitar 2 km dari Tugu Khatulistiwa dan dapat dicapai dengan menggunakan bis atau sampan.

Masjid Jami’
Masjid Jami’ adalah salah satu masjid peninggalan masa kesultanan Pontianak. Lokasinya berasa di pinggiran sungai yang indah dan masih asli. Setiap Jum’at siang, kayu belian yang ada di dalam masjid ini menjadi pusat bagi masyarakat sekitar yang memperingatinya. Masjid ini terletak sekitar 200 meter dari Keraton Kadariyah.

Keraton Kadariyah
Keraton Kadariyah yang berada di Kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrachman Alqadrie pada tahun 1771. Keraton ini memberikan daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya dengan banyaknya artefak dan benda bersejarah lainnya. Disamping itu terdapat koleksi tahta, meriam, benda-benda kuno, barang pecah belah, foto keluarga yang menggambarkan kehidupan di masa lampau.

Taman Alun Kapuas
Taman rekreasi ini terletak di Jalan Rahadi Oesman, tepatnya di depan Kantor Walikota Pontianak. Taman Alun Kapuas merupakan tempat yang indah dan nyaman untuk bersantai sambil menikmati pemandangan Sungai Kapuas dengan aktivitasnya. Taman ini dibuka setiap hari mulai dari tengah hari hingga larut malam. Ferry merupakan alat angkutan penting yang menghubungkan pusat kota dengan daerah lainnya.

Replika Rumah Panjang
Replika Rumah Panjang merupakan sebuah miniatur rumah panjang tradisional Suku Dayak di daerah pedalaman Kalimantan. Rumah Panjang ini dibangun dengan tiang yang panjangnya lebih dari 2 meter di atas tanah. Di dalam Rumah Panjang, pengunjung dapat melihat lingkungan kehidupan etnis Dayak Kalimantan. Replika Rumah Panjang ini terletak di Jalan Sutoyo atau sekitar 200 meter dari Museum Provinsi.

Rumah Melayu
Rumah Melayu yang terletak di Jalan Sutan Syahrir Pontianak merupakan replika rumah tradisional etnis Melayu yang ada di Kalimantan Barat. Rumah ini memiliki nilai tradisi, adat dan budaya Melayu. Rumah Melayu menawarkan fasilitas seperti berbagai jenis ruang pertemuan dengan kapasitas maksimal 800 orang, ruang VIP dan tempat parkir di lantai dasar.

Vihara Bodhisatva Karaniya Metta
Vihara ini merupakan Vihara tertua dan terbesar di Kalimantan Barat. Pada tahun 1679 seorang keturunan Cina bernama Lim dari tiongkok datang ke Pontianak dengan membawa patung yang disebut Macou (yang berarti Putri Samudra). Vihara ini pertama-tama dikenal sebagai Kelenteng Tiga (Temple of Three/Tri Dharma Bhakti/Tian Hou Keng). Pada tahun 1985 nama Vihara ini diubah menjadi Vihara Bodhisatva Karaniya Metta yang berarti Cinta Tuhan.

sumber : Dinas Pariwisata Kota Pontianak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By