Breaking News

Kamis, 17 Januari 2013

NASIB ANAK KOS

Oleh : Goen Smith


Aku resmi menjadi anak kos sejak menginjakkan kaki pertama kali di Kota Pontianak TMT 1 Januari 2013. Banyak yang bilang kalau anak kos nasibnya sedih, susah dan memprihatinkan. Anak kos itu identik dengan makan mie instan tiap hari. Katanya anak kos seperti lagunya Bang Chacha Handika yang judulnya “Angka Satu”. Liriknya begini, “Masak- masak sendiri, Makan-makan sendiri, cuci baju sendiri, tidurpun sendiri.” Jadi semua itu nggak benar, saudara-saudara!!

Aku kos di Karya Bakti III No. 17 Kota Pontianak. Aku dan teman-teman kos bersatu dalam kebersamaan karena perasaan senasib dan sepenanggungan. Untuk makan siang dan makan malam kami pesan katering yang diantar ke kantor. Pengen cuci baju tinggal telpon Londry nanti diambil ke tempat kos. Dua hari kemudian diantar dalam keadaan bersih, rapi dan wangi, siap untuk dipakai lagi.

Sebagai anak kos aku tak merasa kesepian, karena banyak teman-teman. Hidup juga tidak terlalu kaku seperti angka satu. Kami punya kegiatan rutin olahraga bulutangkis seminggu 2 kali. Kalau hari libur atau weekend kami punya kegiatan yang kami beri nama Mancing Mania.

Kami punya kebiasaan yang unik soal makan malam dan sarapan pagi. Bila makan malam porsinya cukup banyak, biasanya teman-teman tidak habis nasinya tapi lauknya malah kurang. Akhirmya nasinya kami kumpulkan untuk dibuat sarapan nasi goreng besok pagi. Bukan nasi sisa loh, tapi nasi yang sengaja disisihkan sebelum makan.

Pagi-pagi sekali aku bangun tidur sementara teman-teman masih terlena di alam mimpi. Aku ingin membuat menu nasi goreng buat sarapan pagi teman-teman. Aku menyiapkan bahan-bahan, bumbu-bumbu dan juga peralatannya di dapur. Semua bahan dan bumbu saya masukkan. Diaduk-aduk, dibolak-balik Side A dan Side B agar masakan tercampur rata dan sempurna.   

Taraaa ……. This is it! Nasi Goreng Serangan Fajar ala Chef Pak Kabu siap disajikan. 

Aku bangunkan tetangga kamar sebelah. “Tok … tok … tok … Room Service. Nasi goreng sudah siap”. Pak Yuliarno keluar dari kamarnya. Dia kaget melihat menu nasi goreng sudah siap di atas meja. Dengan suara keras, Pak Yuli berteriak membangunkan teman-teman. “Pak Purwanto, Pak Anjoni, Mas  Edi, nasi gorengnya sudah siap…!!”

Dalam hitungan detik mereka datang dengan membawa piring kosong dan sendok. Mereka siap untuk menikmati nasi goreng. “Loh, kapan bikinnya? Kok saya gak tahu?” kata Pak Purwanto.

“Ehm ….. enak nih, Bapak yang masak? Sesuai SOP nggak Pak?” begitu komentar Mas Edi.    “Emang SOP-nya gimana? Yang bikin SOP aja belum bangun kok,“ jawabku.

“Wah, ini nasi goreng ala Koki Kita yang baru ini. Gimana rasanya Pak Pur, lebih enak kah?” tanya Pak Anjoni. Sambil menikmati nasi goreng, Pak Purwanto berkata, “Pak Anjoni, kita ini anak kos. Jadi jangan bicara masalah rasa, tapi yang penting ada. Menurut saya, soal rasa itu nomor dua.  Pokoknya apa yang ada, sikat aja. Perut kenyang dan hati bahagia”.

Begitulah nasib  anak-anak kos. Hidup itu harus kita jalani bukan untuk diratapi. Kita harus selalu mensyukuri apa yang ada. Seperti lagunya D’Masiv, “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik”.

Tuhan pasti ‘kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa”
(Jangan Menyerah - D’Masiv)

Pontianak, 17 Januari 2013. 

Catatan :
Cerita ini pernah dibacakan oleh Pak Yuliarno dalam acara Perpisahan dengan Pak Purwanto pada tanggal 29 Januari 2013 di Kanwil XI DJKN Pontianak. 

http://www.youtube.com/watch?v=mTp-OxfkCao 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By