Breaking News

Minggu, 30 Desember 2012

KERINDUAN PARA EKSIL



Oleh : Thalatie K. Yani

Sebuah Novel Pulang
Penulis : Leila S. Chudori
Dahulu, mereka pergi dari Indonesia demi kepentingan selama seminggu. Nyatanya, puluhan tahun mereka tak pulang dengan pendaman rindu.

Dimas Suryo tidak menyangka dirinya harus terdampar di Paris, Prancis, dan tidak bisa kembali ke Tanah Air. Dimas, pada 1965, mendampingi rekannya, Nugroho Dewantoro, menghadiri konferensi di Peking, China dan Santiago, Cile, di Amerika Latin.

Bertepatan dengan hari berlangsungnya konferensi, meletus Peristiwa 30 September 1965 di Indonesia. Paspor mereka dicabut. Mereka tidak bisa kembali ke Tanah Air.

Perjalanan Dimas yang menggantikan redakturnya, Hananto Prawiro, sempat membawanya ke Kuba, China, dan tiba di dataran Eropa. Ia pun menjadi seorang eksil politik Indonesia. Dia tidak sendirian. Nugroho pun bernasib serupa, juga Risjaf dan Tjai Sin Soe.

Selama hidup di Paris, Dimas kebingungan. Dua surat di kantongnya menjadi dilema. Surat dari adiknya, Aji Suryo, mengatakan bahwa sang adik dan ibu mereka dipanggil tentara dan diinterogasi mengenai Hananto. Ibu menekankan sebaiknya Mas Dimas tetap di Eropa saja. Kami sudah merasa lebih tenang di Jakarta, begitu penggalan surat Aji.

Satu lagi, surat dari Kenanga, putri sulung Hananto. Ia bercerita tentang penderitaan ibunya, Surti Anandari, yang terus-menerus diinterogasi tentang keberadaan sang ayah. Juga tentang penderitaan kedua adik Kenanga yakni Bunga dan Alam.

Di tengah kemelut itu dan di tengah gerakan mahasiswa pada Mei 1968 di Prancis, Dimas bertemu Vivienne Deraux. Vivienne membantunya bangkit hingga Dimas dan ketiga temannya mendirikan sebuah restoran. Dimas berperan sebagai koki.

Hubungan Dimas dan Vivienne berlanjut. Mereka menikah dan memiliki anak bernama Lintang Utara. Meski memiliki nama Indonesia, Lintang belum pernah menyentuh tanah kelahiran Dimas. Hingga akhirnya, untuk merekam pengalaman keluarga korban Tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliah, Lintang berkesempatan untuk menginjak Indonesia.

Di Indonesia, Lintang bertemu Segara Alam, putra Hananto yang menjadi tahanan politik (tapol). Mereka lalu menjadi saksi mata peristiwa kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia, yakni kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun.

Riset
Begitulah Leila S. Chudori menuliskan kisah para eksil dalam novel terbarunya berjudul Pulang yang baru diluncurkan Rabu (12/12). Leila mengaku terinspirasi menulis buku setelah berkunjung ke restoran Indonesia di Paris, Prancis. Di sana ia bertemu dengan empat eksil yang mendirikan restoran itu.

Dari pertemuan itu, Leila melakukan riset tentang Peristiwa 1965, Peristiwa Mei 1968 di Paris, Prancis, dan tentunya Peristiwa 1998 di Jakarta. Riset yang dilakukan selama enam tahun sejak 2006 membawanya kembali ke Paris dua kali.

“Terakhir tahun 2012, saya ada undangan ke Amsterdam untuk festival sastra, sekalian saya ke Paris untuk riset saya yang terakhir,” ujar Leila seusai peluncuran bukunya di Goethe Institute, Jakarta.

Meski menggunakan latar belakang sejarah, Leila mengaku buku itu adalah drama. Ia memasukkan unsur sejarah agar masyarakat tidak melupakan peristiwa masa kelam yang telah terjadi di Indonesia.

“Menggunakan background sejarah, salah satunya melawan lupa. Bukan karena dendam, tapi cerita tentang para eksil,” ujarnya. “Ini semua sejarah, tapi kalau Anda baca, tidak terasa sejarahnya. Benar-benar drama rasanya. Tapi bukan tempelan karena mereka semua benar tokoh-tokoh.”

Namun, Leila yang menulis dengan gaya realis mengaku tidak bisa menulis secara keras peristiwa sebenarnya. “Peristiwa-peristiwanya tidak persis banget karena peristiwa yang mereka alami itu lebih keras daripada yang saya ceritakan. Di sini saya buat lebih lunak karena saya tidak kuat membuat sekeras mereka,” ujarnya.

Humanis
Banyak orang, memang seperti diakui Leila, sudah menulis tentang peristiwa 1965. Namun, ia sengaja menulis soal eksil, yakni mereka yang pergi ke luar negeri bukan sebagai duta besar atau pelajar, melainkan yang sedang mengikuti konferensi dan tidak bisa kembali ke Indonesia.

“Saya fokuskan cuma konferensi, jadi mereka ikut konferensi, artinya ada yang cuma bawa ransel yang cuma buat seminggu. Paspornya dicabut dan tidak bisa pulang dan menjadi stateless untuk waktu yang lama,” ujarnya.

Rasa sedih dan tekanan hidup seorang istri salah satu tapol pun disertakan. “Semua saya tulis dari sisi humanis, bukan dari sisi politiknya,” tambah Leila.

Para eksil, tutur perempuan kelahiran 12 Desember 1962 itu, kebanyakan bukan orang-orang yang terlibat PKI atau Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), melainkan orang-orang yang disebut sebagai ‘pengelana’, yang bersahabat dengan semua pihak termasuk tentara.

Hal itu yang menjadi latar belakang dari sosok Dimas. Kisahnya mengalir dari kebingungan, kerinduan, juga kesedihan karena jauh dari Tanah Air, termasuk tidak dapat ikut memakamkan sang bunda saat meninggal dunia.

sumber : Media Indonesia, Minggu 16 Desember 2012

Leila S. Chudori
Lahir di Jakarta 12 Desember 1962. Karya-karya awal Leila dipublikasikan saat ia berusia 12 tahun di majalah Si Kuncung, Kawanku, dan Hai. Pada usia dini, ia menghasilkan buku kumpulan cerpen berjudul Sebuah Kejutan, Empat Pemuda Kecil, dan Seputih Hati Andra.

Leila menempuh pendidikan di Lester B. Colleges) di Victoria, Kanada, dan dilanjutkan studi Political Science dan Comparative Development Studies dari Universitas Trent, Kanada. Selama itu ia menulis di majalah Zaman, Horison, Matra, jurnal sastra Solidarity (Filipina), Menagerie (Indonesia), dan Tenggara (Malaysia).

Buku kumpulan cerita pendeknya Malam Terakhir (Pustaka Utama Grafiti, 1989; Kepustakaan Populer Gramedia, 2009, 2012) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman Die Letze Nacht (Horlemman Verlag).

Sejak tahun 1989 hingga kini bekerja sebagai wartawan majalah berita Tempo.

Leila adalah penggagas dan penulis skenario drama televisi Drama TV berjudul Dunia Tanpa Koma (produksi SinemArt, sutradara Maruli Ara) yang menampilkan Dian Sastrowardoyo dan ditayangkan RCTI pada 2006. Drama televisi ini mendapat penghargaan Sinetron Terpuji Festival Film Bandung 2007 dan Leila menerima penghargaan sebagai Penulis Skenario Drama Televisi Terpuji pada festival dan tahun yang sama.

Terakhir, Leila menulis skenario film pendek Drupadi (produksi SinemArt dan Miles Films, sutradara Riri Riza), sebuah tafsir kisah Mahabharata; dan film Kata Maaf Terakhir (Maruli Ara, 2009) yang diproduksi SinemArt.

Pada tahun 2009, Leila S. Chudori meluncurkan buku kumpulan cerpen terbarunya “9 Nadira” dan penerbitan ulang buku “Malam Terakhir” oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) yang dilangsir oleh Agus Noor dalam harian Kompas sebagai “kembalinya anak emas sastra Indonesia”. Kedua buku nya Malam Terakhir dan 9 dari Nadira kini dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Yayasan Lontar.

Leila kini sedang menggarap lanjutan 9 dari Nadira dan kumpulan cerita seorang pembunuh bayaran, Lembayung Senja.

Leila berdomisili di Jakarta bersama puteri tunggalnya, Rain Chudori-Soerjoatmodjo yang juga menulis cerita pendek dan resensi film.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By