Breaking News

Senin, 05 November 2012

SARAN UNTUK PARA PENULIS


Oleh : Ahmad Tohari

Penulis Ahmad Tohari punya nasihat untuk para penulis masa kini. “Tulislah sesuatu yang sangat lokal dan kontekskan ke global serta dalam kualitas global, tidak murahan. Sesungguhnya tidak ada tataran lokal yang terpisah secara global,” kata penulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk saat menjadi pembicara dalam diskusi sastra Melayu di Singapore Writers Festival di Singapura, kemarin.
Tohari mencontohkan karyanya tersebut yang ditulis berdasarkan pengalaman yang sangat lokal. “Tapi kemudian saya merasa sudah berbuat sesuatu secara global ketika novel saya mendunia,” kata Tohari.
Budayawan asal Banyumas itu mencontohkan tema kemiskinan, suatu hal yang bisa ditulis dengan basis lokal. Namun, hal itu juga merupakan sesuatu yang global. “Begitu juga ketika saya baca karya John Steinbeck Positano tentang kegilaan, saya jadi teringat kegilaan yang mirip di tempat saya,” katanya.
Pria kelahiran 13 Juni 1948 itu khawatir para penulis saat ini hanya terpukau hal-hal yang mereka anggap global dan lupa pada yang lokal.

Sumber :
Media Indonesia, Senin 5 November 2012

Ronggeng Dukuh Paruk
Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pendukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten. Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu. Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul, harapan yang makin lama makin membuncah. Tapi, ternyata Srintil kembali terempas, kali ini bahkan membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat secuil pun...

Sumber :
www.bukukita.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By