Breaking News

Senin, 26 November 2012

RASA KANGENKU

Oleh : Godhel Dheafer


Namaku Rustinih. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku mempunyai ibu yang bernama  Waskem. Aku sangat sayang pada ibuku. Meskipun aku sering membuat ibuku kesal, jengkel, tapi Ibu tetap sabar menghadapi sifatku yang seperti ini.

Ketika itu saat liburan sekolah, aku membantu Ibu beres-beres rumah. Tiba-tiba Ibu mengeluh dan merasakan sakit di bagian perutnya. Aku langsung bertanya pada Ibu “ Bu, kenapa kok kelihatan lemas gitu?” Ibu menjawab “Engga apa-apa Dee, Ibu cuma capek aja kok.Lalu aku  berkata,Ya sudah, Ibu istirahat saja biar dede yang melanjutkan pekerjaan Ibu

Keesokan harinya, Ibu masih merasakan sakit di bagian perutnya. Aku takut dengan kondisi Ibu pada saat itu. Aku langsung menelpon ayahku yang sedang bekerja di rumah saudara kami.  “Ayah, cepat pulang Ibu dari tadi mengeluh terus. Ibu merasakan sakit di bagian perutnya. Aku takut, yah.Ayah menjawab,Iya dee, Ayah segera pulang.Tidak lama kemudian Ayah  pulang dan langsung membawa Ibu ke rumah sakit.

Saat itu aku sangat takut dengan kondisi ibu. Tiba-tiba Bibi pulang ke rumah lebih dulu dan berkata “Dede, mbak bawa kabar baik nih untuk kamu.Aku terkejut.  Kabar baik apa mbak?” Bibi lalu berkata, Tadi waktu ibumu diperiksa dokter, ternyata ibumu tidak menderita apa-apa, cuma kecapekan karena sedang hamil.”  Aku langsung diam. Aku terkejut mendengar berita yang disampaikan Bibi.

Waktu demi waktu perut ibu pun semakin membesar. Sifat manjanya kepada ayah juga mulai muncul. Aku sangat illfeel sekali pada saat itu karena aku tidak senang dengan kehadiran calon adikku. Aku berpikir, bila aku punya adik, aku pasti tidak diperhatikan lagi sama Ibu. Ibu pasti akan mencurahkan semua perhatiannya kepada adikku. Aku tidak mau menjadi yang kedua dimata Ibu. Aku ingin selalu menjadi yang pertama dimata Ibu.

Sembilan bulan sudah Ibu mengandung. Akhirnya, saat yang tidak diinginkan terjadi Ibu melahirkan seorang bayi pada jam tujuh pagi di bidan terdekat. Bayi itu seorang perempuan yang diberi nama Az-Zahra Nurfadilah. Aku sangat kesal kepada orang-orang di rumah karena mereka semua bilang “Ciee ..... Dede punya adik. Lucu adiknya dibandingkan kakaknya he he ...Aku pun tidak menghiraukan setiap orang-orang berkata seperti itu. Aku langsung bergegas masuk  ke kamar.

Lama-lama aku berfikir, tidak sepantasnya aku bersifat seperti ini kepada Ibu. Meskipun aku tidak suka dengan kehadiran adikku, aku tidak boleh terus-menerus diam pada Ibu seperti ini. Aku harus belajar menerima keadaan bahwa sekarang aku mempunyai seorang adik.

Keesokan harinya aku pun mulai terbiasa hidup dengan kehadiran seorang anak kecil yang imut dan cantik sekali. Tangisan seorang anak kecil pun kini sudah terbiasa terdengar di telingaku.   Aku langsung tersadar pada saat itu ternyata mempunyai seorang adik itu lebih menyenangkan di bandingkan hidup sendiri dan tidak mempunyai saudara seorang pun.

Kini, aku jadi sayang sekali pada adikku. Satu hari saja tidak bertemu dia, aku merasa kangen sekali padanya. Apalagi sekarang aku harus meninggalkan dia untuk beberapa bulan mendatang. Rasanya berat sekali untuk meninggalkan rumah apalagi harus meninggalkan adikku yang sangat aku sayangi itu.

Besok aku harus pergi meninggalkan rumah untuk sementara karena harus menyelesaikan masa Prakerin (PKL) di Cirebon. Di Cirebon aku ngekost bareng teman-teman. Pada saat  itu tempat kost yang kita tuju tidak cocok dengan keadaan kita yang sekarang. Aku pun langsung menelpon ibuku di rumah,Ibu, aku di sini belum dapat tempat kost. Tempat kost yang sudah di carikan  sama guru ternyata tidak nyaman untuk aku tempati.Ibuku panik dan berkata,Yang bener De, terus sekarang ada di mana? Nanti Ibu telpon bibimu supaya menyusul kamu di sana.Aku menjawab, Aku ada di daerah dekat tempat PKL Bu.

Tak lama kemudian bibi datang naik motor bersama temannya. Aku bilang, Gimana mbak, kami belum dapat tempat kos sedangkan hari sudah mulai gelap.Bibiku berkata, Ya sudah, kalian kost di tempat kost teman mbak saja di daerah Wirasari. Tempatnya tidak terlalu jauh kok dari sini.

Kami berlima langsung menuju ke tempat kos itu. Tak lama kemudian, akhirnya kita sampai di tempat kos teman bibiku. Aku berkata dalam hati, Hm, nggak jelek-jelek banget tempatnya. Enak dan nyaman buat tidur.  Lumayan lah dari pada Lumanyun he he ....”

Setiap hari sebelum tidur, aku selalu teringat pada adikku dan ibuku. Aku sangat kangen  sama mereka. Rasanya ingin sekali aku pulang ke rumah untuk melihat mereka. 


Dua minggu sudah aku jalani. Aku pulang ke rumahku di Indramayu. Aku pun bertemu dengan Ibu dan adikku. Betapa senang hatiku saat itu. Akhirnya aku bisa mengobati rasa kangen ini. Aku peluk Ibu dan kucium adikku. Kuajak dia berbicara meskipun adikku belum bisa berbicara. Dia hanya tersenyum lucu. Mungkin adikku juga kangen sama kakaknya. Aku akan selalu sayang kepada adikku.  

Tentang Penulis :
Godhel Dheafer adalah nama pena dari Rustini. Godhel lahir di Indramayu pada tanggal 6 November 1993. Anak pertama dari dua bersaudara ini masih tercatat sebagai siswa di SMK Negeri 1 Sindang Indramayu, Jurusan Teknik Komputer Jaringan. Godhel saat ini duduk di Kelas XI TKJ-II. Godhel yang memiliki hobby makan bakso dan menulis ini bercita-cita ingin menjadi orang sukses dan ingin membahagiakan orangtua dan adiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By