Breaking News

Senin, 05 November 2012

KISAH SUKSES PENULIS


Andrea Hirata

Lebarkan Sayap ke Mancanegara

Laskar Pelangi ialah novel pertama karya orang Indonesia yang bisa menembus kancah penerbitan Amerika.
Setelah lama tidak terdengar kabarnya, novelis Andrea Hirata kembali membuat gebrakan. Pria kelahiran Pulau Belitong, Provinsi Bangka Belitung ini baru saja melakukan penandatanganan perjanjian penerbitan novel “The Rainbow Troops” yaitu edisi internasional dari buku besutannya, Laskar Pelangi, dengan penerbit terkemuka asal Amerika Serikat, Farrar, Strauss and Giroux (FSG).
“Penandatanganannya sendiri dilakukan pada 12 Maret lalu di New York, yang diwakili Direktur Publikasi Jobathan Galassi,” ujar Andrea.     
FSG merupakan penerbit ternama yang berdiri sejak tahun 1946 dan menjadi penerbit yang paling banyak menerbitkan karya pemenang Nobel Sastra.
Dengan adanya kerjasama tersebut, lanjut pria lajang ini, impiannya agar buku karyanya bisa diterbitkan oleh penerbit terkemuka di Amerika tercapai sudah.
“Mudah-mudahan penandatanganan perjanjian penerbitan ini membuka pintu gerbang dimulainya karya-karya sastra dari Indonesia untuk go international,” tambah dia.
FSG adalah perusahaan penerbitan yang cukup bergengsi di dunia. Penerbitan ini telah menghasilkan 21 pemenang Nobel Sastra. Mereka, antara lain TS Eliot, Pablo Neruda, Nadine Gordimer, Seamus Heaney, dan Mario Vargan Liosa yang mendapat Nobel Sastra 2010.
Tentu masyarakat Indonesia patut berbangga dengan capaian Andrea. Lantaran ini adalah karya pertama orang Indonesia yang bisa menembus kancah penerbitan Amerika.
Selain diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris, novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tersebut juga telah menarik perhatian perusahaan milik bintang film Hollywood Brad Pitt, Plan B Entertainment.
Di dalam negeri sendiri, Laskar Pelangi ini telah menjadi salah satu novel terlaris di Tanah Air. Novel ini kemudian difilmkan dan menjadi film terlaris dalam sejarah Indonesia.
Nobel Sastra              
Dalam diskusi, lelaki kelahiran 24 Oktober, 29 tahun lalu ini terus terang mengaku sempat jatuh bangun di masa awal merintis karier sebagai penulis.
Waktu novelnya belum banyak dilirik orang, kenang Andrea, sempat ketika mengadakan acara bedah buku di masjid Salman, ITB, peserta yang hadir hanya enam orang. Namun, ketika buku Laskar Pelangi meroketkan namanya, pernah dalam suatu diskusi bedah buku di wilayah terpencil, perhelatannya dijubeli hingga ribuan peserta.
“Saya harus menandatangani 2.000 buku. Sayang semuanya buku bajakan,” kisah Andrea yang disambut gelak tawa peserta. Terlepas dari pengalaman-pengalaman uniknya, semangat Andrea untuk menulis tak ada habisnya. Dia juga memberi motivasi kepada penulis-penulis Indonesia untuk berkiprah dan mencoba melebarkan sayap ke luar negeri.
Terkait kabar bahwa novelnya bakal masuk nominasi Nobel Sastra pada tahun ini, dirinya mengklarifikasi bahwa bukunya baru masuk tahap akan dipertimbangkan untuk masuk nominasi.
“Bukan tidak mungkin, 80% terbitan FSG adalah penerima Nobel Sastra. Masuk atau tidaknya, doakan saja,” komentar Andrea.
(Cornelius Ekos Susanto, Media Indonesia Minggu, 1 April 2012)

Orang Indonesia Rata-rata Bertipe Visual

Andrea Hirata, 29, telah menghasilkan beberapa novel yang selalu ditunggu penggemarnya, diantaranya Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Cinta di Dalam Gelas, dan Padang Bulan.
Baru-baru ini Laskar Pelangi diterbitkan FSG, salah satu penerbit bergengsi di Amerika Serikat. Sebuah prestasi tersendiri karena karya Andrea Hirata tersebut ternyata juga diminati dan akan diterbitkan beberapa penerbit mancanegara.
Tidak banyak karya penulis asal Indonesia yang diterbitkan penerbit asing. Tentu banyak alasan, selain harus lebih ekspose, karya tersebut juga harus memiliki nilai sastra yang tinggi sebagai barometer layak tidaknya untuk diterbitkan oleh penerbit yang sudah punya nama.
Satu lagi karya sastra yang menambah khazanah kesusastraan nasional.
Menurut Anda hal apa yang paling dibutuhkan seorang penulis?
Dalam menulis perlu self management, karena harus merasa moody jika hendak menulis novel, padukanlah isinya antara 50% seni dan 50% lainnya pengetahuan.
Kalau semuanya seni atau pengetahuan saja?
Pasti jika sedang tidak mood, tak akan menulis. Secara tidak sadar, ini berpengaruh juga kepada kedisiplinan menulis. Kita perlu mood management yang terarah.
Apa tips Anda untuk membuat tulisan jadi menarik dibaca?
Mudah saja. Orang Indonesia rata-rata bertipe visual. Jadi, tulisan yang disukai ialah yang bisa membuat kebutuhan visual mereka terpenuhi. Ketika mereka membaca karya saya, mereka terorientasi pada ruang, bisa melihat ke sekitar mereka, merasakan dengan nyata.
Apakah novel Anda yang diterjemahkan di berbagai negara berbeda dalam hal ini?
 Ya, misalnya edisi yang baru diterbitkan di Amerika. Deskripsi lebih kurang. Jumlah bab lebih banyak, tapi secara keseluruhan bukunya lebih tipis. Ini disesuaikan penerjemah tanpa pengubah gaya penulisan saya.
Lalu sejauh mana film Laskar Pelangi turut membantu?
Jelas sangat membantu. Orang dari negara lain yang melihatnya dan tertarik akan mencari tahu. Begitu mereka dapat informasi film Laskar Pelangi berasal dari novel, baru mereka mencari novel siapa.
Bagaimana Anda bisa menemukan FSG?
Di luar negeri, penulis berhubungan dengan agen, tidak dengan penerbit langsung. Merekalah yang akan menilai layak tidaknya tulisan kita. Jadi, saya tidak bertemu penerbit FSG sebelum novel dinilai layak.

Lalu bagaimana mencari agen yang tepat?
Sejujurnya susah mencari agen yang tepat. Ini lagi-lagi berbicara tentang relasi. Seberapa banyak kita kenal dengan penulis dan agen.

Saran Anda untuk penulis yang ingin menerbitkan karya di luar negeri?
Banyaklah ikut festival untuk memperkenalkan karya kita, kenal banyak orang, dan bisa mempertemukan kita dengan agen. Kalau sedang berkumpul dengan penulkis dari berbagai negara, yang mereka tanyakan ialah siapa yang menerbitkan buku Anda? Salah-salah kita minder jadinya. Harus punya mental dan tekad yang kuat.

(sumber : Media Indonesia Minggu, 8 April 2012)


Gugup Bahagia

Walaupun suaranya terdengar serak karena serangan flu, di ujung telepon novelis Andrea Hirata menyampaikan kabar gembira, “The Rainbow Troops akan diluncurkan di New York, Amerika Serikat, bulan November nanti,” katanya terkait novel yang merupakan terjemahan Laskar Pelangi edisi internasional itu.
Penandatanganan kontrak dengan penerbit terbaik di AS, yaitu Farrar, Straus and Giroux (FSG), sebenarnya sudah dilakukan pertengahan Maret lalu. Yang membuat Andrea berbunga-bunga, FSG merupakan penerbit karya sastra para peraih Nobel Sastra, seperti TS Elliot, Nadine Gordimer, dan Pablo Neruda.
“Aku adalah penggemar berat mereka. Kenyataan sekarang, novelku The Rainbow Troops diterbitkan oleh penerbit yang sama. Itu membuat aku gugup. Sangat mungkin suatu ketika penulis Indonesia meraih Nobel Sastra, ya? Siapa tahu itu aku, ha ha ha,” ujarnya.
Menurut Andrea, agennya di New York, Kathleen Anderson, mengungkapkan, bisa saja novelis Paulo Coelho dihadirkan pada peluncuran novelnya di New York University nanti. “Itu juga membuat aku gugup,” katanya.
Rencananya, akhir tahun ini The Rainbow Troops akan diedarkan di lebih dari 600 toko buku di Amerika dan Kanada. Sementara The Rainbow Troops versi Italia akan diterbitkan oleh penerbit terkemuka Italia, Rizolli, yang menerbitkan Eat, Pray, Love (Elizabeth Gilbert).

(Sumber : Kompas, 30 April 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By