Breaking News

Selasa, 20 November 2012

MUARA KASIH BUNDA


Oleh : Eno Jubeltus

Kuterduduk lemas di ruang tunggu rumah sakit. Saat aku melihat ibuku dibawa masuk ke Ruang UGD. Perasaanku seolah-olah tak menentu ketika dokter masuk dan menutup ruang UGD tersebut. Dalam hatiku, hanya doa yang dapat mohonkan kepada Allah SWT untuk kesembuhan ibuku. “Ya Allah, sembuhkanlah Ibu. Hilangkanlah semua penyakitnya ya Allah.” Itulah doaku yang kupanjatkan untuk ibuku.

Dua puluh menit telah berlalu. Seorang dokter berjalan menghampiri aku. “Apa Anda keluarganya?” tanya dokter itu kepadaku. “Benar dok, saya anaknya. Bagaimana keadaan Ibu saya dok?” Aku bertanya dengan rasa cemas.

“Alhamdulillaah, masa kritisnya sudah lewat. Semuanya sudah dapat kami tangani. Saat ini keadaannya telah membaik. Hanya perlu banyak istirahat, ” dokter menjelaskan.

“Terimakasih dok. Oh iya dokter, apa saya sudah boleh menjenguknya sekarang?” tanyaku penuh harap. “Oh, tentu saja. Silakan.”
Aku telah membuang pikiran buruk tentang kondisi Ibu. “Terimakasih ya Allah. Engkau masih memberi aku kesempatan untuk berada di samping Ibu.”

Setelah aku masuk ke dalam Ruang UGD, aku langsung duduk di tepi tempat tidur. Ibu masih terbaring lemah. Perlahan kudekati Ibu. Kubelai rambut Ibu dengan penuh kasih sayang. Aku sangat bersyukur. Aku berharap untuk kesembuhan Ibu.

Kutatap wajah Ibu yang pucat. Perlahan Ibu membuka matanya dan menatapku. Ibu berusaha untuk tersenyum kepadaku. Sebuah senyum yang berseri-seri seolah-olah menghapus semua penderitaan dan kesedihannya selama ini. Kesedihan yang masih membekas sejak Ayahku menghadap Sang Ilahi, tiga tahun silam. Aku merenung sejenak. Tak terasa air mata menetes di kedua pipiku. Aku teringat kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat selama ini.

Sesaat aku terdiam dalam lamunan. Aku teringat saat Ibu masih sehat. Ketika Ibu masih menemani hari-hariku dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan padaku. Oh, begitu menyenangkan. Mungkin tidak semua anak dapat merasakan kasih sayang dari seorang Ibu seperti diriku. Sungguh beruntungnya aku.

Tiba-tiba lamunanku berakhir. Tiba-tiba dokter masuk untuk memeriksa keadaan Ibu. “Bagaimana keadaan Ibu saya dok?” tanyaku. “Kondisi ibumu sekarang sudah stabil,” jawab dokter. “Apakah saya boleh pergi untuk sementara dok? Saya harus berangkat kuliah.” tanyaku lagi. “Baiklah kalau begitu, biar nanti perawat yang akan menjaga Ibu Anda.”

Dokter itu pamit meninggalkan kami. Aku mencium kening ibuku dengan lembut. Perlahan, kubisikkan kalimat harapan dekat di telinga ibuku, “cepat sembuh ya bu.” Kulangkahkan kakiku keluar ruangan.

Satu Hari Kemudian.

Aku bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Secara tak sengaja aku melihat kalender di dinding kamarku. Ternyata hari ini tanggal 22 Desember. Astagfirullaah. Aku hampir lupa, kalau hari ini adalah Hari Ibu. Kuputuskan segera untuk singgah ke toko kue sebelum pergi ke rumah sakit. Aku ingin membelikan Ibu sebuah kue tart dan dua buah lilin untuk mengucapkan harapan.

Selama dalam perjalanan, aku tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Ibu nanti ketika aku berikan kue istimewa di hari penuh kasih kasih sayang untuk seorang Ibu.
Sesampainya aku di rumah sakit, aku masuk ke ruang perawatan Ibu. Satu demi satu, lilin-lilin itu kutancapkan di atas kue tart itu. Saat akan menyalakan sumbu kedua lilin itu, aku menggenggam erat tangan ibu dan kumulai menyalakan kedua lilin itu.

“Ibu, lihatlah dua buah lilin ini. Pada lilin yang pertama, saya berharap untuk kesembuhan Ibu. Lalu pada lilin yang kedua, aku ingin membahagiakan Ibu dengan segala kemampuanku,” ucapku pelan sambil menangis terharu.

Tak sengaja, tiba-tiba aku menyanyikan sebuah lagu, “Bunda, engkaulah muara kasih dan sayang. Apapun pasti kau lakukan demi anakmu yang kau sayang. Selanjutnya, aku tak mampu menyelesaikan laguku hingga akhir. Hanya air mata yang terus menetes di kedua pipiku. Aku terkejut saat ibuku menggenggam tanganku kuat-kuat dan menarik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali. Aku baru tersadar kalau itu adalah pertanda bahwa Ibu akan meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Tiba-tiba garis di layar monitor telah berubah menjadi lurus. Saat itu juga, aku menangis dan hanya bisa memandang wajah Ibu yang meninggalkanku pergi untuk selama-lamanya.

“Ibu ..... jangan tinggalkan aku.”

Akhirnya aku berkata lirih dengan rasa penyesalan yang begitu dalam, “Ibu, maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu”

Tentang Penulis :

Eno Jubeltus adalah nama pena dari Sutrisno. Eno lahir di Indramayu pada tanggal 17 Agustus 1995. Anak bungsu dari tujuh bersaudara ini masih tercatat sebagai siswa di SMK Negeri 1 Sindang, Jurusan Teknik Komputer Jaringan. Eno saat ini duduk di Kelas XI TKJ-I. Eno punya hobby bermain Sepak Bola, Futsal dan Badminton. Remaja ini bercita-cita ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Muara Kasih Bunda adalah cerpen pertamanya. Semoga cita-citanya bisa tercapai dan bisa mengharumkan nama bangsa dan negara.

Muara Kasih Bunda, Erie Suzan
https://www.youtube.com/watch?v=1-Kn-kj88fE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By