Breaking News

Jumat, 16 November 2012

HARI RAYA YANG TAK BIASA



Oleh : Trendy Octoten

Tok tok tok. Suara pintu diketuk oleh seseorang. Aku sedang asik menonton televisi. Aku beranjak dari tempat dudukku, bergegas menuju pintu dan segera membukanya. Ternyata bapakku yang datang dari Jakarta. “Assalammualaikum,” bapak mengucapkan salam. Aku menjawab salam Bapak. Aku mengambil tangan kanan Bapak dan menciumnya. “Kenapa kamu belum tidur, Ren?” tanya Bapak. “Aku belum ngantuk kok, pak,” jawabku. Bapak menyuruhku untuk segera tidur. Aku turuti ucapan Bapak. Segera kumatikan televisi lalu masuk ke kamar.
            Entah mengapa, malam itu perasaanku mendadak tidak enak. Mata kananku pun tiba-tiba berkedut-kedut. Menurut kepercayaan turun-temurun, jika mata kanan berkedut-kedut itu adalah firasat buruk yang berkaitan dengan bakal munculnya malapetaka. Tapi aku menanggapinya dengan perasaan biasa-biasa saja. Aku pun segera tidur.
            Ibu membangunkan aku dan keluargaku untuk makan sahur bersama. Pada saat makan sahur, aku masih berpikir firasat apa yang kurasakan tadi malam, tapi aku tak merasakan kejanggalan apapun. Sejauh ini semuanya baik-baik saja.
            Hari pun beranjak sore. Suara takbir yang berkumandang sejak waktu Ashar sudah terdengar dari masjid yang letaknya tak jauh dari rumahku. Kulihat Ibu dan Kakak perempuanku sedang memasak ketupat di dapur. Senang rasanya ketika hari raya Idul Fitri sudah datang. Aku tak sabar untuk menanti datangnya hari kemenangan.
            Alhamdulillaah, waktu Maghrib pun tiba. Aku pun segera berbuka puasa bersama keluargaku. Aku makan dengan perasaan bahagia. Sebulan lamanya berpuasa akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu. Ini adalah buka puasa yang terakhir pada bulan Ramadhan tahun ini. Menu makanan pun dibuat sangat spesial oleh Ibu, karena besok adalah hari kemenangan bagi semua umat muslim.
            Sehabis makan aku dan keluargaku sholat Maghrib berjamaah. Seusai Sholat Maghrib, entah mengapa Ibu seperti merasa sesak nafas mendadak sehingga membuat kami sekeluarga menjadi panik. “Ibu kenapa?” aku bertanya dengan rasa panik dan penasaran. “Ibu seperti sesak nafas, Ren,” jawab Ibu dengan nafas terengah-engah.  Ibu pun mengabaikan rasa sakitnya, kemudian beristirahat. Dan, setelah itu Kakak-kakakku yang sudah berumah tangga dan sudah mempunyai rumah sendiri mulai berdatangan ke rumahku untuk bersilaturrami dan berkumpul bersama keluarga, karena ini sudah menjadi tradisi di keluarga kami.
            Waktu Isya pun tiba. Kami sekeluarga Sholat Isya berjamaah. Ibu merasakan sesak nafasnya bertambah parah. “Ibu kenapa? Ibu sedang sakit tah?” aku bertanya dengan penuh rasa panik. “Kayaknya sesak nafas Ibu tambah parah,” jawab ibu sambil menahan rasa sakit. Melihat Ibu yang semakin lama semakin susah bernafas, bapak pun menyarankan untuk membawa Ibu ke rumah sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu.
            Sesampainya di rumah sakit, Ibu langsung mendapat pertolongan pertama. Dokter pun segera memasang alat bantu pernafasan dan infus pada Ibu yang keadaannya seperti orang sekarat. Sedih sekali rasanya ketika melihat Ibu sedang sakit, tapi aku hanya bisa melihat Ibu dari balik jendela sambil meneteskan air mata.
            “Sudah Ren, jangan nangis. Ibu akan baik-baik saja kok,” ujar Bapak sambil merangkulku. “Tapi aku nggak rela melihat Ibu seperti ini, pak,” jawabku sambil sesekali mengusap air mata. “Kita terima saja ya, mungkin ini cobaan dari Allah. Lebih baik kamu berdoa agar Ibu cepat sembuh,” sambung bapak mencoba menenangkan aku. “Iya pak.”
            Aku pun berdoa agar Ibu cepat diberi kesembuhan. Tidak lama kemudian Kakak perempuanku menyuruhku pulang, karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Aku pulang dengan perasaan sedih. Aku tidak bisa menemani Ibu saat Ibu sakit. Tidak henti-hentinya aku berdoa agar ibu segera sembuh. Aku kembali memikirkan firasat buruk kemarin malam. Mungkin firasat buruk kemarin malam itu adalah pertanda bahwa Ibu akan sakit.
            Kumandang adzan Subuh terdengar dari masjid dekat rumahku. Aku segera bangun untuk menunaikan Sholat Subuh. Seusai berwudhu, aku mendengar ada yang mengetuk pintu. Aku menuju ke arah pintu dan membukanya. Ternyata Bapak dan Kakak laki-lakiku yang datang dari rumah sakit. Kemudian kami Sholat Subuh berjamaah. Setelah Sholat aku berdoa agar Ibu diberikan kesembuhan.
            Beberapa saat kemudian, aku dan Bapak melaksanakan Sholat Idul Fitri di masjid. Perasaanku sangat gelisah, ingin cepat-cepat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ibu. Sepulang dari Sholat Idul Fitri, aku dan Bapak langsung bersilaturahim dengan para tetangga. Setelah itu, aku dan Bapak langsung pergi ke rumah sakit. Kakak laki-lakiku sudah lebih dulu berangkat ke rumah sakit.
            Sesampainya di rumah sakit aku langsung mencium tangan Ibu. “Ibu, selamat hari raya Idul Fitri. Maafkan Rendy ya Bu. Rendy mohon, Ibu mau memaafkan Rendy,” ucapku kepada ibu. “Iya Ren, sama-sama. Ibu juga minta maaf ya sama Rendy,” jawab Ibuku. “Gimana, keadaan Ibu sekarang?” tanyaku lagi. “Ibu sudah agak mendingan Ren,” jawab Ibu sambil tersenyum dengan wajah yang masih tampak pucat. Ibu meminta aku untuk menyuapinya. Kemudian ibu bertanya, “Kamu sudah makan belum, Ren?” Aku pun menjawab, “Belum, Bu.”
            “Makan dulu Ren, itu ada ketupat dan sayur buatan Ibu tadi sore.” Aku pun keluar dari ruang rawat Ibuku. Kemudian aku berlebaran dengan keluargaku. Baru kali ini aku berlebaran di rumah sakit. Sangat jelas sekali bedanya dengan suasana lebaran di rumah. Kemudian aku pun makan dan ikut berkumpul dengan kakak-kakakku di teras rumah sakit. Aku merasakan lebaran tahun ini terasa begitu berbeda. Sungguh, Hari Raya Yang Tak Biasa.
           Tak terasa hari telah beranjak sore. Suara adzan Maghrib sudah berkumandang. Aku segera pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah Sholat Maghrib. Seusai sholat aku kembali ke rumah sakit dan ikut menjaga Ibu. Tak lama kemudian terdengar suara Burung Gagak di atas genteng kamar tempat Ibu dirawat. Aku begitu takut dan was-was. Burung Gagak itu berakaok-kaok dengan suara serak. Menurut kepercayaan turun-temurun, munculnya burung gagak itu adalah pertanda akan adanya orang meninggal. Aku sangat gelisah mendengar suara burung gagak yang kian lama semakin mengeras. Aku takut terjadi apa-apa dengan Ibu, apalagi sebelum Maghrib Ibu kambuh lagi.
 Kemudian terdengar suara jerit tangis dari kamar tempat Ibu dirawat. Benar saja, orang yang dirawat sekamar dengan Ibu menghembuskan nafas terakhir. Kami sekeluarga pun berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan Ibu dan semoga Ibu cepat sembuh.
Tiga hari telah berlalu. Alhamdulillaah, hari ini keadaan Ibu sudah semakin membaik. Penyakit Ibu sudah tidak pernah kambuh lagi. Wajah Ibu sudah tak terlihat pucat lagi. Ibu sudah bisa tersenyum. Dokter menyatakan bahwa Ibu telah sembuh dan membolehkan Ibu pulang ke rumah.
Alhamdulillaah. Puji syukur kehadirat-Mu ya Allah. Engkau telah mendengarkan do’a kami. Engkau telah mengabulkan permintaan kami. Engkau telah menyembuhkan Ibu kami. Engkau telah mengembalikan Ibu kami.  
*****
Setahun Kemudian
Idul Fitri tahun 2012

Allaahu akbar ..... Allaahu akbar ..... Allaahu akbar ....
Laaillaahaillaahu Allaahu akbar .....
Allaahu akbar walillaahilham ...

Tahun ini aku merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluargaku di rumah.
Alhamdulillaah Ibu, Bapak dan keluargaku, semuanya sehat wal’afiat
  
Indramayu, 7 November 2012

Tentang Penulis :
Trendy Octoten atau biasa dipanggil Rendy ini  lahir di Indramayu pada tanggal 10 Oktober 1995. Anak keenam dari tujuh bersaudara ini masih tercatat sebagai siswa di SMK Negeri 1 Sindang Indramayu, Jurusan Teknik Komputer Jaringan. Rendy saat ini duduk di Kelas XI TKJ-I. Remaja yang memiliki hobby menggambar dan bermain sepak bola ini bercita-cita ingin menjadi orang sukses dan ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Hari Raya Yang Tak Biasa merupakan cerpen pertamanya. Semoga akan segera muncul coretan-coretan Rendy yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By