Breaking News

Senin, 12 November 2012

CATATAN PERJALANANKU



Jumat, 9 November 2012

12.20 WIB :           
Kereta Argo Bromo Anggrek berangkat dari Stasiun Cirebon menuju Surabaya

14.10 WIB :
Kereta berhenti di Stasiun Pekalongan

15.25 WIB :
Kereta berhenti di Stasiun Semarang Tawang. Seorang Ibu dari tadi selalu melihat ke arahku. Dia selalu mencuri-curi pandang bikin aku jadi GR. Dia selalu memulai untuk membuka percakapan dengan menawariku makanan. "Coba ini mas, enak deh terbuat dari ketan. Legit loh," dia menawarkan makanan yang terbungkus dengan daun pisang. "Terimakasih banyak bu atas tawarannya. Mohon maaf bu, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, saya nggak bisa menerima makanan atau minuman dari orang yang baru saya kenal," saya menolak tawarannya dengan halus. Namanya Bu Khadijah. Dia duduk di depan, di sebelah kiriku. Untuk melihat atau menatapku, dia harus menoleh ke belakang. Bu Fatimah, seorang penumpang yang duduk sejajar denganku turun di Stasiun Semarang. Bu Fatimah berpamitan kepada Bu Khadijah sambil ber-CIPIKA CIPIKI. Akhirnya Bu Khadijah pindah tempat duduk persis di samping kiriku dengan dibatasi lorong. Rupanya dari tadi Bu Khadijah memperhatikan logo di sebelah kiri jaketku. Dia bertanya, "Mas, dinas di Keuangan ya?" Spontan aku berkata, "Kok, Ibu tahu?!" Dia menjelaskan kalau dari tadi dia memperhatikan Logo Keuangan di jaketku. Oh, jadi gitu ya, betapa GR-nya aku. Kemudian Bu Khadijah bercerita bahwa suaminya - M. Nurdin - bekerja di Kantor Pajak Karawaci Tangerang sebagai Pemeriksa. Anak menantunya - Yudistira - sekarang bekerja di Kantor Pajak Lahat, Sumatera Selatan. Dia dan keluarganya akan mengunjungi keluarga besannya di Probolinggo. Aku bercerita kepada Bu Khadijah saat-saat awal aku diterima menjadi PNS. "Oh iya bu, saya bikin cerpen tentang penerimaan saya di Departemen Keuangan," kata ku. "Mana cerpennya?" ucap Bu Khadijah. Aku mengambil tasku yang berada di atas. Lalu aku keluarkan tulisan cerpen yang sudah aku print di kantor. "Ini bu, cerpenya silakan dibaca," kataku. "Ya udah, buat ibu aja ya mas. Mau ibu bawa supaya Fitri dan Yudis juga bisa ikut baca. Boleh ya mas?" pinta Bu Khadijah. Akhirnya aku menyerah. Kuberikan cerpen itu untuk Bu Khadijah. "Makasih ya, mas" sahut bu Khadijah. Setelah ngobrol-ngobrol aku pun tertidur. Wesss wes zzzz zz zZZZ z sss ........ Ceprat Cepret ceprat cepreeet, Bu Khadijah memotretku ketika aku tidur. Begitu aku bangun, dia bilang, "Mas, tadi saya potret mas waktu mas tidur." Aku hanya tertawa, lalu kubilang, "Sekarang juga boleh kok bu, he he ..." Lalu Bu Khadijah kembali memotretku. Kami berpisah ketika kereta sudah tiba di Stasiun Pasar Turi.       

18.15 WIB :
Agus Sugiarto telpon, “Aku sudah di Pasar Turi, kamu sampe mana Tur?”

19.15 WIB :
Argo Anggrek just arrived at Pasar Turi Train Station, Surabaya. Mengapa Stasiun ini diberi nama Pasar Turi? Konon kabarnya, menurut cerita yang berkembang di masyarakat dari beberapa sumber yang diragukan kebenarannya, menyebutkan bahwa nama tersebut diambil dari dua nama Marga Orang Batak yaitu PASARIBU dan SIANTURI. Ah .... rasanya terlalu mengada-ada.


19.30 WIB :        
Makan malam bersama Kepala Seksi Pelayanan Lelang KPKNL Surabaya dan Mas Gofur Dungdungnet (Driver KPKNL Surabaya). Makan di Padin Bu Dewi Achmad yang berlokasi di Jalan Kranggan. Tersedia aneka menu makanan Ayam Goreng dkk. Tersedia 2 macam sambel yaitu : Sambel Pencit dan Sambel Tomat. Tempatnya lumayan rame tapi nunggunya nggak bikin lu manyun.

22.00 WIB :         
Tiba di rumah Bulek Sri, adik sepupu bapak. Ibunya Bapak adalah Kakak dari Ibunya Bulek Sri. Bulek Sri tinggal di Komplek TNI Angkatan Udara di daerah Juanda dekat Bandara Juanda. Aku ngobrol-ngobrol dengan Bulek dan Ketut, putra pertama Bulek. Ketut kini menjadi seorang pengusaha sukses di Surabaya. Dia punya beberapa gerai Bakpia Patok Jogja yang dibuka di beberapa Mall ternama di Kota Surabaya. Dia dibantu beberapa pegawai untuk menjalankan usahanya. Wah, bangga juga aku punya adik seperti dia. Punya usaha sendiri dan membuka lapangan kerja. Semoga usahamu sukses ya dek, semoga kamu baca tulisan ini. Anak kedua Bulek bekerja di DJKN. Namanya Toni Wijaya. Dia sekarang bertugas di Direktorat Hukum dan Humas, di Sub Direktorat Bantuan Hukum satu Sub Direktorat dengan Leny Murtiningrum. Aku sudah pernah bertemu dengan Toni di Jakarta. Setelah selesai acara Sosialisasi Kepegawaian di Swiss Bell Hotel, aku sempatkan mampir ke kantor Toni. Semoga Toni sukses dalam menjalankan tugasnya, aamiiin ya Allah. Sudah jam 11 malam, aku berangkat ke tempat tidur untuk beristirahat dengan diiringi suara pesawat yang baru tinggal landas.  

Sabtu, 10 November 2012

04.30 WIB :        
Di jemput sama Agus Sugiarto dan Jamik yang diantar sama mas Gofur Dungdungnet.

05.10 WIB :         
Tiba di Bandara Internasional Djuanda di Sidoarjo. Bertemu dengan Indah, Harmaji dan Evie. Setelah melakukan chek in dan membayar airport tax, kami menuju ruang tunggu di lantai 2. Di ruang tunggu kami bertemu dengan Wahyu dari KPKNL Solo Balapan, sorry nggak pake Balapan tapi Solo Karier, karena dia alone alias sendirian. Trus kita naik bis menuju Denpasar. "Loh, nggak salah. tah tur?" kata Jammy. Ups! sorry Jam, menuju ke pintu masuk pesawat.

06.00 WIB :        
Masuk ke Ruang Kabin Pesawat Wings Air diiringi alunan lagu You Are My Inspiration dari Peter Cetera dan lagu Wonderfull World. Si mbak pramugari yang namanya Nanik Puji Astutik memperagakan keselamatan kepada para penumpang. Posisi tempat duduk : Agus dan Wahyu di 3A dan 3C. Evie dan Jamik di 3D dan 3F. Aku duduk di depan sendirian bersama mbak Nanik Puji Astutik.

07.10 WIB :        
Pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan JT 1804 mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai. Waktu setempat menunjukkan pukul 08.10 WITA. Alhamdulillaah, akhirnya kami sampe juga di pulau  yang terkenal dengan julukan Pulau Seribu Pura. Aroma wewangian dupa terasa menyentuh indera penciuman kami. Namun tidak dengan indera pendengaran kami. Selama bergabung dengan Eny, Evie, Indah dan Jamik, rasanya  kami masih berada di Pasar Wonokromo Surabaya. Karena mereka berbincang-bincang dan bercakap-cakap dengan bahasa dan logat Suroboyo yang khas. "Lho, iki awak'e dhewe ngenteni opo tho 'ndah?" begitu tanya si Jamik pada Indah. "Lho, sampeyan nggak weruh tah mik. Awak'e dhewe ngenteni Sri ambek  Rochmah. Pesawate lagek Landing," begitu jawaban Indah yang begitu jelas terdengar ditelingaku. Setiap perkataan selalu dimulai dengan kata-kata Lho. Lucu juga ya kalo bahasa Suroboyo digabung dengan bahasa Inggris. Terdengar beda gitu, "Lagek Landing",  dengan huruf D yang tebal, he he .... Aku cuma bisa ketawa dalam hati ae. Lho, sampeyan kok melo'melo' sih tur he he  .....   

09.00 WITA :      
Tiba di Tanjung Benoa untuk berwisata air. Di sini kami bertemu dan bergabung dengan semua teman-teman dari kloter sebelumnya. Terjadilah acara silaturahim, suasananya persis seperti hari raya idul Fitri. Saling bersalaman, saling berpelukan dan saling CIPIKA-CIPIKI. Satriotomo membagikan kaos seragam kepada para peserta yang baru datang. 

09.30 WITA :      
Menyeberang ke Pulau Penyu menggunakan Kapal Boat bernama Aditya. Aneka macam penyu bisa kita jumpai di sana, termasuk penyu berkaki dua dan berbaju seksi, yaitu Penyu Albino. Yang suka difoto bersama Penyu yang tidak Albino

12.00 WITA :
Acara makan siang di Rumah Makan Upin Ipin dengan menu andalannya yaitu Ayam Betul Betul Betul ... eh salah, maksudnya AYAM BETUTU yang pedasnya SUPER mengalahkan pedasnya Keripik Maichih.

13.50 WITA :      


Sholat Djuhur di Masjid Nurul Huda. Nama masjid ini mengingatkan pada teman  kami  yang  nggak bisa hadir bersama kami. Dia adalah Miftahul Huda. Huda sekarang bertugas di Kota Pekanbaru bersama Jati Wiryawan. Setidaknya Masjid ini telah mewakili kehadirannya di hati kami. Salut deh sama panitia, bisa aja cari tempat yang menimbulkan kesan tersendiri.Thanks ya panitia.

15.00 WITA :

Menuju Padang-padang Beach. Di sini pantainya bagus. Pemandangannya asyik banget. Ombaknya mantap sangat cocok buat olah raga Surfing atau berselancar, bukan berselancar di Dunia Maya Sartika loh ya, tapi berselancar di Dunia Nyata. Bule-bule yang berjemur juga banyak banget. Habis dijemur terus digoreng kali ya? "Hush ... emangnya kerupuk," ujar Agus HW. "Bakti, coba tuh lihat. Masa jauh-jauh ke sini cuma baca buku doang tuh bule," bisikku sama Bakti. "Berjemurnya nggak di-itung ya Tur," ujar Bakti. Mungkin maksudnya Bakti si Bule itu berjemur sambil baca buku, bukannya baca buku sambil berjemur. Kalo bule-bule berjemur biar kulitnya gosong. Tapi kalo orang-orang kita rata-rata pada takut gosong.

16.00 WITA :      


Blue Point Beach. Suasananya asik banget di sini. Malah kayak perkampungan bulek-bulek eh maksudnya bukan istrinya paklek loh,  tapi bule alias orang asing. Berada di sini tuh kayak bukan di Bali. Seolah-olah kita lagi melancong ke luar negeri. Mungkin menyaksikan Sunset di sini juga asyik banget, tapi sayangnya kita harus buru-buru cabut dari tempat ini. Bukan karena takut diusir sama bule tapi karena kami harus segera menuju ke Uluwatu untuk menonton Tari Kecak.

17.30 WITA :      
Menuju Uluwatu untuk menonton Pertunjukan Tari Kecak (Kecak Dance Performance). Ketika menuju Uluwatu Temple, kacamata Fitri dijambret oleh makhluk yang tidak bertanggung jawab yang bernama Mr. Monkey. Waduh, Fitri terlihat begitu panik dan hampir menangis. Ngapain coba si Momon itu ngambil kacamatanya Fitri, buat apa coba? Akhirnya kacamata berhasil dikembalikan kepada si empunya yang syah setelah dilakukan negosiasi dengan prinsip Win-win Solution. “Weleh weleh, ono-ono ae,” kata Mas Agus Jember. “Kok iso yo tur,” lanjutnya lagi. Lalu kujawab, “Meneketehe...!” Oh iya pesan buat teman-teman kalo ke Uluwatu agar berhati-hati terhadap tangan-tangan jahil. Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat si pelaku, tetapi karena adanya kesempatan. WASPADALAH ...!! WASPADALAH ...!!

18.00 WITA :      
Pertunjukan Tari Kecak dimulai. Sebelumnya Bli GEDE GITA membagikan tiket masuk menonton Tari Kecak seperti membagikan Kupon Sembako kepada para peserta TUR. Kami menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian terdengar pemberitahuan. Ting Tong Ting Tong .....!! Mohon Perhatian Pintu Teater Arena Pertunjukan Tari Kecak telah dibuka. Bagi para penonton yang telah memiliki KUPON SEMBAKO dipersilakan memasuki arena pertunjukan. Matur Suksme. Ting Tung Ting Tung .....!!

Sebelum masuk ke arena pertunjukan, kami dibagikan sinopsis dari Tari Kecak, sebagai berikut :
 

Kecak adalah jenis tarian Bali yang paling unik. Kecak tidak diiringi dengan alat musik/gamelan apapun. Tari Kecak diiringi dengan paduan suara sekitar 70 orang pria. Tari Kecak berasal dari jenis tari sakral “Sang Hyang”. Pada tari Sang Hyang seorang yang sedang kemasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita epos Ramayana ke dalam tari tersebut secara singkat ceritanya adalah sebagai berikut :

Karena akal jahat Dewi Kakayi (Ibu Tiri) Sri Rama, Putra Mahkota yang syah dari kerajaan Ayodya diasingkan dari istana ayahandanya Sang Dasa Prabu Rata. Dengan ditemani adik laki-lakinya serta istrinya yang setia Sri Rama pergi ke hutan Dandaka. Pada saat berada di hutan, mereka diketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) seorang raja yang lalim. Rahwana terpikat oleh kecantikan Dewi Sita. Ia lalu membuat upaya untuk menculik Sita dengan dibantu oleh patihnya yang bernama Marica. Dengan kesaktiannya Raksasa Marica menjelma menjadi seekor Kijang Emas yang cantik dan lincah. Dengan demikian maka mereka pun berhasil memisahkan Sita dari Rama dan Laksamana. Rahwana lalu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Dewi Sita dan membawanya kabur ke Alengka Pura. Dengan mengadakan tujuan ini maka Rama dan Laksamana berusaha menolong Sita dari cengkraman raja yang kejam itu. Atas bantuan bala tentara kera di bawah panglima Hanoman maka mereka berhasil mengalahkan bala tentara raksasa Rahwana yang dipimpin oleh Meganada, putranya sendiri. Akhirnya Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.

Beberapa episode dari Epos itu digelarkan oleh :

Adegan I        : Rama, Sita dan Kijang Emas.
Rama, Sita dan Laksamana memasuki arena, lalu muncul Kijang Emas. Sita meminta Rama untuk menangkapnya. Rama meninggalkan Sita yang dijaga oleh Laksamana. Tiba-tiba terdengar jeritan minta tolong. Menurut Sita, itu pasti suara Rama, lalu menyuruh Laksamana untuk membantunya. Karena dituduh hendak mencari untung atas kematian Rama, Laksamana naik pitam dan pergi meninggalkan Sita seorang diri. 

Adegan II       : Sita, Rahwana, Bhagawan dan Garuda
Rahwana muncul mau menculik Sita, namun tak berhasil. Tetapi dengan akal jahatnya Rahwana berubah wujud menjadi Bhagawan (orang tua) yang sedang kehausan dan minta diambilkan air oleh Dewi Sita. Setelah dibawakan air, lalu Sita dibawa lari oleh Bhagawan tersebut yang sebenarnya adalah Rahwana. Sita lalu menjerit minta tolong dan jeritannya tersebut didengar oleh Burung Garuda yang sedang terbang di angkasa. Lalu Garuda menolong Sita, namun pertolongannya tidak berhasil karena sayapnya putus ditebas oleh Rahwana. Sita pun dibawa kabur ke Alengka Pura oleh Rahwana.

Adegan III      : Twalen, Rama, Truna Laksamana dan Hanoman
Dengan ditemani abdinya Rama dan Truna Laksamana yang sedang tersesat di hutan Ayodya Pura ingat dengan istrinya yaitu Dewi Sita yang dibawa kabur oleh Rahwana ke Alengka Pura. Dengan bantuan Hanoman (si Kera Putih), Rama menyuruh Hanoman membawa cincinnya ke Alengka Pura untuk diberikan Dewi Sita.

Adegan IV     : Sita, Trijata dan Hanoman
Dengan ditemani Trijata keponakan Rahwana, Sita meratapi nasibnya di Taman Istana Alengka. Hanoman (si Kera Putih) muncul. Ia berkata bahwa ia adalah utusan Sang Rama dan ia pun memperlihatkan cincin Rama yang dibawanya. Sita lalu menyerahkannya dan Hanoman pun langsung pergi menuju tetamanan Alengka Pura, lalu mengobrak-abriknya sampai tak tak berbentuk, sehingga abdi Alengka Pura terkejut melihat keadaan yang sudah parah dan langsung menyuruh para Raksasa untuk mencari Si Pembuat Onar tersebut. Hanoman pun tertangkap, lalu diikat dan dibakar. Namun karena kesaktiannya Hanoman (si Kera Putih) akhirnya lolos dari maut.

Sumber :
Sanggar Tari dan Tabuh Karang Boma
Desa Pecatu, Uluwatu, Bali

Contact Person :
I Made Leper (0816591693)
I Made Murah (08174722528)


19.00 WITA :      
Setelah selesai menonton Tari Kecak, kami menuju Pantai Jimbaran untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu : Makan Malam Bersama.

20.00 WITA :      
Makan Malam di Pandan Sari Cafe and Restoran, Pantai Jimbaran, Bali.

Suasananya asyik banget, romantis, akrab dan penuh persahabatan. Jadi teringat lagunya Iwan Fals, "Kemesraan ini janganlah cepat berlalu". Dengan diiringi suara ombak yang saling berkejar-kejaran ke pantai, kami ngobrol dengan beberapa teman yang duduk di bangku-bangku yang sudah disediakan. Sesekali kami menyaksikan di kejauhan sana di atas langit Bali, pesawat yang baru meninggalkan landasan ataupun yang akan mendarat di Pulau Dewata. Oh sungguh, suasana yang sangat  mengesankan dan sulit untuk dilupakan.

22.15 WITA :



Tiba di Wisma Keuangan. Kamar 216 di lantai 2. Mandi dan Tiduuur !! Capek Deh, acara Reuni
 yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Good Nite, friend. Wooooorrrrkkk ... !!
 kooorrrkkkk ...!! zzzssszszsfgyyhhj ...zz !! Waduh, bantalnya tebel banget nih.


22.45 WITA :      
Pintu kamar 216 tiba-tiba diketok oleh orang yang tak dikenal, pas dibuka ternyata saya kenal. Dia adalah si Nenek Cantik, siapa lagi kalo bukan Ina. Aku bertanya-tanya dalam hati, "Mau ngapain nih si Nenek Cantik tengah malam ngetok-ngetok kamar cowok." Ternyata si NekTik itu ngajak untuk karaoke di INUL VISTA. Katanya teman-teman udah pada nunggu di Lobby. 

23.15 WITA : INUL VISTA     
HW mematahkan mitos yang selama ini beredar bahwa HW melakukan Lipsing waktu ikut Vocal Grup Angkatan 64 BUPLN. Dia membuktikan bahwa mitos itu hanyalah isapan jempol belaka. Jempolnya siapa ya? 11 tahun bukan waktu yang singkat bagi HW untuk membuktikan itu semua. Selama ini dengan tekun HW begitu giat mengasah warna suara dan pita suaranya. Bukan dengan cincin emas 22 karat tapi melalui latihan karaoke. Sudah selayaknya HW punya Album sendiri. Rencana judul album perdananya adalah : H2W (Harap Harap Waswas). Apakah album H2W akan laku di pasaran? Simak liputannya dalam Liputan64 Investigasi.

Minggu, 11 November 2012

03.00 WITA :      
Tiba di Wisma Keuangan. Langsung ngelungker (apaan tuh !?!). Kalo nggak tahu, tanya aja sama Om Ichang. Itu bahasanya Beliyo kok, he he .....

07.00 WITA :      
Berangkat ke Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Diantar sama Om Driver yang katanya mantan Pembalap F1 dan mantan vokalis F4, tak lain dan tak bukan, dia adalah HW. Turut mengundang eh turut mengantar kami ke Bandara yaitu Gusti Kanjeng Om Ichang H2L (Harap Harap Langsing), dari KPKNL Pekalongan. (ah ... jangan terlalu berharap lah boss)

10.25 WITA :      
Masuk Pesawat Citylink tujuan Surabaya dengan nomor penerbangan QG 643. Kali ini pramugari yang memperagakan cara menggunakan pelampung dan teknik keselamatan namanya Icha. 

10.25 WIB :        
Tiba di Bandara Internasional Djuanda, Sidoarjo. Dijemput Harmaji, Indah, Ichang dan Chacha.

11.30 WIB :        
Menyeberang ke Pulau Madura dengan melintasi Jembatan Suramadu, yang merupakan singkatan dari Surabaya dan Madura. Bukan Madurasa. Jembatannya panjang banget. Masuknya bayar 30 Ribu Rupiah untuk mobil. Belum pernah aku lewat jalan tol yang kiri kanannya laut. Seringnya lewat Tol Cikampek dan Tol Jagorawi.

12.30 WIB :        
Makan siang di Warung Makan Nasi Bebek Sinjay yang berada di Jl. Ketengan No. 45 Bangkalan, Madura. Makannya sih paling cuma 10 menit tapi nunggunya bisa sampe satu jam lebih. Kami dapat nomor antrian 274. Lapeeer .....!!



14.15 WIB : 
Tiba di Rumah Keluarga Harmaji di Jl. Tambak Windu, Surabaya. Tidur siang sebentar. Sekalian
 bayar utang tidur ah .... meski nggak akan terbayar, ya paling nggak bayarnya nyicil daripada mata
 mencicil terus bikin pusing kepala.


16.30 WIB :

Berangkat menuju Stasiun Surabaya Gubeng diantar Harmaji, Indah, Ichang dan Chacha. Dibawakan
 oleh-oleh mpek-mpek Candy dari Palembang, hm padahal Harmaji belum baca tulisan di blogku yang
 judulnya Tagline Nyubit. Di situ aku nulis, "Jadi pengen mpek-mpek". Memang rejeki itu bisa lewat siapa aja.
 Bahkan dari arah yang tak disangka-sangka. Buat Harmaji dan Indah, makasih ya mpek-mpeknya.

17.10 WIB :        
Tiba di Stasiun Surabaya Gubeng dan naik kereta Bima menuju Cirebon. Kereta berangkat pada pukul 17.15 WIB

Senin, 12 November 2012

04.00 WIB :         
Tiba di Stasiun Cirebon. Usailah catatan perjalanan.

04.30 WIB :
Makan bubur kacang ijo dan ketan item di Warung Burjo M. Toha Cirebon

12.00 WIB :         
Pijetan dulu ah ... !

Sampai jumpa pada catatan perjalanan berikutnya.

Ucapan Terimakasih saya sampaikan kepada :
Ina "Si Nenek Cantik" Hermadiana yang sudah mengatur semuanya.
HW dan Satriotomo sebagai Tuan Rumah yang telah siap direpotkan dan rela dibela-belain nggak tidur
Agus Jember, yang sudah menjemputku di Stasiun Pasaribu Sianturi-Surabaya, mentraktir makan malam dan mengantar aku ke rumah Bulekku di Sidoarjo.
Wahyu, Kreditur yang sudah ngasih 'Soft Loan' dan rela memberi keringanan cara pembayaran
Jamik Indra, sebagai Manajer Perjalananku dan juga sekaligus Kreditur yang nggak pernah nagih.
Bli Gede Gita, yang sudah menjemput kami dari Ngurah Rai dan mengantarkan kami selama di Bali. Mohon maaf ya, kalo udah menyebarkan virus GILA. maklum lah temen2 emang gila2 semua kok, he he .....
Marhaeni dan Rochmah yang udah jepret sana jepret sini, dokumentasinya cakep abiz deh ....
Harmaji dan Indah, makasih sudah jemput dari Juanda dan mengantar ke Stasiun Gubeng. Mengantar ke Pulau Madura. Makasih juga buat mpek-mpeknya.
Semua teman2 Angkatan 64, kalian luar biasaaaa .......

Cirebon, 12 November 2012

Komentar :

Good ... good ... good ...!!! Oke ... Sepuluh jempol deh pokoke buat Mas Goen ... he he he (Annisa Nuryati)

Mantap Bro cer-lan (cerita perjalanan) nya, runtut kejadiannya, sampe udah kenal pramugarinya, he ... he ... luar biasa! Ditunggu cerita2 yg lainnya ya ... (Harmaji)

Ceritanya lucu, sangat menghibur, sampe ketawa ga henti2 kl inget kata "Lagek Landing", hmm padahal Goen g pernah th kl kata itu terucap setidaknya seminggu 4x sejak akhir Januari 2012 (coba itung sendiri sampai sekarang udah brp kali kata tsb terucap) - Indah Sulfarini

Udah baca dong, bisa-bisanya begitu rincinya. (Jati Wiryawan)

Keren, dikau memang entertain habis. Salut aku (Ina Hermadiana)  


   

1 komentar:

  1. Oooooohhhh.....ternyata mas Goen abis dari Bali to?

    He..he..he..iya tuh mas. Pantai Padang-padang memang eksotis. Dulu hampir tiap Sabtu sore rute Ang dari Uluawtu, Pantai Suluban trus Pantai Padang-Padang. Baru pulang.

    Oh ya, Michael Learn To Rock pernah bikin beberapa klip dai pantai Padang-padang itu lho. Ada juga yang meneyebutnya pantai Labuan Sait.

    Sempat nengok Dream Land nggak. Kalau udah jam 3 sore seru lho.

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By