Breaking News

Senin, 05 November 2012

AHMAD TOHARI TAK PERNAH BAYANGKAN JADI PENULIS


Oleh : Mona Krisdinar  

Siapa yang menyangka, Ahmad Tohari, sang pengarang Trilogi terkenal Ronggeng Dukuh Paruk ternyata awalnya tak memiliki cita – cita sebagai penulis. Bahkan hingga berselang tiga tahun setelah menamatkan sekolahnya di SMA 2 Purwokerto, ia belum juga membayangkan nantinya bisa berhasil menulis dan merangkai tulisan hingga menjadi sebuah novel.  

Terlebih, di masa sekolahnya itu, Tohari muda mengambil jurusan ilmu pasti, sebuah jurusan yang jauh dari dunia sastra. Kemudian mencoba kuliah di jurusan kedokteran namun akhirnya berhenti lantaran kekurangan biaya.
Meski begitu, diluar kesadarannya, ternyata ia sudah membiasakan diri untuk hal – hal yang bisa disebut sebagai persiapan diri menjadi seorang pengarang. Kebiasaan kecil itulah yang sudah ia lakukan bahkan sejak dirinya masih duduk di bangku SD atau dahulu dikenal sebagai Sekolah Rakyat atau SR.
Kegemaran itu, semisal diantaranya senang ketika mendengarkan cerita – cerita lisan dari kakeknya atau gurunya, menyaksikan pementasan wayang kulit. “Dan setelah kelas 4 SR saya mulai sangat suka membaca,” ujarnya ketika berada di acara Belajar Sastra dari Novel Ronggeng Dukuh Paruk, di Purawisata belum lama ini.
Hanya buku – buku yang ada di sekolahnya saja yang bisa ia lahap. Lantaran ia sendiri tinggal di sebuah kampung yang lokasinya jauh dari kecamatan.
Selain membaca buku – buku sekolah, ia juga berkesempatan membaca koran – koran yang datang setiap bulannya. Ayahnya adalah seorang pegawai Kantor Urusan Agama yang sudah berlangganan koran lewat pos sekitar tahun 1955. Koran itu biasanya tiba di rumahnya satu minggu setelah tanggal terbitnya. Selain koran dan majalah, serta primbon dalam bahasa jawa, di rumahnya juga terdapat banyak kitab dalam bahasa arab maupun jawi dalam tulisan pegon.
“Pada periode SD ini, saya juga sudah tamat membaca komik Mahabarata, karya RA Kosasih sebanyak 48 jilid dan komik Ramayana sebanyak 19 jilid,” jelasnya.
Setelah menjadi murid SMA, kegemaran membacanya menjadi semakin terpenuhi. Bagaimana tidak, di sekolahannya ini masih terdapat begitu banyak novel klasik serta buku – buku karya Karl May yang menjadi kesukaannya. Ia juga memperoleh kesempatan melahap semua buku yang dimiliki seorang gurunya di perpustakaan pribadi.
“Pada tingkat SMP saya berani mengatakan bahwa saya sudah membaca semua novel klasik Indonesia ditambah beberapa karya terjemahan,” imbuhnya.
Namun ternyata tak hanya pengalaman manis saja yang ia miliki, tepatnya kelas 2 SMP, ia pun pernah mengalami pengalaman traumatis. Saat itu gurunya meminta para murid untuk membuat puisi pengisi majalah dinding. Tohari kecil pun berusaha keras menciptakan sebah puisi yang berasal dari pemikirannya sendiri. Hasilnya diluar dugaan, seorang rekannya menuduh Tohari kecil bahwa dirinya pernah membaca puisi yang sama di sebuah buku. Kemudian ia menuduh Tohari telah mencontek puisi tersebut.
“Sejak saat itu saya merasa bahwa dunia kepengarangan adalah sesuatu yang sangat tinggi jauh dan saya hanya bisa memandang dari luar,” ucapnya.
Meski begitu, kegemarannya membaca sama sekali tak terpengaruh. Pria kelahiran Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah 13 Juni 1948 ini, terus mengasah kemampuannya lewat membaca. Hingga kemudian ia mulai dikenal setelah berhasil menerbitkan novel Di Kaki Bukit Cibalak yang awalnya merupakan cerita bersambung di harian kompas pada tahun 1979.
Kemudian disusul dengan penerbitan novel Kubah di tahun 1980 yang pernah mendapat penghargaan dari yayasan buku utama. Belum berakhir sampai di situ, ia pun berhasil menelurkan novel triloginya yang sangat terkenal yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk di tahun 1982, Lintang Kemukus Dini Hari pada tahun 1985 serta Jantera Bianglala di tahun 1986.  Triloginya ini pun berhasil mengantarkannya meraih berbagai macam penghargaan di bidang sastra termasuk sastra asean, Sea Write Award di tahun 1995.
Tampak sangat mulus perjalanan pengalaman hidupnya, tapi sebenarnya ia pernah pula mengalami pengalaman pahit. Tohari pernah diinterogasi militer pemerintahan orde baru karena novel triloginya yang dianggap menyerang pemerintahan. Dengan segudang pengalaman serta keahliannya itu, tak heran jika ia kemudian menjadi salah satu idola para mahasiswa sastra.
Mereka kebanyakan kagum akan keahliannya merangkai kata hingga menjadi sebuah novel yang hidup. Pun demikian halnya dengan pribadinya yang juga banyak dikagumi. Di kalangan rekannya ia dikenal sebagai sastrawan yang berpenampilan sederhana dan tidak suka dengan konsep feodalisme dan kapitalisme. Ia memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan karya – karya fisiknya pun tak pernah lepas dari kisah kemanusiaan, ketidakadilan serta penderitaan rakyat kecil di pedesaan.

Sumber : jogja.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By