Breaking News

Senin, 15 Oktober 2012

PEMBUNUH BAYARAN

Oleh : Goen Mitoro


Hallo, namaku Anggie. Aku sekarang duduk di kelas enam SD. Kali ini aku ingin bercerita tentang kisah yang menegangkan. Simak baik-baik ya.

Pada suatu pagi ketika aku bangun tidur, ibuku tidak ada. Adikku, Bella, masih tidur dengan lelap di sampingku. Aku segera turun dari tempat tidur. Aku cari ibu di dapur, tidak ada. Aku lihat di teras, tidak ada. Di kamar mandi juga ibu tidak ada. Kemana ibu?

Tadi malam, Pakde dan Budeku datang dari Tangerang bersama kakak sepupuku. Aku memanggilnya mbak Wiga. Pakde terlihat sedang asyik ngobrol dengan bapakku di teras depan rumah sambil menikmati secangkir kopi panas. Bude dan mbahku sedang sibuk di dapur. Mereka begitu serius membicarakan sesuatu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Aku hanya mendengar sekilas. Mereka berbicara secara perlahan-lahan, setengah berbisik. Mungkin supaya tidak ada orang lain yang tahu. 

Aku tak bermaksud nguping pembicaraan bude dan mbahku, namun aku dapat sebuah informasi bahwa ibuku pergi dengan kakak sepupuku. Kemanakah ibu? Ada apa ibuku dan mbak Wiga pergi? Mengapa ibu tidak mengajakku?

Sementara itu, ibuku dan mbak Wiga mendatangi suatu tempat. Ibuku tengok sana sini. Ibuku menghampiri seorang lelaki bertampang sangar. Lelaki itu nampak bengis dan kejam. Mbak Wiga membuntuti ibuku dari belakang. Ibuku menyerahkan sebuah dus bekas mie instan. Ibuku memberi kode kepada lelaki itu dengan tangannya, seperti gerakan memotong leher. Tanpa bicara banyak, lelaki itu mengacungkan jempolnya. Ibuku tersenyum.

Dalam beberapa saat, dua nyawapun melayang. Lelaki itu tampak sigap dengan apa yang dilakukannya. Sepertinya dia sudah sangat ahli dan mengerjakan tugasnya dengan profesional. Dia langsung menguliti dan memotong-motong korbannya menjadi beberapa bagian. Setelah itu memasukkannya ke dalam kantong plastik warna hitam dan menyerahkannya kepada ibuku.


Ibuku mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan. Lalu menyerahkannya kepada lelaki itu. Ibuku segera meninggalkan lelaki itu dengan tergesa-gesa. Ibuku dan mbak Wiga langsung pulang ke rumah.

Aku melihat ibuku datang bersama mbak Wiga. “Eh anak ibu sudah bangun ya, sudah mandi belum sayang?” tanya ibuku. “Belum bu, ibu dari mana?” kataku dengan rasa penasaran. “Ibu tadi pergi ke Pasar Pucung. Ibu menemui tukang ayam. Semalam Bude Puji dan Pakde Jono datang membawa dua ekor ayam yang masih hidup. Ibu minta tolong tukang ayam di pasar untuk menyembelih ayam. Tukang ayam lalu mencabuti bulunya, membersihkan dan memotongnya kecil-kecil. Jadi ibu bisa langsung memasaknya di rumah” ibuku menjelaskan padaku. “Oh, gitu ya bu. Anggie mau mandi dulu ya bu. Habis mandi, nanti mau sarapan pakai ayam goreng”. Aku mengambil handuk dan langsung menuju ke kamar mandi. Aku sudah tak sabar ingin makan ayam goreng kesukaanku.

4 komentar:

  1. Dari judulnya, tak terpikir kalau ini cerita anak-anak. Bagus. Saya suka dan merasa perlu membacanya ulang.

    **komentar ini saya tulis setelah membacanya 3 kali. Dan itu menjadi kebiasaan saya.**

    Tehnik penulisan dan EYDnya.....nyaris sempurna. Itu hal lain yag selalu saya pelajari dari semua tulisan Mas Goen.

    Disamping cerita yang sederhana, mudah dicerna, tai memiliki alur yang kuat dang sangat rapi.

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas apresiasinya, hal-hal yang sederhana pun bisa jadi menarik. Kisah ini saya buat untuk bahan belajar menulis keponanakan saya Anggie.

    BalasHapus
  3. saya juga sedang mencari pembunuh bayaran...buat nyamuk2 ini, huhuhu

    BalasHapus
  4. Dari pada pakai obat anti nyamuk, lebih baik sewa pembunuh bayaran khusus nyamuk dengan tarif terjangkau. Saya pernah nyemprot nyamuk2 pakai obat pembasmi nyamuk,tapi nyamuknya ga apa2, eh ternyata mereka sudah minum obat anti mabuk khusus nyamuk, he he ...

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By