Breaking News

Rabu, 10 Oktober 2012

PANGGUNG SANDIWARA


Oleh : Goen Mitoro

Setelah lulus SMP, aku melanjutkan sekolah di SMA Teladan. Sekolahku terletak di wilayah Setiabudi, di antara Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan H. R. Rasuna Said, Kuningan. Tempat tinggalku di wilayah Guntur. Aku dan teman-temanku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak antara rumah dan sekolahku sekitar tiga kilometer. Kami harus menyeberangi dua jalur lambat dan dua jalur cepat Jalan Haji Rangkayo Rasuna Said untuk menuju ke sekolahku.

Ketika kelas dua SMA, aku mengikuti kegiatan teater di sekolahku. Namanya Teater Teladan. Aku masuk grup ini bersama teman-temanku yang masih duduk di kelas satu. Saat aku masih duduk di kelas satu, aku masih belum bisa ikut grup ini karena aku harus membagi waktu antara kegiatan sekolah dan membantu orangtuaku berjualan di malam hari. Keinginanku semakin besar, ketika aku menyaksikan pertunjukan teater sekolahku dengan judul ‘Ayahku Pulang’ di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan.

Setelah meminta ijin kepada bapak dan ibuku, aku mulai aktif mengikuti kegiatan teater dengan jadwal dua kali seminggu yaitu Selasa dan Jumat. Meskipun sudah mendapat ijin dari kedua orangtuaku, rasanya ada perasaan bersalah, karena aku tidak bisa ikut membantu mereka. Tetapi ada kakak dan adikku yang masih membantu orangtuaku.

Tahun ini, grup teater kami kembali mengikuti Festival Teater SLTA se-wilayah Jakarta Selatan. Rencananya kami akan membawakan naskah yang berjudul 'Aduh', karya Putu Wijaya. Persiapan dimulai dengan latihan olah tubuh dan olah vokal. Kami membentuk Tim Produksi. Pelatih membagi peran kepada para pemain. Setelah itu kami melakukan latihan membaca naskah, istilahnya reading. Latihan pun meningkat dengan mengatur adegan dan penempatan blocking. Kami dengan tekun mengikuti arahan dan bimbingan dari Kak Mikmok, pelatih kami.

Semakin mendekati hari pementasan, kami semakin giat berlatih. Jadwal latihan pun ditingkatkan menjadi setiap hari sepulang sekolah siswa kelas satu. Di sekolah kami, semua siswa kelas satu masuk siang, sedangkan siswa kelas dua dan tiga masuk pagi. Aku pun tidak bisa membantu bapak dan ibu di malam hari.

Bapak dan ibu rela tidak berjualan demi untuk menonton anaknya tampil dalam pementasan teater. Bapak memang sangat mencintai kesenian dan kebudayaan. Bapakku bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bapak mendukung kegiatanku meskipun aku tidak bisa membantu bapak berjualan. Di atas panggung aku mencari-cari keberadaan bapak dan ibu. Ketika sudah kutemui sosok bapak dan ibuku, hatiku sangat senang.

Grup teater sekolah kami masuk ke babak final. Betapa senangnya aku dan juga teman-teman. Jerih payah kami tak sia-sia. Kami latihan lebih baik lagi untuk persiapan final nanti di Taman Ismail Marzuki. Kami pun harus latihan lebih semangat lagi. Aku memberitahu bapak dan ibuku bahwa grup teater kami masuk final dan akan tampil di Taman Ismail Marzuki.

Ketika pementasan di Taman Ismail Marzuki, bapak datang bersama adikku –anak bungsu bapak- yang masih duduk di kelas tiga SMP. Ibu tidak ikut menonton pementasan teater, karena ibu dan kakakku tetap berjualan. Aku mencari keberadaan bapakku diantara deretan bangku penonton. "Oh itu mereka, bapak datang bersama adikku", gumamku. Aku melihat mereka di sebelah kanan dari arena.  Kami tampil di teater arena, bukan di teater tertutup. Tempatnya lebih terbuka, dengan penonton hampir mengelilingi kami.

Bapak mungkin tidak mengerti teater. Bapak tidak tahu apa maksud cerita yang ingin disampaikan. Bapak hanya ingin melihatku ikut main. Bapak ingin melihat anaknya pentas, itu saja. Naskah yang kami bawakan tetap sama seperti waktu kami main di Bulungan. Kali ini bapak mengajak adikku untuk ikut menyaksikan aku main.

Bapak berbisik kepada adikku, "mas mu yang mana?". Bapak bingung melihat hampir semua pemerannya tampil dengan kostum yang sama dengan riasan wajah yang sama pula. Apalagi ketika aku tampil memakai topeng. Aku dan Joko berperan sebagai leak. Bapak tak bisa mengenaliku. Apalagi leaknya ada dua.

“Itu pak, itu mas Goen” bisik adikku sambil menunjuk ke arahku. “Apa iya, itu Goen?”, ucap bapakku ragu. “Mas Goen, dapat peran kecil aja ya pak”, ucap adikku sambil mendekatkan mulutnya ke telinga bapak. “Peran kecil, peran besar sama saja. Yang penting kita harus melakoninya dengan baik. Dunia ini panggung sandiwara. Bapak sekarang ini, hanya seorang pegawai kecil.  Bapak harus berjualan pakaian di pinggir jalan untuk mencari tambahan penghasilan. Suatu saat nanti, kamu dan mas mu, tidak kebagian peran yang sama seperti bapak”, ucap bapak panjang lebar. Adikku merasa tidak enak dengan penjelasan bapak.

Adikku diam. Dia merenung dan merasa menyesal. Adikku sudah tidak konsentrasi lagi dengan pementasan. Dia bertekad untuk masuk grup teater ketika dia sudah duduk di bangku SMA. Adikku ingin masuk sekolah yang sama denganku. Dia berjanji bahwa dia akan serius melakoni perannya dengan baik. Dia akan mempersembahkan peran besar pada bapak. Janji yang tertanam di hatinya untuk mendapatkan peran yang jauh lebih baik daripada yang sekarang bapak lakoni. “Ya Allah, berikanlah peran yang berarti untukku. Peran yang bisa bermanfaat untuk bapak , untuk ibu dan juga untuk saudara-saudaraku. Peran yang berguna bagi orang banyak. Semoga kelak aku bisa melakoni peranku dengan sebaik-baiknya, Aamiiin ya Allah.”

Setelah lulus SMP, adikku masuk ke sekolah yang sama denganku. Dia masuk SMA Teladan. Saat masa orientasi siswa, dia mendaftarkan diri untuk bergabung dengan grup teater sekolah. Prestasinya sungguh luar biasa. Aku kagum pada adikku. Dia pernah terpilih sebagai Pemain Pria Terbaik. Selain itu adikku beberapa kali keluar sebagai Juara dalam Lomba Baca Cerpen Betawi. Segudang prestasi diraihnya dari kegiatan teater di sekolah. Koleksi piala yang terpajang di rumah, semuanya milik adikku.

Bila ada pementasan teater, aku menonton bersama bapakku. Aku bilang sama  bapak, “Adek mainnya bagus ya pak. Adek berperan sebagai tokoh utama dalam cerita ini pak”. Bapakku hanya diam, tapi bapak mendengar ucapanku. “Dulu bapak menyaksikan  pementasan kamu dan teman-temanmu. Bapak  datang bersama adikmu. Sekarang kita datang untuk menyaksikan adikmu pentas bersama teman-temannya. Kamu sudah menginspirasi dan memotivasi adikmu. Semoga kalian berdua menjadi anak kebanggaan bapak, kebanggaan keluarga.” 

"Aamiiin ya Allah", aku mengaminkan do'a bapak dalam hati. Semoga keinginan dan harapan bapak bisa terwujud. Pada saat itu, aku pun teringat lagu 'Panggung Sandiwara' yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar.


Dunia ini panggung Sandiwara, ceritanya mudah berubah

Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan, yang harus kita mainkan

Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura

Mengapa kita bersandiwara?

Mengapa kita bersandiwara?

Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak

Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang

Dunia ini penuh peranan

Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara?

Mengapa kita bersandiwara?

***

"Mainkan peran kita dengan baik, dan silakan berimprovisasi"
(goen mitoro)


Catatan :

Prestasi Adikku :
1.  Juara II Putra Lomba Baca Cerpen Betawi Se-Jakarta Selatan Tahun 1989 di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan
2.  Juara II Putra Lomba Cerpen Betawi Remaja Tingkat Kotamadya Jakarta Timur Tahun 1992/1993 di Gelanggang Kotamadya Jakarta Timur
3.  Juara III Putra Lomba Baca Cerpen Betawi Remaja tingkat Kotamadya Jakarta Timur Tahun 1993/1994 di Jakarta Timur
4.  Juara III Lomba Baca Cerpen Betawi Remaja Putra Tingkat Wilayah Jakarta Timur Tahun 1995 di Gelanggang Remaja Kotamadya Jakarta Timur
5.    Aktor Terbaik Festival Teater Remaja Se-Jakarta Selatan 1996 di Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan
6.    Pemain Pria Terbaik Festival Teater Remaja XXIV Se-DKI Jakarta 1996/1997, Program PKR-GRJU
 

1 komentar:

  1. Plotnya sederhana tapi tersusun sangat rapi. Saya suka, ada falsafah yang begitu dalam yang terrangkum pada akhir ceritanya.

    "Hidup ini panggung sandiwara. Apapun perannya, besar, kecil, harus kita perankan dengan sepenuh hati"

    Dan saya adalah salah satu orang yang selalu menunggu cerpen mas Goen.

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By