Breaking News

Selasa, 16 Oktober 2012

KRITIK PANGKAL "KAYA"


Meski pedas menampar, kritik bisa jadi katalisator menuju pribadi yang lebih matang. Asalkan tahu rahasia mengolahnya.

Teks oleh : Eileen Rachman

Jangan sampai perasaan kita terhadap masukan yang masuk, menghalangi kita untuk memanfaatkan saran atau kritik yang kita dapatkan dari orang lain.
Banyak orang mengeluhkan betapa bekerja sekarang ini semakin stresful. Bukan hanya karena tuntutan persaingan yang ketat atau beban kerja yang semakin banyak, namun juga karena para atasan, ‘user’ atau pelanggan, yang dari hari ke hari semakin kritis dan tidak mudah dipuaskan.
“Materi presentasi yang sudah saya siapkan susah payah selama berhari-hari, saat baru dipresentasikan 5 menit, sudah ‘dibantai’ habis-habisan,” demikian ujar seorang teman. Rekan lain menimpali, “Laporan beratus-ratus halaman yang saya buat sampai harus lembur selama satu minggu, boro-boro mendapat pujian, dilirik pun tidak. Komentar dari pimpinan hanya : ‘covernya kurang menarik’.”
Pernahkah Anda berada dalam situasi seperti ini? Bisa kita bayangkan, pastilah kita akan merasa sedih, kecewa, bahkan marah, apalagi jika kita merasa sudah susah payah mengeluarkan upaya terbaik dan bekerja dengan “all-out”.
Kritik memang tidak bisa dihindari. Figur publik atau pejabat negara yang sedikit saja salah bicara, bisa menjadi bulan-bulanan dan olok-olok panjang di media. Jangankan kesalahan yang memang jelas-jelas fatal dan merugikan, kinerja yang sedikit saja melenceng dari sasaran saja bisa berbuah kritik sangat pedas.
Media cetak dan televisi kita sekarang ini pun kita lihat seakan haus untuk mengupas, mengorek-ngorek, bahkan menelanjangi kesalahan individu dan lembaga dengan terbuka, bahkan kerap terasa tanpa perasaan.
Siapa pun kita, apa pun posisi kita, bila kita tidak punya strategi dan kemampuan untuk mendinginkan kepala, mencerna dan mengolah kritik dengan efektif dan elegan, jangan bermimpi untuk bisa meraih sukses atau mewujudkan cita-cita yang ‘besar’.
Pertanyaannya, seberapa pintar kita mengolah kritik menjadi energi pendorong untuk maju? Seberapa besar kemampuan kita memanfaatkan kritik sebagai alat bantu untuk ‘memperkaya’ kemampuan dan kematangan diri kita?

MEKANISME BELA DIRI
Harus diakui bahwa dalam keadaan terusik, kita punya kecenderungan untuk bela diri dan mengamankan diri. Ada yang melakukan mekanisme pertahanan diri dengan berkilah, “Ah, ini bukan salah saya”, atau “Orang-orang itu memang senangnya mencari kesalahan saja.” Ada orang yang melakukan kesalahan malahan balik menyalahkan orang lain, pihak lain, situasi ataupun kebijakan. Ada individu yang sekali dikritik langsung surut ke belakang, hilang dari ‘peredaran’, tidak mau mencoba lagi. Ada juga individu yang menyebut dirinya adalah ‘victim’ alias korban situasi.
Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apa reaksi kita saat atasan menolak ide kita? Bagaimana sikap kita mendengar orang lain menjelek-jelekkan kita? Apakah kita biasanya langsung merasa tertohok dan mencari alasan-alasan pembenaran diri? Apakah umpan balik yang kita terima selama ini telah membantu kita memperbaiki diri atau malahan banyak yang mental, dan kita masih tetap melakukan hal-hal ‘basi’ yang tidak efektif? Mekanisme diri yang sehat adalah syarat bagi kita untuk maju. Ini sebabnya kita perlu meluangkan waktu untuk menganalisa, apakah proses bela diri yang kita lakukan sudah tepat dan sehat atau hanya semu dan malah menumpuk masalah.

TIDAK BANYAK ORANG YANG MENYADARI BAHWA
MENGAKUI KESALAHAN DAN MENGAMBIL TANGGUNG JAWAB
UNTUK MEMPERBAIKI KESALAHAN ADALAH TINDAKAN YANG KEREN.

Di berbagai kompetisi ajang pencarian bakat di televisi, para kontestan dilatih untuk menelan kritik dari dewan juri, yang paling kasar, paling nyeleneh dan paling menyebalkan sekalipun, dengan senyum di wajah, dada tegak dan kepala terangkat “ Ya, terimakasih masukannya, saya akan berlatih lebih keras dan berusaha memperbaikinya minggu depan.” Bukankah melihat sikap seperti ini kita malahan jadi mengacungkan jempol?
Sebaliknya, sikap defensif, biasanya akan membawa hasil yang tidak positif, bahkan cemooh dari orang lain. Bila kita lebih mementingkan menjaga ‘image’, mengutamakan ‘pencitraan’, ketimbang menggarap kualitas pribadi, kita bisa terjebak dalam sikap defensif yang kuat. Semakin sering individu membentengi diri dengan berbagai dalih dan alasan pembenaran diri, semakin sulit ia melaksanakan proses mawas diri. Tanpa disadari, akhirnya kepribadiannya seolah tertutup oleh lapisan tebal tanpa kemungkinan ia sendiri menembus dan bersikap jujur pada dirinya sendiri. Bukankah ini sangat merugikan?

SIAPKAH KITA BERUBAH?
Kritik memang sudah pasti akan ada ke mana pun kita melangkah. Orang yang paling pintar, paling hebat, paling ahli dan paling bekerja keras pun tidak luput dari kritik. Bila kita ada di tahap belajar, tahap mencoba, tahap memulai, di mana hasil kerja kita masih jauh dari sempurna, sudah sewajarnya bila kritikan deras mengalir ke tangan kita. Bagaimana bila kritik yang dilontarkan berisi fitnah dan menyerang kepribadian kita? Bagaimana menyikapi kritik yang seolah tidak ada habisnya? Ujung-ujungnya, balik lagi kita sendirilah yang memutuskan mana yang harus dilakukan sekarang, mana yang akan dikerjakan nanti, atau mana yang bahkan yang dibiarkan saja.
Tidak semua masukan perlu dikomentari, direspons, atau dibesar-besarkan. Di mana-mana, yang namanya feedback, sedikit banyak menyakitkan bagi kita yang menerimanya. Namun demikian, jangan sampai perasaan kita terhadap masukan yang masuk, menghalangi kita untuk memanfaatkan saran atau kritik yang kita dapatkan dari orang lain.
Kita yang ingin maju, tentu perlu menjaga diri kita agar kritikan yang kita terima tidak lantas menjadikan kita kehilangan rasa percaya diri atau kehilangan kebanggan diri. Itu sebabnya banyak orang menyarankan agar kita tidak ‘take it personally’ pada kritik yang menampar diri kita. Merasa ‘down’ sesekali tentu wajar kita rasakan, namun kita juga harus punya batas waktu agar tidak membiarkan diri kita berlama-lama meratapi kegagalan. Tak ada salahnya mengingat, bahkan merinci apa yang menjadi kekuatan diri karena kekuatan diri adalah pendorong untuk maju.
Namun, pada saat bersamaan kita juga perlu bisa mencerna esensi dari kritik yang kita terima. Tanyakan pada pemberi kritik, saran apa yang dia miliki untuk perbaikan. Gali dan klarifikasi, serta eksplorasi, kalu bisa dari ‘segala arah’, peluang untuk memperbaiki diri. Bila masing-masing kita dengan sungguh-sungguh menindaklanjuti satu-dua kritik dengan tindakan perbaikan diri yang nyata, bayangkan betapa besarnya perubahan yang bisa kita hasilkan untuk diri kita, organisasi, lingkungan, bahkan bangsa.

Eileen Rachman
Psikolog dari Universitas Indonesia ini lahir di Bukittinggi, 3 Juli 1950. Ketertarikannya terhadap berbagai aspek untuk pengembangan sumber daya manusia, terutama bagi kaum eksekutif bisnis telah melahirkan EXPERD (Executive Performance Development) pada tahun 1989. Ia juga aktif menjadi konsultan SDM untuk berbagai perusahaan nasional, serta kolumnis untuk berbagai media di tanah air.

sumber : Kick Andy Magazine, Oktober 2011

2 komentar:

  1. Bacaan yang bagus, sebagai bahan kontemplasi diri....

    Ijin copast ya mas Goen, buat dokumen pribadi

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas atensinya. Silakan

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By