Breaking News

Senin, 29 Oktober 2012

DOA UNTUK PAPA

Oleh : Kiky Wiratama 

Ketika itu aku bersama adik, mama dan papaku kumpul bersama di ruang keluarga setelah melaksanakan sholat Isya berjamaah. Entah mengapa, papa kemudian merasakan sakit kepala dan ingin segera beristirahat di kamar. ”Pa, papa kenapa?”  tanyaku heran. “Enggak apa-apa kok A’,  papa cuma lagi sedikit sakit kepala saja” jawab papa sambil berusaha tersenyum kepadaku. Akupun kembali menjawab dan tersenyum “Oh ya sudah, papa istirahat aja dulu”.

      Aku merasa bingung dan heran. Aku bertanya dalam hatiku malam itu. Papa tidak seperti biasanya hari ini. Kalaupun papa sakit, dia selalu mencoba untuk tetap tersenyum dan tidak ingin menampakkan bahwa dia itu sedang sakit. Tapi aku berpikir dan bertanya kepada mamaku, “Ma, Papa kayanya aneh deh hari ini. Dia merasa sakit kepala, tapi Aa merasa kalau Papa itu sepertinya menahan sakit kepala yang sangat kuat. Bukan hanya sakit kepala biasa Ma.” “Ah, kamu itu A'. Mungkin Papa sedang capek, atau pusing karena ada proyek bangunan yang belum diselesaikannya” ujar Mamaku sambil tersenyum dan mengelus kepalaku.

      Akupun berpikir kembali, mungkin apa yang dikatakan mama benar. Soalnya Papa bekerja sebagi insinyur, otomatis apa yang ada di pikirannya pasti berhubungan dengan angka dan sketsa-sketsa bentuk bangunan. Bisa jadi hal itulah yang membuat Papa pusing. Aku pun menjadi tenang atas apa yang Mama katakan tadi.

      Keesokan harinya, apa yang kukira ternyata benar. Firasat yang mengatakan kalau Papa itu bukan sakit kepala biasa akhirnya terjawab. Setelah aku pulang dari tempat hangout bersama kawan-kawan, aku mendengar Papa merintih menahan sakit kepala. “Pa, Papa kenapa? Papa tidak apa-apa kan? Papa baik-baik saja kan?” tanyaku cemas. Kemudian aku menelpon Mama yang  sedang pergi ke pasar. “Ma, Mama masih lama nggak di pasarnya? Papa merintih kesakitan, cepat pulang ya ma. Aa khawatir terjadi apa-apa dengan Papa”. Mama pun langsung segera menjawab, “Iya Aa, Mama segera pulang.” Setelah Mama pulang, aku bersama Mama dan adikku membawa Papa ke rumah sakit pertama yaitu Rumah Sakit Ciremai.

      Di sana aku mulai agak tenang ketika papa sudah sedikit pulih dan bisa tersenyum hingga bercanda lagi bersama kami. Beberapa minggu sudah berlalu. Senyum Papa masih bisa kulihat.

      Tetapi, setelah sebulan berlalu, Papa dipindahkan dari Rumah Sakit Ciremai ke Rumah Sakit Gunung Jati. Apa yang terjadi? aku bertanya dalam hati. Dokter yang menangani Papa berbicara kepada mamaku dengan mimik muka kecewa. Aku mendengar samar-samar apa yang dikatakan dokter tersebut dari kursi yang berada di samping tempat tidur Papa. Kudengar kalau dia meminta maaf karena tidak bisa membantu menyembuhkanya.

     Aku bingung dengan apa yang dikatakan dokter itu kepada mamaku. Aku berpikir, “Masa sih, seorang dokter tidak bisa menyembuhkan sakit kepala yang sepele ini”. Akhirnya Papa dipindahkan ke rumah sakit kedua.

     Satu bulan sudah kini papaku dirawat di Rumah Sakit Gunung Jati. Pikiranku masih saja bertanya. Sebenarnya Papa menderita sakit apa sehingga salah satu dokter menyerah untuk menyembuhkan Papa. Sore itu aku bertanya, “Pa, Papa sebenarnya sakit apa sih?” Papa hanya tersenyum. Dia tidak menjawab. Kemudian dua hari sesudah itu, dokter yang menangani Papa mendatangi kamar papa. “Pak, maaf di sini kami tidak bisa menangani Bapak, terpaksa Bapak kami pindahkan lagi ke Rumah Sakit Pelabuhan. Di sana ada dokter spesialis yang sudah teruji handal”. Kemudian Mama bertanya kepada dokter tersebut. “Pak Dokter, sebenarnya apa yang terjadi pada suami saya”. Dokter tersebut hanya menjawab, “Maaf bu, cepat atau lambat ibu akan mengetahuinya”.

     Mendengar pembicaraan dan ucapan dokter tersebut, aku pun keluar dan meninggalkan ruangan tempat papa dirawat. Aku bertanya dan berpikir sambil kusandarkan badanku di tembok dan menunggu dokter tersebut keluar. Sebenarnya apa yang terjadi? Tak lama kemudian dokter tersebut keluar dan tangannya memegang pundakku. Dokter itu berkata, ”Bapak tahu, suatu saat nanti kau akan bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan untuk Mama, Papa dan Adikmu, dek”.

       Aku bingung. Aku tidak menghiraukan perkataan dokter itu. Hanya rasa penasaran dalam hatiku. ”Pak Dokter, sebenarnya Papa saya itu sakit apa sih? Sudah dua kali pindah rumah sakit, dan ini yang ketiga. Sekarang akan dipindahkan lagi. Apa sakit papa begitu parah sehingga Pak Dokter tidak dapat menyembuhkan papa saya?”  tanyaku meragukan kemampuannya. “Dokter itu pun hanya tersenyum dan menjawab sambil berlalu, “Besok pagi papamu dipindahkan. Cepat atau lambat kamu akan mengetahuinya”.

        Malam harinya Papa menangis, ”Mama, Aa, kok Papa gak bisa berdiri. Terus apa lampu di ruangan ini mati semua, kok gelap?” Aku menangis mendengar ucapan Papa sambil menggenggam tangannya. Aku katakan, ”Papa akan baik-baik saja, Papa akan sembuh”. Mama pun menangis dan menelpon dokter yang tadi sore ditemuinya. Dokter pun datang dan menyarankan untuk segara dipindahkan ke Rumah Sakit Pelabuhan. Sesampainya di Rumah Sakit Pelabuhan,  Papa langsung diperiksa.

       Dokter mendekati kami. Dia berbicara dengan keras, ”Kenapa Ibu baru membawanya kesini? Suami Ibu terkena kangker otak stadium akhir, dan sekarang sudah menjalar karena mendapatkan obat yang salah dari rumah sakit sebelumnya”. Aku memotong ucapan dokter itu sambil mengusap air mata dan berkata, “Bisa nggak, nada bicara Bapak dihalusin, mama saya lagi nangis, pak!”

Kemudian Papa dibawa masuk ke kamar yang telah disiapkan. Sedih rasanya melihat kondisi Papa bagaikan robot. Selang oksigen menempel di hidung papa. Jarum infus menancap di tangan kiri papa. Sedih rasanya, ingin aku menangis saat melihat papa seperti ini. Aku selalu berdoa, semoga Allah memberikan keajaiban buat  Papa. Ternyata Papa memang tidak ingin kami sedih. Papa tidak ingin kami mengetahui penyakit yang dideritanya selama ini. Papa menyimpan ini rapat-rapat. Papa merahasiakan penyakitnya dari kami. Akhirnya kami pun tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Selalu aku bercerita ketika kami sering nonton race motor di Bima, main wahana permainan di Time Zone mengenang masa-masa indah bersama Papa. Aku menangis. Aku meneteskan air mata. Aku tahu sekarang Papa sudah tidak bisa mendengar lagi apa yang aku ucapkan karena sudah menjalar dan semakin parah hingga ke telinga. Papa sudah tidak bisa mendengar lagi.

Seusai sholat Subuh di mushola rumah sakit, aku kembali ke ruang perawatan Papa. Aku membuka pintu secara perlahan. Langkahku terhenti ketika aku ingin masuk. Aku melihat melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Mama menggenggam erat tangan papa. Mama berkata, ”Pa, Mama nggak apa-apa kalaupun Papa nggak bisa ngomong, nggak bisa dengar lagi, atau seperti mayat hidup Mama rela, asalkan Papa tetap hidup, tetap di samping Mama”. 

Di sinilah hatiku begitu trenyuh mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir mama. Aku menangis. Perlahan, aku kembali menutup pintu. Kuurungkan niatku untuk masuk. Aku duduk merenung di depan ruang rawat papa. Aku berdoa, ”Jika ini yang Kau gariskan, aku ikhlas ya Allah”.

Empat bulan berlalu, entah mengapa ada keajaiban yang datang. Papa berbicara dan memanggil Aku, Mama dan adikku untuk duduk di samping Papa. “A’, jaga mama baik-baik, jangan nakal ya. Jaga adikmu juga, sekolah yang bener ya. Tuntut ilmu yang tinggi. Bahagiakan Mama dan adikmu. Barangkali suatu saat Papa tidak ada.” Aku menunduk dan meneteskan air mata. Papa kembali berkata, ”Dan untuk Mama, rawat anak kita dengan baik ya ma. Papa akan selalu ada di samping Mama”. Mama menangis. Sepertinya Mama punya firasat yang sama sepertiku kalau kami akan kehilangan Papa.

Dua minggu berlalu, Mama masih menginginkan Papa sembuh, tapi aku tahu Papa hanya menunggu Mama mengikhlaskan kepergiannya saja. Malam itu setelah sholat Maghrib, aku mendengar Mama mengaji dan berdoa. Mungkin Mama sadar kalau Allah ingin mengembalikan Papa untuk berada di sisi-Nya. Mama berkata sambil tangannya menggenggam erat tangan papa dan meneteskan air mata, ”Pa, kalau Papa yang inginkan begini Mama ikhlas apapun yang terjadi.” Aku tahu, aku mendengar dan aku mengerti kalau yang Papa tunggu adalah ucapan kata ikhlas untuk mengantarkan Papa pergi selamanya yang keluar dari mulut mama. Walaupun Papa tidak dapat mendengar, tapi arwah yang terjebak di dalam raganya pasti bisa mendengar.

Masih kuingat jelas, malam itu malam Jum’at. Papa memanggilku. Aku terbangun. Tiba-tiba Papa kembali bicara,  “A, tolong ke sini sebentar”. Aku menghampiri Papa. Papa berkata, “Papa sudah tidak bisa berdiri lagi, tidak bisa melihat, dan tidak bisa mendengar, tapi Papa masih bisa merasakan kalau Aa’ ada di samping Papa sekarang”. Aku sedih mendengar kata-kata Papa. Papa meminta aku untuk menuntunnya membaca dua Kalimat Syahadat. 

Aku menangis. Walaupun Papa tahu, dia tidak dapat mendengar suara apapun, hingga aku mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Setelah itu, beberapa jam kemudian tepat pukul setengah sebelas malam, Papa pergi meninggalkan kami. Mama menangis. Mama menelpon untuk memberitahukan berita duka ini kepada keluarga mama dan keluarga papa.

Sekarang aku tahu, Papa menyembunyikan ini karena Papa tak ingin kami semua bersedih. Pesan apa yang Papa katakan akan selalu kuingat. Kini aku menjadi tumpuan bagi keluargaku. Aku berusaha menjadi yang terbaik untuk keluargaku.

Kami semua menyayangi Papa. Kami semua sudah ikhlas dengan kepergian papa. Semoga Papa tenang dan damai di sisi-Nya.  Doa Aa', Mama dan Rama akan senantiasa mengalun indah untuk Papa.



Tentang Penulis :
Kiky Wiratama lahir di Indramayu pada tanggal 7 Oktober 1995. Anak sulung dari dua bersaudara ini masih tercatat sebagai siswa di SMK Negeri 1 Sindang Indramayu, Jurusan Teknik Komputer Jaringan. Kiky saat ini duduk di Kelas XI TKJ-I. Remaja yang memiliki hobby bermain Basket Street Ball dan penyuka balapan motor ini bercita-cita ingin menjadi orang sukses dan ingin selalu memberikan yang terbaik bagi keluarganya. 'Doa Untuk Papa' adalah cerpen pertamanya. Semoga kegemarannya menulis tidak hanya berhenti sampai di sini saja.


Komentar :
Cerita yang bagus sekali. Saya sangat terharu. Memang kepergian orang yang kita cintai akan meninggalkan duka yang begitu dalam. Semoga doa seorang anak yang sholeh untuk papanya tercinta, akan didengar dan dikabulkan Allah SWT, aamiiin.
(Guntur Sumitro).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By