Breaking News

Jumat, 28 September 2012

SEMUA TENTANG EMIH



Oleh : Ween Solusyen


Ia bukan seorang wanita karir. Ia bukan wanita keturunan bangsawan. Bukan pula wanita dengan kekayaan berlimpah. Ia bukan wanita masa kini yang jago internet. Bukan juga wanita yang serba bisa. Ia hanyalah seorang wanita desa biasa. Tapi ia adalah wanita hebat.

Adalah Emih, semua biasa memanggilnya.
Emih kecil adalah anak yang lahir ketika masa-masa kemerdekaan tahun 1945. Seperti kebanyakan anak jaman dulu, tidak ada yang tahu persis kapan ulang tahun Emih harus dirayakan. Hanya jejak tahun saja yang bisa dikorek tentang kelahiran Emih. Emih kecil hidup di perkebunan teh Pangalengan Bandung. Ia hidup dalam pengasuhan ibu kandung dan ayah tirinya, Aki Epon yang baik dan sakti.
Aki Epon adalah orang sakti jaman dulu. Ia biasa membantu para pejuang kita untuk menghadapi musuh. Ia juga biasa membantu mengobati orang yang sakit dengan ilmunya. Aki melakukannya tanpa pamrih. Aki memang hebat. Sayangnya anak-anak Emih tidak ada yang pernah bertemu dengan kakeknya yang sakti. Hanya cerita dari Emih saja anak-anak Emih mengenal kakeknya.
         Emih kecil hidup dalam tradisi nenek moyang yang kuat. Tradisi itu masih sering dijumpai ketika anak-anak Emih masih kecil. Yang paling disukai waktu itu adalah sesajen. Dan menu favorit anak-anak Emih adalah rujak kelapa dan pisang bakar. Seiring berjalannya waktu, tradisi itu hilang ketika anak-anak Emih menginjak dewasa dan meminta Emih untuk tidak membuat sesajen lagi. Emih tidak pernah marah. Ia turut dengan pendapat anak-anaknya. Hebatnya Emih, ia tidak menolak adanya perubahan.
          Emih remaja adalah gadis yang hanya sekolah sampai sekolah rakyat saja. Ia bekerja dan menikah di usia muda. Pernikahannya di usia muda tidak berlangsung lama dan tidak menghasilkan anak.
         Emih dewasa adalah wanita pekerja. Ia bekerja pada rumah tangga seorang Tionghoa di daerah Sumedang, kota tempat Emih dan suaminya membesarkan anak-anaknya.  Emih bekerja kepada wanita Tionghoa yang baik, Nyonyah, Emih memanggilnya. Emih sering bercerita kepada anak-anaknya bagaimana ia bekerja. Ketika sedang menyetrika baju anak majikannya, Emih sering berbisik. Bisikan itu seperti janji pada anak-anaknya kelak. Anak-anak yang belum dimilikinya ketika itu.   "Suatu hari nanti, aku akan menyetrika baju-baju seragam sekolah anak-anakku."
Janji sederhana yang keluar dari dalam hati yang sederhana, tapi kaya akan makna. Janji itu mengisyaratkan bahwa anak-anak Emih harus sekolah, harus dapat  pekerjaan yang baik. Janji yang kelak di kemudian hari, ia tepati dengan segala kekuatan yang ia punya. Anak-anaknya sekolah dan bekerja di kantoran. Bahkan ketika anak-anaknya dewasa dan sudah bekerja pun, Emih masih menyetrika baju anak-anaknya. Tak ada yang meminta, tak ada yang melarang. Biarlah ia menikmati perannya, menikmati keinginannya yang satu per satu mulai terpenuhi.
Hebatnya Emih, ia telah mengajarkan untuk bermimpi setinggi-tingginya  dan hidup untuk mencapai mimpinya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By