Breaking News

Senin, 01 Oktober 2012

BAJU KORPRI BAPAK

Sore itu, bersama tiga orang kawan, aku berjalan-jalan ke Internasional Plaza. Kami biasa menyebutnya dengan IP. IP adalah pusat perbelanjaan terbesar dan termegah di Kota Palembang. Kami sempatkan ke IP 21 (baca IP twenty one) untuk menonton film “Water World” yang diperankan oleh aktor senior Kevin Costner. Usai nonton film, kami berempat melihat-lihat barang-barang yang dijual di IP.
            Selepas dari IP, aku mengunjungi lapak penjual koran yang berada di seberang IP. Uki, Tian dan Irwan, ketiga kawanku yang tadi bersamaku punya tujuan masing-masing. Uki dan Tian pergi ke studio foto untuk mencuci cetak foto-foto hasil jepretannya. Irwan menuju warung telkom (wartel) yang letaknya tak jauh dari lapak penjual koran.
            “Permisi ya pak, boleh saya lihat-lihat korannya pak?” kataku kepada pedagang koran. “Iyo boleh, ndak apo-apo,” jawab penjual koran singkat. Beberapa koran kubuka-buka dan kubaca-baca sebentar saja. Ku ambil koran yang lain, lalu kubuka dan kubaca sebentar setelah itu kukembalikan lagi. Penjual koran juga tak merasa keberatan. Aku hanya membaca secara singkat saja.  
            Mataku tertuju pada sebuah halaman salah satu koran nasional. “Pengumuman Hasil Penerimaan Pegawai Negeri Sipil Departeman Keuangan Republik Indonesia.” Aku dengan khusyuk membaca satu persatu nama-nama yang tertera di pengumuman itu. “Alhamdulillaah,” ucapku seketika. Aku mendapati  namaku tertulis jelas berikut nomor peserta ujian. Aku takut kalau salah, lalu aku periksa lagi nomor peserta ujianku. Ternyata cocok. Itu artinya aku lulus dan  diterima di Departemen Keuangan. Aku ditempatkan di Kantor BUPLN. Aku belum pernah mendengar tentang BUPLN. Aku tahunya, Departemen Keuangan hanya Kantor Anggaran, Kantor Pajak dan Kantor Bea dan Cukai.
            Alhamdulillaah, ya Allah aku bersyukur pada Mu atas anugerah yang Kau berikan untukku. Aku melakukan sujud syukur di depan lapak penjual koran. Si penjual koran heran melihat tingkah anehku. “Berapa harga korannya pak?” tanyaku kepada si penjual koran. “Seribu lima ratus,” jawabnya singkat. Aku  berikan selembar uang seribu rupiah dan selembar lagi uang lima ratus rupiah. “Makasih ya, pak” ucapku sambil menyerahkan uang kepada penjual koran.
            Aku langsung menyusul Irwan ke wartel. Dia sedang asyik menelpon keluarganya di Jakarta. Dia berada di dalam bilik kaca nomor lima. Tangan kanannya memegang gagang telpon. Senyumnya lebar sehingga gigi-giginya nampak dengan jelas seperti iklan pasta gigi. Aku masuk ke bilik kaca nomor empat  di sebelah Irwan.
“Assalam mualaikum” ucapku ketika terdengar ucapan halo di ujung gagang telpon. “Waalaikum salam, warohmatullaahi wabarokaatuh” suara ibuku di Jakarta terdengar di telpon. “Alhamdulillah bu, aku lulus”, lanjutku. “Alhamdulillaah, syukurlah nak, lulus apa?” jawab ibuku. “Aku diterima di Departemen Keuangan, bu”   Betapa senangnya aku menyampaikan berita gembira ini kepada orangtuaku. “Pengumumannya di Harian Media Indonesia edisi hari ini bu”, ucapku pada ibu.
            Di Jakarta, ibu sedang bersama bapak di rumah. Sejak tanggal 1 Januari 1996, bapak memasuki masa pensiun. Sebelum pensiun, bapak bekerja di Departemen P dan K. Kakakku sedang bekerja di Blok M Plaza, yang terletak di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Adikku masih mengikuti perkuliahan di kampusnya. Bapak menelpon kakakku untuk dibelikan koran. “Mung, tolong beli koran Media Indonesia ya. Adikmu di terima di Departemen Keuangan.” ucap  bapak lewat telpon. “Iya pak, nanti aku belikan korannya.” Bapak sudah tak sabar ingin segera melihat pengumuman di koran itu. Bapak gelisah menunggu kakakku pulang. Bapak berdiri di depan pintu menyambut kakakku. “Ini pak, korannya. Pengumumannya di halaman ini. Tadi aku sudah lihat kok pak. Ini dia namanya di barisan terakhir.” kata kakakku menjelaskan. “Alhamdulillaah, anakku jadi pegawai negeri.” kata bapak sambil memeluk koran. Ibu dan kakakku juga ikut mengucapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillaah, anakku akhirnya kembali ke Jakarta”, seru ibuku.
***
Setelah libur lebaran, aku melakukan registrasi di Kantor Departemen Keuangan di Jalan Lapangan Banteng. Aku membawa kartu peserta ujian dan kartu identitas diri sebagai persyaratan. Setelah itu, aku diminta petugas di Departemen Keuangan untuk melapor di bagian kepegawaian di BUPLN yang terletak di Jalan Prapatan.
      “Kakaknya Iyan ya mas?.” Seseorang menyapaku ketika aku tiba di pintu gerbang kantor BUPLN. “Iya, kamu siapa?” tanyaku pada orang itu. “Aku Pendi, teman sekolahnya Iyan.”. Setelah lulus SMA, pendi melanjutkan pendidikan ke STAN. Setelah lulus dari STAN, dia ditempatkan di BUPLN. “Oh, iya. Pendi yang suka berangkat sekolah bareng Iyan ya?” Aku  menyalami Pendi dan memperkenalkan namaku. Aku dan Pendi terlibat dalam obrolan singkat. Pendi menjelaskan bahwa ia sekarang bekerja di sini. Aku juga menjelaskan bahwa aku diterima bekerja di sini. “Wah, kalo gitu kita satu kantor ya mas. Iyan, bagaimana kabarnya mas?” tanya Pendi. “Iyan, sekarang masih kuliah di UI.” Jawabku. Aku pamit mau ke bagian kepegawaian. Pendi memberi petunjuk dan mohon pamit padaku. “Maaf ya mas aku gak bisa nemani. Salam ya buat Iyan.” “Oke, nanti aku sampaikan salamnya, makasih ya pen. BUPLN adalah Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara. Tadinya aku kira ada hubungannya dengan listrik, ternyata aku salah.
***
Aku mengikuti orientasi selama satu minggu. Orientasi diselenggarakan di Gedung Pusdiklat Keuangan di Jalan Purnawarman, di kawasan Blok M Jakarta Selatan dan diikuti oleh semua calon pegawai negeri sipil yang diterima. Selanjutnya aku dan teman-temanku yang diterima di BUPLN, mengikuti masa orientasi di Kantor Pusat BUPLN di Jalan Prapatan No. 10 Jakarta. Masa orientasi BUPLN berlangsung selama dua minggu. Setelah masa orientasi, kami dibagi dan disebar ke unit-unit untuk ditempatkan sementara. Aku dan dua temanku -Indah dan Bakti- ditempatkan pada Biro Piutang Negara Non Perbankan. Teman-teman yang lain ditempatkan pada unit-unit yang berbeda.
            Ada pemberitahuan dari bagian kepegawaian bahwa setiap tanggal tujuh belas kami diwajibkan untuk memakai baju korpri. Aku berpikir untuk memakai baju korpri milik bapak. “Bapak kan sudah pensiun, pasti baju korprinya juga ikut pensiun,” gumamku dalam hati. Sesampainya di rumah, aku bertanya kepada ibuku tentang baju korpri milik bapak. “Bu, besok aku diwajibkan untuk pakai Baju Korpri.  Baju korpri bapak disimpan di mana, bu?” tanyaku. “Oh, iya. Baju korpri bapak masih ibu simpan kok. Sebentar, ibu ambilkan.” jawab ibuku. Ibuku masuk ke kamar dan mencari di dalam lemari pakaian. Setelah itu, ibu memberikan baju korpri milik bapak. Ibu menyuruhku untuk mencobanya. “Pas kok bu, coba lihat deh” kataku sambil menunjukkan baju bapak yang kucoba. “Oh iya, badannya sih pas. Tapi lengannya masih kepanjangan,” kata ibu sambil memperhatikan baju yang kukenakan. “Kalau gitu, ibu akan pendekkan ukuran lengannya supaya pas,” ibuku nampak bersemangat. Malam itu juga dengan senang hati ibuku merombak lengan baju korpri milik bapak, agar bisa aku pakai besok.
            Hari ini, seperti biasa aku bersiap-siap berangkat ke kantor. Aku bernyanyi-nyanyi di kamar mandi. “Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi,  habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku.” Lagu anak-anak yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Tetapi syair lagu itu aku ganti sesuka hatiku. “Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi pakai baju korpri, karena aku pegawai negeri.” Setelah selesai mandi, aku mengenakan baju korpri milik bapak. Aku berdiri di depan cermin, melihat diriku memakai baju korpri. Ukuran lengannya sudah pas, nyaman dipakai.
Sepiring nasi goreng sudah menungguku di meja makan. Ibuku yang membuatkannya untukku ditambah dengan segelas teh manis hangat. Selesai sarapan, aku berpamitan kepada bapak dan ibu untuk berangkat ke kantor. Aku cium tangan bapak. Lalu kucium tangan ibu. Ketika aku sarapan, bapak selalu mengamatiku. Bapak memperhatikan aku memakai baju korpri miliknya. Sejak bapak pensiun, baju korprinya sudah tak pernah lagi dipakainya. Ada rasa bangga dalam diri bapak. Bahkan ketika aku keluar rumah pun, bapak terus melihatku, sampai aku hilang dari pandangannya.
Setiap tanggal tujuh belas, bapak selalu melihatku memakai baju korpri. Hanya beberapa bulan saja bapak bisa selalu menyaksikan aku memakai baju korprinya. Setelah itu bapak tak bisa melihat aku lagi. Aku pun tak lagi bisa berjumpa dengan bapak. Bapak telah menutup mata. Bapak telah pergi meninggalkan aku, ibu, kakak-kakak dan adikku untuk selama-lamanya. Kini, Baju Korpri Bapak sudah menjadi milikku. 
Bapak wafat pada tanggal 1 Oktober 1996. Saat itu aku masih berstatus sebagai CPNS. Aku belum diangkat secara resmi menjadi PNS. Mengapa begitu cepat bapak pergi meninggalkan aku. Aku belum bisa berbakti kepada bapak. Aku belum bisa membahagiakan bapak. Aku ingin membelikan bapak baju batik dengan uang gajiku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa bapakku. Sayangilah bapakku, sebagaimana dia menyayangi aku semenjak aku masih kecil. Amin.

ditulis oleh : Guntur Sumitro

Kupersembahkan untuk Bapakku tercinta :
SUMITRO BIN NOTOSUWARNO
1942 - 1996




"... namun bagiku, melupakanmu butuh waktuku seumur hidup"
(Saat Terakhir - ST 12)

Saat Terakhir (ST 12)
https://www.youtube.com/watch?v=s45w3pIqmn8

9 komentar:

  1. Membacanya, menghadirkan rasa sesak di dada. Ikut merasakan bangga, senang, haru dan entahlah. Tentu jadi moment yang selalu segar dalam ingatan ya, mas Goen.

    BalasHapus
  2. jadi ingat bapak mas.......pengen nangis

    BalasHapus
  3. Kita semua pasti bangga kepada sosok ayah/bapak. Bagaimana perjuangannya hingga kita bisa seperti skrg ini

    BalasHapus
  4. Teringat aku akan Bapakku yang selalu memberikan aku semangat untuk terus melangkah menyambut keras dan ketatnya persaingan.

    BalasHapus
  5. Pak gun,, luar biasa cerpennya,, nyesel rasanya baru sempat baca,, knp g dr kemarin2,, makasih pak,, mdh2an dengan cerpen ini,, kami semua masih sempat membahagiakan orang tua kami,yg masih hidup,, aminn ya Allah..

    BalasHapus
  6. Terimakasih pak goen,, dengan novel ini mdh2an kami masih bisa membahagiakan ayah\orangtua kami,, nyesel telat bacanyaaa,, #cry..
    Bravo pak goen,, semangat teruss bikin cerpennya,,

    BalasHapus
  7. Semoga kita masih diberi waktu yang cukup untuk bisa membahagiakan orangtua kita, jadilah kebanggaan mereka.

    BalasHapus
  8. Info : Makam bapak saya rencana akan dipindahkan dari TPU Pondok Kelapa ke Pemakaman di Sukmajaya Depok, semoga semuanya berjalan dengan lancar, aamiiin ya Allah

    BalasHapus
  9. Rencana pemindahan makam pada tanggal 14 Oktober 2012

    BalasHapus

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By