Breaking News

Sabtu, 04 Agustus 2012

PERMEN MELETUS


Oleh : Om Okong (goen mitoro)

“Om Okong ...! om Okong ...! mbak Ati, dek Eka, om Okong datang”, teriak Dwi memanggil kakak dan adiknya. Wajahnya yang lucu terlihat begitu senang menyambut kedatanganku. Pipinya gembil, dahinya nongnong, rambutnya yang  keriting diikat dua. Mulutnya mungil dengan gigi-gigi kecil yang rapi, putih dan bersih. Sepertinya Dwi rajin menggosok gigi, karena gigi-giginya terlihat bagus.

Dwi mengambil tanganku, bersalaman dan mencium tangan kananku. Eka dan Tri kemudian keluar dari ruang tengah. Mereka berebut ingin segera mencium tanganku. Ternyata Tri yang lebih dulu, disusul Eka yang nampak kecewa. Mereka begitu senang dengan kedatanganku. “Om Okongku”, kata Tri. “Idak, ini om Okongku”, sahut Eka. “Om aku oi! ”, kata Dwi tak mau kalah.

Ayukku keluar dari ruang tengah. Dia tersenyum lebar sehingga matanya yang kecil terlihat sipit. “Jangan ma’ itu. Dak boleh rebutan, om samo-samo”, kata ayukku. Aku menyalami ayukku. Ayukku pergi ke dapur. Tinggallah aku dan tiga keponakanku yang lucu-lucu.

Aku tanya mereka satu per satu. “Ini siapa?”, tanyaku. “Aku Dwi om”, jawab Dwi. Aku perhatikan wajahnya dan kuhapalkan ciri-cirinya. “Kalau yang ini, siapa?”, tanyaku lagi. “Aku dek Eka om”, jawabnya pelan. Eka terlihat lebih kurus, wajahnya juga mungil. Aku simpan ciri-ciri Eka di dalam ingatanku. “Nah, ini pasti Tri” kataku. “Iya om”, ucap Tri sambil tersenyum. Wajah Dwi dan Tri terlihat begitu mirip, aku masih bingung membedakannya.

“Ini om bawain oleh-oleh buat kalian”, kataku sambil membagikan oleh-oleh kepada mereka. Mereka menerima bagiannya masing-masing. “Makasih om Okong” kata Eka. “Makasih ya om”, ucap Dwi dan Tri bersamaan.

Ayukku kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas teh manis. “Mamak, kami dapat oleh-oleh dari om Okong”, kata salah satu dari mereka. “Bilang apo samo Om?”, kata ayukku. “Sudah bilang terimakasih kok mak”, kata Dwi.

“Sreek ... Sreeek... ! Kesrek kessreek ...!”
 “Apo dio ni om?”, tanya Dwi sambil mengguncang-guncang bungkusan yang tadi kuberikan. “Itu permen. Buka aja”, jawabku. “Bonbon ya om”, kata Eka. Tri membuka bungkusan permen itu, lalu melihat isinya. “Bonbon kok ca’ ini?” tanyanya keheranan. “Iya, itu permen. Ayo dimakan”, jawabku singkat. Permen itu memang tidak bulat dan juga tidak utuh, tapi berupa serpihan-serpihan seperti pecahan kue semprong. Tri mengambilnya sedikit, lalu memasukkan ke dalam mulut mungilnya.

“Pletak ...  pletok ...! Dor ... Der ... Dar ... ! Betapa terkejutnya Tri, ternyata ada ledakan di dalam mulutnya. “Bon-bon nyo meletus dek”, katanya dengan wajah yang tegang. Dwi dan Eka, lalu ikut memasukkan serpihan permen ke dalam mulutnya. Mereka masih ragu-ragu dan kelihatan takut. Pelan-pelan, mereka mengambil sedikit sambil menutup matanya. “Iyo mbak, ado petasan oi ...” kata Dwi. “Iyo nian oi, permen meletus, bonbon meletus”, kata si Eka. Mereka bertiga begitu gembira dan asyik dengan permen meletusnya. Wajah mereka tampak begitu bahagia. Aku dan ayukku pun ikut tertawa.

Itulah kisah keponakanku yang kembar tiga ketika mereka berusia 5 tahun. Saat ini mereka sudah dewasa. Eka kuliah di Politeknik Telkom Bandung. Dwi kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Tri kuliah di Politeknik Universitas Sriwijaya, Jurusan Teknik Komputer, Palembang.  
 
Aku bertemu mereka terakhir tahun 1996. Ketika aku menikah tahun 2003, mereka tidak bisa hadir. Pada tanggal 7 Agustus ini, mereka berulang tahun. Selamat Ulang Tahun, Semoga kalian bisa menjadi kebanggaan orang tua dan keluarga, amin ya robbal alamin.




1 komentar:

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By