Breaking News

Senin, 06 Agustus 2012

NYAMAN TIADA TARA (episode 1)




Oleh : Heri Supriyadi


Nusa Tenggara Timur gersang… (Siapa bilang?) Nusa Tenggara Timur subur… (Siapa bilang?) Kawan-kawanku tidak perlu bingung dengan kalimatku ini. Apalagi kalau kawan-kawan belum pernah menginjakkan kaki di propinsi yang pada masa Republik Indonesia Serikat merupakan bagian Negara Sunda Kecil. Dan kawan-kawan tidak akan bingung, apabila kawan pernah menetap di NTT, setidaknya setelah melewati beberapa pergantian musim, seperti diriku…

Nusa Tenggara Timur gersang, inilah yang diucapkan kawan-kawanku (…yang belum pernah mendarat di Bandara El Tari). Dan ini pula kesan pertama yang aku rasakan, sesaat setelah mendengar suara merdu pramugari  “dalam beberapa saat, anda akan mendarat di Bandara El Tari di Kupang…Suhu di darat dilaporkan 31 derajat Celsius…”. Spontan, aku menerawang melalui jendela sisi kanan pesawat, mataku tertuju ke bawah, rumput tak lagi hijau, yang nampak hanya pohon-pohon kering di atas tanah atau lebih tepat di atas batu karang berwarna hitam. Pohon-pohon dengan dahan dan rantingnya yang kecoklatan, nyaris tanpa daun. Tujuh belas Januari tahun dua ribu sebelas, tanggal inilah pertama kali aku menginjakkan kaki di belahan lain bumi Nusantara. Daerah paling timur dari wilayah Indonesia Tengah, Nusa Tenggara Timur.

Nusa Tenggara Timur, begitu indah dan subur… Inilah yang aku lihat sebulan kemudian sepulangku dari kota asalku, ketika musim mulai berganti dan hujan mulai membasahi bumi cendana. Tepatnya ketika aku melihat dari sisi yang sama dari jendela pesawat, sesaat sebelum mendarat. Rumput segar menghijau, pohon-pohon tampak berseri menyambut hujan dengan menampakkan daun pada tiap dahan dan rantingnya. Dan aku semakin takjub beberapa menit setelah keluar terminal Bandara El Tari. Di sisi kanan kiri jalan yang aku lalui menuju arah kota, sepanjang jalan aku melihat indahnya pepohonan dengan bunga warna merah… bunga  Flamboyan.

Tuhan memang Maha Agung. Dengan segala Kuasa-Nya diciptakan-Nya segala sesuatu berpasang-pasangan. Saling melengkapi dan menyempurnakan. Batu-batu karang di bumi Nusa Tenggara Timur, ditumbuhkan-Nya tanaman. Kalau kawan lahir di era 70-an mungkin pernah mendengar syair lagu ‘Kolam Susu’, itulah bumi Nusa Tenggara Timur. Lagu yang dipopulerkan oleh Koes Plus ini konon memang terinspirasi kala Koes Plus sedang tour ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya di daerah Kabupaten Atambua yang berbatasan dengan Timor Leste (dahulu Timor Timur). Di sana ada sebuah telaga indah dengan air berwarna putih. Kolam susu, warga sekitar menyebutnya…

Masih di daratan Timor, tepatnya Timor Tengah Selatan, kira-kira 4 jam perjalanan dari Kota Kupang, terdapat pantai tak berpasir. Pantai Kolbano, pantai yang diselimuti dengan bebatuan warna-warni.

Menyeberang sedikit ke arah utara, Pulau Flores, di ujung barat terdapat salah satu dari The Seven Wonder of Nature, yang untuk menuju ke sana, kita “terpaksa” disuguhi gugusan pulau-pulau kecil nan indah. Selanjutnya kalau kita ke daratan tengah Pulau Flores, di Kabupaten Ende, terdapat Danau Tiga Warna, di puncak Gunung Kelimutu. 

Oke teman-teman, sampai ketemu lagi denganku, di Pantai Kolbano, Pulau Komodo, Danau Kelimutu...di Nyaman Tiada Tara episode selanjutnya. Salam sukses dari Si Balang (Bapak Petualang). 


Batu-batuan di Pantai Kolbano


Kolbano Beach, The beach without sands

Pantai di Pulau Komodo

 Termenung di Puncak Gunung Kelimutu

 Begitu dekat begitu nyata

 Komodo National Park

 Taman Nasional Danau Kelimutu

 Komodo

Catatan : 
Buat teman-teman yang ingin berbagi kisah,
silakan kirim e-mail ke : daddy.goen@gmail.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By