Breaking News

Senin, 13 Agustus 2012

AYAHKU GAK PERNAH MUDIK

Lebaran sebentar lagi. Tahun ini Lebaran jatuh pada hari Minggu tanggal 19  Agustus 2012. Hari ini adalah H min enam, atau enam hari sebelum lebaran. Persiapan menjelang lebaran sudah terasa di mana-mana. Di jalur pantura,  khususnya di daerah Cirebon, rombongan pemudik sepeda motor sudah terlihat memenuhi jalur mudik. Aku teringat masa-masa ketika aku masih kecil.

Meskipun orangtua kami adalah perantau, namun kami sekeluarga tidak pernah mudik lebaran. Kami tidak pernah pulang ke kampung halaman dimana kedua orangtua kami dilahirkan. Ayahku lahir di Desa Rowosari, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Desa ayahku terletak di selatan Kota Prembun. Letak kota Prembun sendiri lebih dekat dengan Kota Purworejo. Ibuku lahir di Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Jogjakarta.

Ayahku masih mempunyai seorang ibu. Kami memanggilnya dengan sebutan ‘mbah putri’. Ayahku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adik ayahku laki-laki, kami memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Om kami tinggal bersama keluarganya di Karawang.

Ibuku sejak lahir sudah tidak memiliki orangtua. Ayahnya sudah meninggal ketika ibu belum lahir. Ibunya meninggal ketika ibuku masih berumur beberapa bulan. Sejak kecil ibuku diasuh oleh kakak-kakaknya. Ibuku adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Ketika ibu merantau di Jakarta, sebagian besar kakak-kakaknya juga merantau ke Sumatera Selatan.

Meskipun ayahku masih memiliki orangtua, namun setiap lebaran ayahku tidak pernah pulang ke tempat kelahirannya. Ya, ayahku tidak pernah mudik lebaran. Sehingga aku, kakak-kakak dan adikku tidak pernah berlebaran di kampung kelahiran ayahku.

Seminggu sebelum awal puasa, ayahku pulang menjenguk mbah putri. Ayahku juga berziarah ke makam  mbah kakung. Setelah itu, ayah kembali ke Jakarta bersama mbah putri. Sehingga kami sekeluarga berpuasa bersama dengan mbah putri di Jakarta. Dengan begitu, kami sekeluarga tidak perlu berdesak-desakan naik  kereta untuk mudik lebaran. Lagipula lebih praktis dan hemat. Uangnya dapat digunakan untuk keperluan yang lain, misalnya untuk membeli baju lebaran dan membeli kebutuhan lainnya.

Ibuku juga tidak pernah pulang ke tempat kelahirannya ketika lebaran. Ibuku hanya mengirim surat kepada saudara-saudaranya di desa. Memberi kabar, mengucapkan selamat lebaran dan juga menyampaikan permohonan maaf untuk keluarga besarnya. Bila ibuku ingin pulang, tidak harus pada saat lebaran. Biasanya ibu meminta aku yang  menuliskan surat untuk dikirim kepada keluarganya di desa. Lalu, aku menuliskan alamat yang dituju pada amplop kilat khusus berwarna biru. Ayahku yang mengantarnya ke kantor pos ketika berangkat ke kantor.

Pada hari lebaran, kami sekeluarga saling bermaaf-maafan. Setelah pulang sholat Ied, kami antri untuk melakukan acara sungkeman. Mbah putri duduk di sebuah kursi. Ayahku bersimpuh di depan mbah putri. Ayah mencium tangan mbah putri sambil menangis. Ayahku meminta maaf sama mbah dalam bahasa Jawa. Aku tidak mengerti apa yang diucapkan ayah. Dalam pikiranku, pasti ayahku banyak berbuat salah sama mbah.

Setelah itu, ibu juga melakukan sungkem sama mbah. Ibu menangis, mencium tangan mbah lalu mencium pipi kanan dan pipi kiri mbah. Mbah menangis dan memeluk ibuku. Ibuku sudah menganggap mbah sebagai ibunya sendiri, karena sejak kecil ibuku sudah tidak memiliki orangtua. Ibuku lalu meminta maaf pada ayahku, ibuku menangis begitu juga ayahku.

Kakak sulungku melakukan sungkeman kepada mbah, ayah dan ibu. Dia mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jawa yang halus. Meskipun halus, tetap saja kakakku tak dapat menahan tangisnya.

Kedua kakak perempuanku sudah terlanjur menangis sebelum melakukan sungkem. Sehingga permohonan maafnya menjadi tidak jelas karena tersamar dengan isak tangisnya. Aku tidak tahu apa yang mereka ucapkan. Aku hanya tahu mereka meminta maaf sambil menangis.  

Sebagai anak keempat, aku mendapat giliran setelah tiga orang kakakku. Aku sungkem sama mbah, sama ayah dan sama ibu. Aku juga bersalaman dan meminta maaf kepada kakak-kakakku.

Adikku mendapat giliran terakhir. “Bu, maapin Iyang ya”, ucapnya ketika sungkem kepada ibu. Dengan matanya yang kecil, adikku juga turut menangis. “Iya, sama-sama. Ibu juga minta maaf ya, nak”, jawab ibuku sambil menciumi pipi dan kening adikku.

Esok harinya, keluarga om kami dari Karawang datang berkunjung ke rumah kami. Om dan keluarganya juga melakukan sungkeman kepada mbah. 

Itulah kenangan saat-saat lebaran ketika aku masih duduk di sekolah dasar.


Selamat Idul Fitri
1 Syawal 1433 Hijriyah
Minal aidin wal faidzin
mohon maaf lahir dan bathin

Cirebon, 13 Agustus 2012
ditulis oleh : Guntur Sumitro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By