Breaking News

Selasa, 31 Juli 2012

TRIO MENTHOK



Oleh : Ahmad Zainur Ashofa

Nama saya Shofa.  Saya duduk di kelas 4 Madrasah Ibtida'iyah Semowo 1. Saya  dipercaya untuk mengikuti seleksi murid teladan tingkat sekolah dasar se  Kecamatan Pabelan. Masing-masing  sekolah diwakili oleh 3 orang siswa. Pak Kusnin, kepala sekolah kami, memanggil saya, Syafik dan Khasanah. Hanya saya sendiri siswa laki-laki  diantara kami bertiga.   

Pak Kusnin meminta kami untuk belajar mandiri. Aku, Syafik dan Khasanah belajar sendiri di rumah kami masing-masing tanpa dibimbing pak guru atau bu guru.

Hari perlombaan pun tiba. Pak Kusnin dan Bu Rubaiah mengantar kami menuju tempat pelaksanaan lomba, yaitu di Madrasah Ibtidai'yah Semare. Di sekolah kami, Bu Rubaiah mengajar mata pelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Ibadah Syari'ah.  

Aku dan kedua temanku merasa  minder dan juga grogi. Kami melihat peserta lain begitu percaya diri.  Selain itu, kami juga merasa heran dan bertanya-tanya mengapa ada yang membawa alat musik, ada yang membawa baju tari. Sedangkan kami hanya memakai seragam merah putih saja.

Waktu terus berjalan. Tahap demi tahap seleksi kami lalui. Mulai test Matematika, test Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Sosial.  Sampai semua rangkaian test selesai dilaksanakan pada pukul 12 siang.

Ketika jam istirahat kami menemui Bu Rubaiah, guru pembimbing kami. Saya  bertanya kepada beliau, “Setelah ini  ada test apa lagi bu?” Bu guru menjawab, “ada test kesenian”. “Terus nanti kami mau menampilkan apa bu?” tanya Khasanah. Tapi kita tidak membawa apa-apa bu” tambah si Syafik. Tenang anak-anak, nanti ibu pikirkan ya” jawab bu guru dengan sabar. Beliau berusaha menenangkan kami yang terlihat kebingungan.

Sembari menunggu ide dari Bu Rubaiah dan Pak Kusnin, kami bertiga makan arem-arem dan gorengan dengan lahapnya. Beberapa menit kemudian Pak Kusnin memanggil kami. Beliau meminta kami untuk menampilkan tarian tradisional, dolanan jowo dengan judul Menthok-menthok. Tanpa berpikir  panjang lagi, Bu Rubaiah langsung meminta kami untuk melakukan latihan di ruang kelas yang tidak terpakai. Setelah beberapa kali latihan, kami langsung menguasai tarian dolanan tersebut. Gerakannya sangat sederhana. Tangan kanan diletakkan di kening seperti mulut menthok. Sementara tangan kiri diletakkan di pinggul seperti layaknya ekor menthok. Kami pun berbaris seperti menthok yang sedang berjalan beriringan sambil menyanyikan lagu ‘Menthok-menthok. Kami sudah mahir dalam mempraktekkan kesenian tersebut.

Tibalah saatnya Madrasah Ibtidaiyah Semowo 1 dipanggil oleh panitia. Kami masuk ke dalam ruangan tim penilai. Beberapa saat kemudian kami dipersilakan untuk menampilkan kesenian. Akhirnya kami menyanyi dan menari dengan rasa percaya diri. Sesekali kami mencuri pandang ke arah Pak Kusnin dan Bu Rubaiah, yang menyaksikan aksi kami dari luar ruangan. Dengan perasaan senang kami meninggalkan tempat lomba dan pulang menuju rumah masing-masing.

Seminggu telah berlalu. Tibalah hari pengumuman hasil perlombaan. Pak Kusnin masuk ke kelas kami. Dengan tenang beliau menyampaikan bahwa Madrasah kami belum berhasil keluar sebagai juara. Namun kami tetap merasa bangga telah diberikan kesempatan untuk mewakili sekolah kami.

Itulah cerita saya ketika masih duduk di sekolah dasar. Saya dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut, yaitu kemenangan atau kesuksesan memerlukan persiapan yang matang. Kegagalan bukan untuk ditangisi dan diratapi. Bagaimana kita mengambil pelajaran dari kegagalan itulah yang lebih penting. Pelajaran berharga ini selalu saya ingat sampai saya dewasa.

Sekarang saya bekerja sebagai karyawan tidak tetap pada Perusahan Telekomunikasi Nasional sambil kuliah. Saya berhasil menjadi juara tiga karyawan teladan tingkat nasional tahun 2010 dalam ajang Customer Service Award yang diselenggarakan di  perusahaan tempat saya bekerja. Tahun berikutnya saya berhasil menyabet gelar juara dua karyawan teladan tingkat nasional dalam ajang yang sama. Dari prestasi tersebut, saya mendapat hadiah uang tunai yang saya gunakan untuk biaya kuliah. Selain itu saya mendapat kesempatan untuk berwisata ke China, Hongkong dan Philipina. Semoga tulisan saya ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi.



"Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan adalah anak tangga menuju kesuksesan" (Sandiaga Uno)



Buat teman-teman yang ingin mengirimkan ceritanya 
silakan kirim e-mail ke : daddy.goen@gmail.com
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By