Breaking News

Minggu, 15 Juli 2012

TIMUN MAS


 Oleh : Goen Mitoro

Halo teman-teman, namaku Anggie. Aku akan bercerita tentang cerita rakyat yang berjudul Timun Mas. Sebelumnya aku ingin menyebutkan para pemeran dalam cerita ini. Mereka adalah Bella, adikku sebagai Timun Mas. Mbah berperan sebagai mbok Iyem. Bapak berperan sebagai raksasa, dan om Goen sebagai seorang petapa di gunung. Baiklah teman-teman, akan segera aku ceritakan kisahnya. 

Pada sebuah desa yang sangat terpencil, hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Iyem. Mbok Iyem tinggal sendiri, suaminya telah lama meninggal dan mbok Iyem juga tidak memiliki anak. Mbok Iyem ingin sekali memiliki anak, supaya dapat  menemani dan membantunya bekerja.

Pada suatu sore, mbok Iyem pergi ke hutan untuk mencari kayu. Di tengah perjalanan, mbok Iyem bertemu dengan raksasa. Tubuh raksasa ini tinggi dan gede sekali seperti bis malam. Nah, tokoh si raksasa ini diperankan oleh ayahku. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku cuma ingin mencari kayu bakar untuk memasak di rumah, tolong ijinkan aku lewat”, jawab mbok Iyem. “O ... tidak bisa ! berikan aku seorang anak manusia untuk aku makan, baru kamu boleh lewat”, kata si Raksasa. Mbok Iyem pun menjawab, “Aku tidak punya anak !!”.

Setelah mbok Iyem mengatakan bahwa dia tidak mempunyai anak dan ingin sekali memiliki anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya lima tahun”.

Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Iyem kemudian mengambilnya. Setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama Timun Mas. Nah, yang memainkan tokoh Timun Mas ini adalah Bella, adikku.

Semakin hari Timun Mas semakin tumbuh besar. Mbok Iyem sangat gembira  karena dia tidak merasa kesepian lagi. Timun Mas selalu ada bersamanya, menemani dan membantu pekerjaan mbok Iyem.  

Pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Iyem sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan Timun Mas. Kemudian mbok Iyem berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Iyem.

Ternyata dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu setiap hari mbok Iyem  mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Iyem pun sangat cemas. Akhirnya pada suatu malam mbok Iyem bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar Timun Mas menemui seorang Petapa di Gunung.

Pagi harinya mbok Iyem menyuruh Timun Mas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, Timun Mas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang Petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Eit tunggu dulu, yang terakhir ini adalah terasi Cirebon cap Dua Monyet,” kata om Goen, eh maaf, maksudnya kata Sang Petapa itu. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah Sang Petapa. Kemudian Timun Mas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari Sang Petapa.

Keesokan paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya,” teriak si Raksasa. Kemudian mbok Iyem menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Iyem itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana Timun Mas?” teriak si Raksasa.

Karena tidak tega melihat mbok Iyem menangis terus, maka Timun Mas keluar dari bawah tempat tidur, tempat dia bersembunyi. “Hey, aku di sini, tangkaplah aku,  ayo cepat tangkap aku !!!” teriak Timun Mas.

Raksasa pun mengejarnya, dan Timun Mas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasa pun menjadi terhambat, karena batang pohon mentimun tersebut terus melilit kakinya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mengejar Timun Mas lagi. Lalu Timun Mas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum. Dalam sekejap tumbuh lah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.

Kemudian Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutan pun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui oleh si raksasa. Yang terakhir Timun Mas segera menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur panas. Si raksasa pun tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasa pun mati.

Timun Mas mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena sudah selamat  dari kejaran si raksasa. Akhirnya Timun Mas dan Mbok Iyem hidup bahagia dan damai.


Ini dia si Timun Mas
Selamat Ulang Tahun 
Bella Ayu Fajarini
15 Juli 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By