Breaking News

Sabtu, 12 Mei 2012

CERITA BUAT ANGGIE


Semoga Ibu Cepat Sembuh


Liburan catur wulan pertama telai usai, murid-murid kelas lima SD Guntur 07 Petang kembali masuk  sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar pada catur wulan kedua. Aku merasa sangat senang karena bisa bertemu kembali dengan teman-teman sekelas. Ketua kelas memberikan aba-aba kepada kami untuk memberi salam kepada ibu guru. Setelah itu, ibu Rahayu memanggil nama kami satu persatu. Setelah itu beliau mengatur ulang tempat duduk kami. Dini yang semula duduk sebangku dengan Menu, sekarang duduk sebangku dengan Eva. Sedangkan Menu sekarang menjadi teman sebangku Erna. Indra dan Suryadi diganti posisinya sehingga Indra duduk sebangku dengan Sugeng, sedangkan Suryadi dengan Imam. Demikian pula dengan teman-teman yang lain.

Pelajaran pertama pada hari itu adalah Bahasa Indonesia, Ibu guru meminta kami untuk membuat karangan mengenai liburan. “Anak-anak, tolong kalian ceritakan pengalaman kalian selama liburan ya” begitu kata bu Rahayu kepada murid-murid kelas lima. Kemudian bu Rahayu melanjutkan, “Ceritakan kemana kalian pergi berlibur, bersama siapa dan kegiatan yang kalian lakukan.” Kemudian murid-murid menjawab dengan serentak, “Baiiik bu guruuuuu.....”.  

Setelah murid-murid selesai mengerjakan tugas membuat karangan, Ibu guru meminta Sugeng untuk mengumpulkan tugas dari setiap murid untuk diserahkan kepada bu guru. Lalu Ibu guru menunjuk  beberapa murid tampil ke depan kelas untuk membaca hasil tulisannya masing-masing.

Ibu guru menunjuk Menu untuk tampil pertama kali membacakan karangannya. Dalam karangannya, Menu bercerita tentang kegiatan liburannya bersama orangtua, kakak dan adiknya pergi ke Taman Mini Indonesia Indah. Menu sangat gembira, karena selain bertamasya, Menu juga belajar mengenal beraneka macam budaya dan adat istiadat dari tiap-tiap provinsi di seluruh Nusantara.

Selanjutnya, Asih membacakan karangannya yang bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke rumah neneknya di Depok. Asih bercerita bahwa lingkungan tempat tinggal neneknya masih hijau, sejuk dan segar.

Setelah itu Ibu guru, meminta aku membacakan karanganku di depan kelas. Dengan terbata-bata aku menceritakan bahwa ibuku sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ayah mengajak aku dan adikku menjenguk ibu di rumah sakit. Ibu sangat senang dengan kedatangan kami, karena dapat mengobati rasa rindu dan mengurangi rasa sakitnya. Aku dan adikku juga bahagia bisa  bertemu dengan Ibu. Kami berdoa semoga Ibu cepat sembuh agar bisa pulang ke rumah sehingga dapat  berkumpul kembali dengan kami. Tibalah waktunya kami harus pulang. Sambil mencium tangan ibuku, aku pun berpamitan kepada ibu. “Jangan nakal ya nak, kamu harus patuh pada Ayah dan kakakmu, Belajar yang rajin ya”, kata ibu sambil mencium kedua pipiku. Setelah itu ibu juga mencium pipi adikku. Kami pun berpisah di teras rumah sakit. Dalam perjalanan pulang, aku  berdoa memohon kepada Allah demi kesembuhan ibuku.

Aku tidak tahu penyakit apa yang diderita oleh ibuku. Badan, tangan dan kaki ibuku menjadi kelihatan gemuk sekali. Wajah ibuku juga tampak berbeda. Pipi kiri dan pipi kanan ibuku terlihat seperti tebal, kalau ibu tertawa wajahnya terlihat sangat lucu dengan matanya yang nampak sipit. Di bagian pergelangan tangan ibuku juga terlihat banyak bekas tusukan jarum untuk memasukkan cairan makanan dan obat-obatan.

Ada hal yang lucu ketika ibu di rawat di rumah sakit. Kakak kami, mbak Puji dan mbak Mung saat itu menjenguk ibu dengan menumpang bajaj. Namun pada waktu jam besuk pasien telah selesai, kedua kakak kami pulang dengan membawa ibu. Ibu meninggalkan rumah sakit dan ikut pulang bersama kedua kakakku. Ibu bosan dirawat di rumah sakit. Dokter dan perawat sangat panik dengan kejadian tersebut. Mereka mencari-cari keberadaan ibu. Setelah kejadian itu, ibu akhirnya kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan perawatan. Ibu hanya ingin merasakan suasana rumah.

Dengan mata berkaca-kaca aku membaca baris demi baris isi karanganku di depan kelas. Teman-teman sekelas terdiam, mereka menyimak ceritaku. Ibu guru turut larut dalam cerita yang aku bacakan. Beliau mengambil sapu tangan lalu mengusap air matanya. Setelah aku selesai membacakan ceritaku, bu guru bertanya tentang ibuku. Aku hanya bisa menjawab “iya” dan “tidak” untuk setiap pertanyaan yang beliau ajukan kepadaku. Setelah itu ibu guru mengajak semua murid untuk turut mendoakan agar ibuku diberikan kesembuhan. Aku berterimakasih kepada ibu guru dan juga teman-teman atas do’a yang mereka panjatkan untuk kesembuhan ibuku.

Alhamdulillaah, segala puji syukur kehadirat Allah SWT, ibuku telah sembuh dari sakitnya. Sekarang ibuku tinggal di Depok bersama kakakku, mbak Mung. Ibuku juga ditemani oleh dua orang cucunya yang lucu-lucu, yaitu Anggie dan Bella.



om goen, anggie dan sophie (boneka sapi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By