Breaking News

Senin, 09 Mei 2016

MELANCONG KE MELAKA

Halo teman-teman apa kabar? Kali ini saya mau berbagi cerita tentang pengalaman liburan di Kota Melaka.

Libur awal bulan Mei kemarin, kami jalan-jalan ke Melaka. Mumpung saya lagi bertugas di Kota Dumai. Kata teman-teman kantor, lebih enak jalan-jalan ke Melaka. Melaka adalah sebuah kota tujuan wisata yang sangat terkenal di mancanegara. Melaka juga merupakan kota bersejarah dimana bangunan-bangunan dan gedung-gedung kuno masih tetap dipertahankan serta dipelihara dengan sangat baik.  

Yang harus kita siapkan sebelum pergi ke Melaka : 

Niat 
Persiapan utama dan paling penting yaitu Niat (Nawaitu). Karena percuma saja kalau kita punya kesempatan atau punya uang banyak tapi tidak ada niat, semuanya akan sia-sia. Jangan pikirkan kesempatan dulu. Tak usah memikirkan soal uang. Siapkan niat yang kuat serta tekad yang bulat. Insyaallah semua akan terlaksana.   

Passport
Untuk bepergian ke luar negeri kita harus mempunyai Passport. Passport merupakan identitas atau tanda pengenal diri ketika kita berada di negeri orang. Selain itu Passport adalah sebagai bukti keseriusan bagi orang yang pengen melancong ke luar negeri. Percuma punya niat kuat tapi nggak di 'follow-up' dengan membikin Passport. Tunggu apa lagi. Ayo buruan datang ke Kantor Imigrasi. (Wah, kaya iklan ya, ha ha ha .....) 

Tiket Kapal Ferry
Harga tiket Kapal Ferry untuk sekali jalan (one way ticket) adalah 320 ribu rupiah per orang. Namun apabila kita membeli tiket pergi dan pulang (return ticket) dikenakan harga sebesar 600 ribu rupiah per orang. Lebih murah dan lebih praktis.

Pesan Kamar Hotel
Sebaiknya kita memesan kamar hotel melalui internet sebelum kita berangkat. Saat ini banyak aplikasi internet yang bisa digunakan untuk reservasi hotel. Lebih baik memesan hotel sebelum berangkat agar lebih praktis, aman dan nyaman.

Tukar Uang Ringgit
Saya menukar Uang Rupiah dengan Uang Ringgit Malaysia di Tempat Penukaran Valuta Asing di Jalan Sultan Syarif Kasim, dekat Toko Emas Modern. Nilai Kurs Ringgit Malaysia terhadap Rupiah adalah 1 RM = 3.400 IDR. 1 Ringgit Malaysia setara dengan 3.400 rupiah. Saya menukar 1.020.000 rupiah dengan Uang Ringgit senilai 300 RM.

Tabel Nilai Kurs
Sebaiknya kita menyiapkan Tabel Nilai Kurs Ringgit terhadap Rupiah. Jaga-jaga buat memudahkan kita dalam berbelanja atau bertransaksi. Tabel ini kita pakai sebagai contekan kalau kita mau  membeli sesuatu. Semacam bahan pertimbangan alias untuk mikir-mikir dulu. Sehingga kita tidak perlu menghitung dengan kalkulator HP. 

RM  IDR
 1      3.400
 2      6.800
 3     10.200
 4     13.600
 5     17.000
 6     20.400
 7     23.800
 8     27.200
 9     30.600
10    34.000
dan seterusnya

Keperluan Sehari-hari
Siapkan pakaian dan kebutuhan sehari-hari. Bawalah pakaian yang nyaman seperti kaos dan sepatu atau sendal yang akan digunakan untuk berjalan kaki. Sebaiknya gunakan sepatu santai, sepatu olah raga atau sendal yang nyaman. Siapkan juga kaca mata hitam dan topi.

Colokan Listrik Kaki 3
Biasanya hotel dan penginapan di Melaka menyediakan colokan listrik kaki tiga. Kita harus menyiapkan colokan listrik kaki tiga agar memudahkan kita dalam mengecas HP. Colokan listrik ini bisa kita beli di toko listrik dan toko elektronik.

Peta/Map
Peta bisa kita unduh (download) lewat internet. Dengan peta ini kita bisa memilih lokasi hotel sesuai dengan kebutuhan dan budget kita.

Selfie Stick
Sudah nggak jamannya lagi minta tolong orang buat motretin kita. Sekarang ada alat yang namanya Selfie Stick atau biasa disebut Tongsis (Tongkat Narsis). Kita bisa pakai alat ini untuk memotret kita sendiri tanpa perlu meminta bantuan orang lain. Jalan-jalan jadi lebih asik dengan Tongsis. Momen-momen indah pun bisa kita abadikan dengan memakai alat ini.


Informasi dan referensi
Carilah informasi dan referensi yang banyak. Baik tentang penginapan, transportasi, tempat-tempat menarik maupun tempat wisata kuliner. Informasi dan referensi bisa kita dapat dari teman, keluarga atau bisa juga kita browsing melalui internet.

Persiapan sudah, sekarang saatnya GO !
Melaka I'm Coming ....

Dari Dumai kami naik Ferry menuju Melaka. Setelah 2 jam mengarungi samudera eh salah, maksudnya menyeberangi Selat Malaka, tibalah kami di Pelabuhan Ferry Kota Melaka.

  Pelabuhan Ferry di Kota Melaka

Balai Ketibaan

Hotel Quayside
       
Hotel Quayside saat malam hari

Tips memilih hotel.
Pilihlah hotel sesuai dengan yang Anda inginkan. Sesuaikan dengan budget dan pilihlah hotel yang letaknya strategis. Kami memilih Hotel Quayside dengan pertimbangan lokasinya yang sangat strategis, sehingga ke mana-mana bisa berjalan kaki. 

Setelah masuk hotel dan istirahat sebentar, kami menuju Menara Taming Sari. Lokasinya cukup dekat dari hotel tempat kami menginap. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Murah sekaligus santai. 

Pintu Masuk Menara Taming Sari

Tiket Masuknya adalah 20 RM untuk dewasa dan 10 RM untuk anak-anak. Setelah membeli tiket, kita antri untuk masuk menuju ruangan kaca berbentuk bulat yang akan membawa kita naik dan menikmati pemandangan kota Malaka dari ketinggian 80 meter. Sebelum masuk kita akan difoto dulu. Nanti foto ini bisa Anda ambil dengan membayar 60 RM untuk 3 buah foto dengan latar belakang yang berbeda. Hal ini sifatnya opsional, artinya foto boleh diambil boleh juga tidak.
Dari ketinggian 80 meter, kita dapat menyaksikan pemandangan kota Malaka dari atas. Kita dapat menyaksikan kota Malaka secara 360 derajat. Berikut ini adalah pemandangan yang bisa kita lihat dari atas.

     Muzium Kastam dan Hotel Quayside

Kolam Renang
Red Square (kawasan kota tua)
Dataran Pahlawan Mega Mall
 Area Parkir Menara Taming Sari

Pusat Bisnis 

 Pelabuhan Ferry

Muzium Maritim

Setelah puas menikmati pemandangan kota Melaka dari atas Menara Taming Sari, kami berjalan kaki dari Menara Taming Sari menuju Dataran Pahlawan Mega Mall. Seperti Mall pada umumnya di sini banyak menjual kebutuhan sehari-hari seperti pakaian, sepatu, jam tangan, alat elektronik dan tempat makan atau food court. 

Dataran Pahlawan Melaka Megamall

Saya membeli celana pendek casual di salah satu toko yang dibandrol dengan harga 39 RM atau sama dengan 132.000 dalam mata uang rupiah. Setelah melakukan windows shopping, kami singgah ke Ayam Penyet Ori yang letaknya dekat dengan pintu masuk mall tersebut. Kami memesan ayam penyet, gado-gado dan 2 gelas teh hangat tawar. Total yang harus kami bayar semuanya adalah 29,60 RM, setara dengan Rp.100.640.    

Struk Pembayaran

Setelah memanjakan perut dengan makan malam, kami istirahat sejenak di hotel. Bangungan Hotel Quayside merupakan bangunan lama. Dulunya tempat ini merupakan gudang Kastam atau gudang untuk menyimpan barang-barang yang dirampas oleh Bea dan Cukai Diraja Malaysia. Bangunan ini lalu disulap menjadi tempat penginapan seperti sekarang ini. Desainnya unik dan menarik.

Dinding Bagian Luar Hotel Quayside

Hotel Quayside tampak samping

Hal unik lainnya adalah di lobby hotel terdapat 2 buah meja yang terbuat dari kayu gulungan kabel ukuran besar yang disulap jadi meja unik. Di lantai atas ada meja dari kayu bekas peti kemasan.  Gila, kreatif banget. Sangat cocok dengan desain hotel yang kuno dengan sentuhan modern. Untuk menciptakan sesuatu yang keren gak butuh biaya yang mahal, tapi cukup dengan ide dan kreatifitas.

Meja Hias di Loby Hotel

Meja dari kayu peti kemasan

Setelah mandi dan istirahat di hotel, kami lanjutkan dengan mengunjungi Jonker Street. Lokasinya cukup dekat. Kami hanya berjalan kaki dari hotel menuju Jonker Street. Di tempat ini bisa kita temui orang yang berjualan makanan dan pusat oleh-oleh. Berbeda dengan siang hari, Jonker Street di saat malam hari lebih ramai dan padat pengunjung. Kami masuk ke salah satu galery di antara sekian banyak deretan yang menjual berbagai macam cindera mata. Kami masuk ke Jonker's Galery. Banyak barang-barang kerajinan yang unik dan menarik. Harganya pun bervariasi. Kami membeli gantungan kunci dan penjepit buku buat oleh-oleh. Harganya 10 Ringgit (Rp.34.000) untuk 3 item barang. 

 Pembatas Buku/Halaman 3 psc for 10 RM

 Gantungan Kunci 3 pcs for 10 RM

Setelah jalan-jalan di Jonker Street, kami jalan-jalan ke area kota tua pada saat malam hari. Suasana kota tua pada malam hari tak kalah ramai dibandingkan dengan siang hari. Kota Melaka dipenuhi pengunjung dari berbagai negara. Ada yang berjalan kaki. Ada yang berkeliling menggunakan jasa becak hias yang lebih meriah dengan aksesoris lampu warna-warni dan musik yang keras.

Malam semakin larut. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Jalan-jalan akan kami lanjutkan pada hari Sabtu besok.

Pagi-pagi sekali saya berjalan kaki sendirian untuk melihat-lihat suasana pagi. Kota Melaka masih nampak lengang. Hanya ada beberapa orang turis saja yang terlihat berjalan kaki. Saya pun berjalan kaki di sekitar hotel menuju ke Pelabuhan Ferry. Saya ingin mencoba berjalan kaki dari hotel ke Pelabuhan. Saya ingin membuktikan apa yang saya lihat kemarin dari atas Menara Taming Sari. Sungguh asik berjalan kaki di tepi Sungai Melaka. Kota Melaka ini sangat ramah bagi para pejalan kaki. Kita bisa berjalan kaki ke mana pun. Hampir setiap tempat wisata yang lokasinya berdekatan bisa kita datangi dengan berjalan kaki. Tidak ada sekat, tak ada penghalang, seolah tanpa pembatas antara tempat yang satu dengan tempat lainnya. Semuanya nyambung. Semuanya saling terhubung. Semua connect. 
Area berjalan kaki di sisi sungai Melaka terasa nyaman dan begitu menyenangkan. Ada juga yang terbuat dari kayu seperti jembatan dan terletak di pinggir Sungai Melaka. Acara jogging pun jadi menyenangkan.
Trek Berjalan Kaki

Baliho Yang Membakar Semangat

Berpose di Tepi Sungai Melaka

Saya terus berjalan kaki, terus dan terus. Berjalan kaki sangat berguna buat kesehatan tubuh. Dengan berjalan kaki bisa membakar kalori dan membakar lemak. Tapi harus diimbangi juga dengan makan makanan sehat yang kaya akan nutrisi. Akhirnya saya pun tiba di Pelabuhan Ferry. Ternyata memang dekat seperti saya lihat dari Menara Taming Sari. Trek jalan kaki yang saya lalui pun terasa nyaman. Pemandangan di sekitar sungai juga sangat indah. Yang paling saya sukai adalah Sungai Melaka sangat bersih dan terawat. Saya jadi iri dengan keadaan ini, dengan apa yang saya lihat. Apaka ada hal semacam ini di Negeri saya sendiri. Semoga kita semua sadar akan kebersihan alam dan lingkungan kita.

Usai sarapan pagi, kami berkunjung ke Muzium Kastam (Museum Bea dan Cukai). Lokasinya bersebelahan dengan hotel tempat kami menginap. Jadi kami cukup jalan kaki saja. Untuk masuk ke museum ini pengunjung tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Di pintu masuk museum ada tulisan "Masuk adalah percuma/Free Entry"

  Muzium Kastam
Bangunan Muzium Kastam

Pintu Masuk Muzium Kastam

Selamat Datang di Muzium Kastam

Sejarah Muzium Kastam



 Seragam Pegawai Kastam


 Barang Rampasan berupa minuman beralkohol

 Motor Kuno

 Barang Rampasan berupa Pornografi

Koleksi Cindera Mata
Read more ...

Selasa, 23 Juni 2015

BERBUKALAH DENGAN YANG SEHAT

Anda pasti tahu kalimat yang berbunyi "Berbukalah dengan yang manis". Kalimat ini sudah tak asing lagi di kalangan umat muslim khususnya pada bulan Ramadhan. Sebetulnya kalimat tersebut merupakan hadis Nabi Muhammad SAW. Beliau menyunnahkan kita untuk mengawali berbuka puasa dengan makanan yang manis.

Dalam bahasa Indonesia kata "manis" mempunyai 2 makna yang berbeda. Yang pertama adalah yang terkait dengan rasa yaitu rasa manis seperti rasa gula. Sedangkan makna yang lainnya adalah yang berkaitan dengan bentuk atau rupa yang terkait dengan indera penglihatan, yaitu elok, menarik, indah dan menyenangkan. Serta masih banyak lagi arti kata manis bila ditinjau dari indera penglihatan.

Kembali ke kalimat di atas, "Berbukalah dengan yang manis" bisa mempunyai 2 arti kata yang berbeda. Sebenarnya untuk berbuka puasa tentunya berkaitan dengan makanan atau minuman. Jadi yang dimaksud dengan kata manis adalah makanan atau minuman yang manis untuk berbuka puasa.

Namun akhir-akhir ini ada semacam joke atau plesetan yang beredar melalui media sosial khususnya pada bulan puasa. Entah siapa yang membuat, memulai dan menyebarkan kalimat tersebut. Kalimat  itu berbunyi :


Kata manis di sini tentunya bukan bermakna makanan atau minuman yang manis tetapi sifat manusia. Orang yang berparas manis atau orang yang mempunyai kepribadian yang manis. 

Sebetulnya selain dua makna di atas. Kata "manis" juga mempunyai makna lain yaitu makna yang lebih luas. Kata "manis' bisa berarti menyenangkan atau membahagiakan. Misalnya : Kenangan manis, Kehidupan yang manis, Kisah manis, dan sebagainya.

Kita kembali ke kalimat di atas. Sebetulnya yang dimaksud dengan "Berbukalah dengan yang manis" tidak serta merta bahwa kita harus berbuka puasa dengan jenis makanan atau minuman yang manis-manis. Itulah yang disalah artikan selama ini. 

Dari penafsiran yang keliru itulah, sehingga tak heran banyak orang-orang menyajikan makanan atau minuman serba manis untuk menu berbuka puasa. Misalnya kolak, aneka macam bubur, es cendol, es campur dan banyak lagi jenis minuman manis lainnya. 

Padahal kalau kita tinjau dari segi kesehatan, tidak semua makanan atau minuman yang manis itu menyehatkan. Karena pada jaman nabi Muhammad, yang dimaksud dengan makanan yang manis itu adalah buah kurma yang mempunyai rasa manis alami. Pada jaman beliau belum ada makanan yang bernama kolak dan minuman sirup beraneka macam rasa. Selain kurma, pilihlah buah-buahan yang manis dan mengandung kadar air yang banyak seperti semangka dan melon.

Nah, jadi yang dimaksud dengan makanan atau minuman manis adalah makanan atau minuman yang memiliki rasa manis secara alami. Dalam hal ini adalah buah-buahan. Rasa manis inilah yang baik untuk kesehatan tubuh kita.

Dari uraian di atas, sudah selayaknya kita mengubah pola pikir kita, yaitu :

"BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS"

menjadi

"BERBUKALAH DENGAN YANG SEHAT''

Mulai sekarang, mari kita biasakan berbuka puasa dengan yang manis tapi menyehatkan. Tak perlu manis yang penting sehat. Sesungguhnya hidup ini akan terasa manis bila kita selalu sehat.  

Semoga kita tetap sehat dalam berpuasa.

Dumai, 23 Juni 2015.
Penulis : Guntur Sumitro 
Read more ...

Minggu, 21 Juni 2015

HIKMAH LARANGAN MEROKOK 2




Pagi itu, akhir bulan Sya’ban, yang tak seperti biasanya. Terik matahari pukul 08.00 disertai angin sepoi-sepoi yang nyaman, yang jarang sekali bertiup di Pontianak. Lambaian daun pohon lengkeng depan musholla Kanwil DJKN Kalbar yang tak kunjung berbuah sejak ditanam tahun 2012 lalu. Edi Santoso, salah seorang ahli mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon jantan (Edi Santoso : Ahli permesinan dan instalasi air). Meski hal tersebut dibantah oleh Zainul Wara-wara, salah satu praktisi pertamanan di kantor tersebut (Pak Kebun).

Mana alat kelaminnya, mas?” bantah Zainul, yang tak terjawab oleh Edi sang ahli hingga saat ini.  

Kembali ke musholla
Pagi itu Hari Azwan sudah standby di depan musholla. Namun tak seperti biasanya pula, pagi itu ia tidak merokok, tak juga ngopi. Padahal sejak berlaku aturan dilarang merokok di kantor, tiap pagi Hari selalu memulai aktivitasnya dengan bangun tidur. Lalu : absen, mandi, sarapan (dengan urutan tidak tentu tiap harinya dan tanpa pemberitahuan sebelumnya). Setelah ketiga ritual tersebut Hari biasanya ngopi dan merokok di depan musholla, tempat aman yang letaknya lumayan berjarak di belakang kantor. Aktivitas ini hampir selalu diakhiri “dhuha” dua roka’at dengan qunut, yang seperti(nya) sholat subuh.

Entah melamun atau sedang mencoba membantu Edi menjawab pertanyaan Zainul, Hari sesekali menatap pohon lengkeng depan musholla. Dari atas ke bawah, ke atas lagi. Mungkin Hari memang ikutan mencari alat kelamin pohon lengkeng tersebut. Nihil.

Beberapa lama berselang, datang salah seorang junior Hari di Bidang Penilaian Kanwil DJKN Kalbar.

“Eh, Mas Umam, tumben pagi-pagi ke sini?” sapa Hari.

“Iya Har, nyantai dulu,” jawab Umam.

Agak aneh memang, senior menyapa juniornya dengan sebutan “Mas”. Tapi itulah dunia, susah ditebak. Sebetulnya bukan karena dunia susah ditebak, Umam adalah pegawai yang baru masuk Bidang Penilaian, setelah beberapa tahun berjalan ke timur mencari kitab suci (bersama rekannya, Jack Setiyono (saat ini di Kupang), yang memposisikan dirinya sebagai Biksu Tong, tapi lebih mirip sebagai Patkay.

Di Bidang Penilaian, dia banyak belajar tentang penilaian dari Hari yang secara usia lebih muda (tapi secara fisik kurang lebih sama). Hari pulalah yang kembali membangkitkan semangat setelah kegagalannya mencari kitab suci, bersama Patkay yang memposisikan dirinya sebagai Biksu Tong. Karena itulah Umam selalu menganggap Hari adalah seniornya.

Kembali ke musholla, lagi
“Kebetulan nih, mau Tanya. Mas Umam puasa Ramadhan mulai hari ini apa besok?” tanya Hari.

“Aku mulai besok, Har. Ngikut hasil ru’yat aja. Kalau yang mulai puasa hari ini kan berdasarkan hisab.”

“Memangnya nggak papa puasa besok atau hari ini?”

“Ya kalau meyakini awal Ramadhan hari ini, ya puasa mulai hari ini. Kalau lebih yakin besok ya besok. Yang penting bukan karena ego organisasi-nya aja. Tapi puasa lillaahi ta’aala! Masalah nggak papa-nya biar itu urusan Yang Di Atas saja, Har.”

“Iya Mas, cuma lucu aja semalem liat Sidang Itsbat-nya. Rame!”

Mungkin mereka yang ngeramein pengen supaya ratingnya nggak turun, Har.”

“Hahahaaa..bener juga...” Hari tampak girang, dan tampaknya lupa akan pencariannya atas kelamin pohon lengkeng.

“Eh, tumben kamu kok nggak ngerokok, Har? Apa sudah mulai puasa hari ini?”

“Nggak mas, aku puasa mulai dua hari yang lalu malahan.” Jawab Hari, santai.

“Wah, mazhab siapa lagi tuh, Har?” Umam tampak kaget.

Malu-malu, berbisik Hari menjawab : “Puasa tahun lalu bolong tiga hari, Mas!”
“… #@*&^!/!!??” 

Mohon maaf lahir & batin
Selamat menunaikan ibadah puasa
Semoga ibadah puasa tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya
Amin

Penulis : MD. Umam
Ket : Kisah sebagian nyata, beberapa tahun yang lalu, saat itu awal Ramadhan berbeda

Baca juga kisah sebelumnya : 
 http://www.goensmith.com/2013/02/hikmah-dari-larangan-merokok.html
Read more ...

Jumat, 13 Februari 2015

DUA PIRING NASI KUNING

Februari 2015


Minggu ini kami disibukkan dengan agenda pergantian Bos. Jum'at kemarin (6/2), Pak AK dipanggil ke Jakarta untuk dilantik menduduki jabatan baru. Sebetulnya, jabatannya masih sama tapi tempatnya saja yang berbeda, alias pindah tugas atau lazim disebut mutasi ke tempat yang baru.  

Pak AK pindah ke kota Palembang. Penggantinya adalah Pak TS, seorang Pejabat Eselon Tiga yang naik jabatan atau biasa disebut promosi. Pak TS berasal dari Kota Kembang, Bandung. Jadi bisa dibilang Pak AK pindah dari Pontianak ke Palembang dan Pak TS pindah dari Bandung ke Pontianak. 

8 Februari 2015
Minggu sore, Pak AK memberi kabar via BBM :

"Mas, sy besok pelantikan Ketua PUPN di Pusat & sorenya baru berangkat ke Pontianak !"

Lalu saya balas via BBM : "Baik, Pak."

9 Februari 2015
Senin sore pukul 17.41 Pak AK kirim BBM lagi :
"Mas, ini saya baru landing yang terakhir kali" 

Saya tersenyum membaca BBM dari Pak AK. Pak AK membubuhkan dua simbol orang tertawa lebar,  satu posisi normal dan satu lagi posisi miring  (Ketawa ngakak dan Ketawa sambil guling-guling).

Hari Senin malam, saya, Pak Aprito, Pak Widya dan Kepala KPKNL bertemu Pak AK. Kami ngobrol-ngobrol santai seputar acara pelantikan Pak AK di Jakarta. Selain itu kami juga membahas rencana acara pisah sambut. Pada acara pelantikan tersebut Pak AK bertemu dengan Pak TS dan sempat membahas rencana kegiatan pisah sambut di Pontianak.   

"Pak TS akan datang ke Pontianak hari Kamis. Pesawat Sriwijaya, berangkat dari Jakarta jam enam pagi. Coba kamu kontak Pak TS." begitu Pak AK menjelaskan sambil menikmati mie tiau goreng Apollo yang kabarnya tidak pernah pindah sejak tahun 1968. 

"Baik, Pak. Nanti saya hubungi Pak TD."

Kami fokus mempersiapkan acara pisah sambut antara Pak AK dengan Pak TS. Selain acara pisah sambut itu, sebetulnya saya juga sudah mengagendakan acara Coffee Morning dengan Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Kalimantan Barat. Coffee Morning adalah pertemuan rutin sebagai sarana silaturahmi yang beranggotakan kantor Kementerian Keuangan, Kantor Asuransi dan Perbankan di wilayah Kalimantan Barat, khususnya kota Pontianak. Namun karena satu dan lain hal acara tersebut akhirnya ditiadakan. Padahal teman-teman staf TURT sudah terlanjur memesan Meja Bundar (Round Table). Untung saja pesanan meja tersebut bisa dibatalkan tanpa dikenai biaya. Kebetulan juga undangan belum disebar.

10 Februari 2015
Pak AK berencana ikut ke Bandara pada hari Kamis pagi untuk menjemput Pak TS. Pak AK mengirimi saya pesan lewat BBM :

"Mas, sy gak jadi ikut jemput Pak TS. Nanti dari bandara langsung saja ke kantor. Thanks."

"Baik, Pak." balas saya singkat.

11 Februari 2015
Rabu sore sebelum sholat Maghrib, HP saya berbunyi. Lagu Kehilangan dari Firman Idol mengalun merdu. Lagu itu terhenti saat saya merespon panggilan tersebut. Telpon dari Pak AK.

"Mas, besok jemput Pak TS pake mobil saya saja. Nanti saya ke kantor, untuk tukar mobil. Malam ini kamu pulang pakai mobil saya saja."

"Iya, Pak. Sebaiknya besok saja. Sebelum ke bandara saya ke rumah Bapak untuk tukar mobil." usul saya. 

"Oke. Begitu juga boleh, Mas."

Ternyata mobil Bapak, maaf, maksudnya mobil Pak AK (Mobil Dinas Kepala Kantor) masih terparkir di kantor sampai malam. Kata Pak Achwani, (sopir kantor -red), Pak AK tadi minta diantar ke rumah dinas, jadi malam ini mobilnya masih 'nongkrong' di kantor supaya besok pagi siap untuk dipakai.  

Mulanya saya berencana menjemput Pak TS cukup dengan mobil saya saja. Ups ! Sorry bukan mobil saya, maksudnya mobil kantor yang biasa saya pakai. Saya pikir hal itu nggak jadi soal. Tetapi dengan besar hati, Pak AK menawarkan untuk menggunakan mobil dinas Kepala Kantor. Hal itu beliau lakukan untuk menghormati pengganti beliau. Beliau tidak ingin mobil yang digunakan untuk menjemput Pak TS kondisinya kurang layak.

Tadinya saya sempat khawatir tentang prosesi pergantian pimpinan. Saya sempat mendengar cerita miring teman-teman mengenai hal ini. Tapi ternyata hal ini tidak terjadi. Alhamdulillaah, semuanya berlangsung dengan mulus dan cantik. Pak AK sungguh berjiwa besar. Beliau tidak merasa tersisih atau tergeser. Apalagi orang yang menggantikan posisi beliau adalah orang yang baru promosi. Saya tetap harus menjaga perasaan beliau. Saya berprinsip, selama Pak AK masih di sini, masih ada di kantor ini dan masih berada di kota ini, saya akan tetap menghormati beliau sebagai pemimpin kami sampai nanti kami mengantarkan beliau ke bandara untuk yang terakhir kali. (aduh jadi sedih nulisnya). 

Menurut teman saya (sekarang sudah pindah ke Semarang), "Kalau melihat kebiasaan Pak AK, saya gak khawatir, Pak." 

Sebelum pindah ke Semarang, teman saya ini bertugas sebagai "Demang" di KPKNL Pontianak. Dia juga mengatakan, "Saya yakin beliau sangat mengerti tentang hal itu. Sisi humanisme beliau sangat menonjol, Pak. Jarang ada Bos seperti beliau."

Saya merenung memikirkan kata-kata teman saya ini. Saya rasa benar juga pendapat teman saya ini.

Kamis pagi, cuaca cerah. Udara pagi terasa segar. Langit sedikit berawan. Saya bergegas menuju kantor untuk bertemu Pak Achwani dan bersiap-siap berangkat ke Supadio. Saya menyerahkan kunci mobil saya kepada Mas Edy, untuk dipakai menjemput Bos Kami ke rumah dinas.

Sebelum berangkat, saya mampir ke Pantry bertemu dengan Zainul dan Mbak Tiwi. Mereka berdua adalah OB. Eh salah, Zainul itu OB tapi kalau Mbak Tiwi kan cewek jadi harusnya OG dong, he he he ....

"Zai, tolong belikan sarapan." 

"Sarapan apa, Pak?" tanya si Zai dengan logat Melayu yang kental.

"Adanya, apa?" saya balik bertanya.

"Bapak maunya sarapan apa?" Zai, udah mulai kesal, tapi sambil senyum-senyum. Zai pura-pura galak tapi masih malu-malu. Pikirnya, sekalian belajar akting.

"Coba kamu kasih tiga pilihan," jawab saya nggak mau kalah. Sekalian beradu akting deh.

"Bubur Ayam, Lontong Sayur atau Nasi Kuning, Pak?" gayanya seperti pelayan restoran yang menawarkan menu tanpa membawa daftar yang dilaminating.

"Nasi Kuning aja. Tolong beli dua ya, buat saya dan Pak TD."

Sebelum saya buka dompet, saya tanya lagi sama Zai.  

"Kamu udah sarapan?" sambil ngeluarin duit warna biru.

"Belum, Pak."

"Kalo gitu beli tiga, eh empat deh buat Mbak Tiwi sekalian." Duit berwarna biru segera berpindah ke tangan Zai. "Segini cukup kan, Zai?"

"Cukup lah, Pak." jawab Zai sambil tersenyum.

"Makasih ya, Pak." ucap Mbak Tiwi.

"Sama-sama." 

Saya minta Zai dan Mbak Tiwi, untuk menempatkan nasi kuning di piring dan meletakkannnya di ruang rapat Bos. Sekalian dengan gelas kaki berisi air putih. 

Karena saya sebentar lagi harus segera berangkat ke Bandara, jadi sarapannya nanti saya kalau sudah tiba di kantor setelah pulang menjemput Bos Baru. Pasti Pak TD juga belum sarapan, karena pesawat beliau berangkat pagi. Beliau juga pasti harus berangkat dari rumah lebih awal. Jadi mana sempat sarapan.

Saya dan Pak Achwani berangkat pukul tujuh pagi dari kantor menuju bandara. Setelah tiba di bandara dan tak berapa lama menunggu, akhirnya saya bertemu dengan Pak TD, Bos baru saya pengganti Pak AK.


"Selamat datang di Bumi Khatulistiwa, Pak."

"Terimakasih, Mas. Bagaimana kabarnya?"

"Alhamdulillaah baik, Pak. Kenalkan, ini Pak Achwani, driver kita, Pak."

Setelah bersalamam dengan Pak TD, Pak Achwani segera menuju tempat parkir mengambil mobil. Sesaat kemudian kami meninggalkan Supadio menuju jalan Sutoyo. 

"Bapak sudah sarapan?" tanya saya ke Pak TD dalam perjalanan menuju kantor.

"Sudah." jawab Pak TD singkat.

Saya tidak yakin dengan jawaban beliau. Bukan bermaksud untuk berbohong, mungkin Pak TD sungkan untuk menjawab jujur.  

Kemudian saya menawarkan untuk sarapan di kantor.

"Sebaiknya kita langsung ke kantor saja ya, Pak. Nanti kita sarapan di kantor."

"Oh, boleh." Pak TD menyetujui usul saya.

"Sarapannya nasi kuning ya, Pak." 

"Wah, cocok tuh."  

Kurang dari tiga puluh menit, akhirnya kami tiba di kantor. Alhamdulillah, pagi ini jalan di kota Pontianak tidak terlalu macet. Kemudian kami menuju ruang Bos kami. Pak TD menyapa dan menyalami Yudha dan Yanti, dua sekretaris yang namanya kebetulan diawali dengan huruf yang sama. Kemudian saya dan Pak TD masuk ke ruang Bos. Di ruang Bos sudah ada Pak Aprito sedang berbincang-bincang sama Bos. Pak AK menyambut Pak TD dengan sangat akrab. Setelah bersalaman, mereka kemudian berpelukan. Sepertinya sudah sekian lama mereka tak berjumpa. Ah, saya jadi teringat lagunya Bang Haji Rhoma Irama, "Semakin lama kita berpisah, semakin mesra saat berjumpa". 

"Sehat, Kang?" Pak AK membuka percakapan.

"Alhamdulillaah, Kang. Sehat." jawab Pak TD.

Pak AK lalu memperkenalkan Pak Aprito. Lalu mereka bertiga terlibat dalam obrolan ringan. Saya tinggalkan mereka sejenak seolah-olah sambil berkata, "Jangan ke mana-mana. Saya akan kembali sesaat lagi."

Saya meminta Yanti bilang ke Mbak Tiwi untuk menyiapkan sarapan untuk Pak TD. Sebentar saya menuju ruangan saya. Ketika kembali ternyata di ruang Bos sudah berkumpul para Kabid. Namun saya tidak ikut masuk ke ruang Bos. Saya ingin memastikan Nasi Kuning untuk Pak TD sudah siap di ruang rapat.

Mbak Tiwi datang dengan membawa empat piring nasi kuning untuk disiapkan di ruang rapat lengkap dengan empat gelas kaki dan empat botol air mineral.

"Loh, kok empat?" tanya saya heran. 

"Kata Mbak Yanti, semua aja, Pak."

"Ya, tetap nggak cukup lah. Kan orangnya banyak."

"Jadi gimana, Pak?" tanya Mbak Tiwi ragu.

"Yang dua ini punya siapa?" 

"Punya saya sama Zai, Pak. Belum dimakan."

"Kalo gitu, dua saja. lainnya bawa ke Pantry."

"Iya, Pak." ujar Mbak Tiwi bingung.

Saya berpikir keras. Bagaimana memberi tahu Pak AK kalau Pak TD belum sarapan. Saya tulis BBM ke Pak AK.

Maaf, Pak. 
Pak TD belum sarapan.  
Sudah saya siapkan nasi kuning di ruang rapat
Sebaiknya Pak TD sarapan dulu.

Selesai mengetik saya pencet "Send". BBM terkirim tapi belum juga terbaca. Mungkin karena asyik ngobrol sehingga Pak AK tidak tahu ada BBM masuk. Kemudian saya masuk ikut bergabung ke ruangan Bos. Saya mengambil tempat duduk di sebelah Pak AK. Lalu perlahan saya berbisik kepada Pak AK, "Pak, saya kirim BBM."

Pak AK langsung mengambil BBnya dari atas meja lalu membaca BBM.

"Ayo, kita sarapan dulu." Pak AK mengajak Pak TD dan semua Kabid untuk sarapan bersama. Beliau mengira sudah disiapkan untuk semuanya.

"Aduh, bagaimana bilangnya", batin saya. 

"Maaf, cuma dua, Pak. Dua Piring Nasi Kuning untuk Bapak dan Pak TD." ujar saya cepat untuk mencegah para Kabid masuk ke ruang rapat. Lebih baik mencegah dari pada cuma jadi penonton. Bukan Kabu namanya kalau tidak bisa berimprovisasi.

Akhirnya Pak AK mengajak Pak TD ke ruang rapat untuk sarapan Nasi Kuning. Sementara para Kabid tetap menunggu di ruang Bos sampai Pak AK dan Pak TD selesai sarapan.

Akhirnya saya meminta Yanti ke Pantry. "Yanti, tolong bilang ke Mbak Tiwi untuk menyiapkan satu piring nasi kuning di meja saya."

"Baik, Pak." jawab Yanti sambil terus menuju ke Pantry.


Akhirnya Mbak Tiwi mengantarkan sepiring nasi kuning untuk saya.

"Makasih, Mbak."

"Sama-sama, Pak"

"Ini uang untuk ganti punya Zai."

Untung nasi kuning Zai belum dimakan. Terpaksa Zai beli nasi kuning lagi deh. He he .....

Setelah selesai menikmati nasi kuning, saya kembali bergabung dengan para Kabid yang lain di ruangan Bos. Tak lama kemudian, Pak AK dan Pak TD kembali dari ruang rapat dan bergabung bersama kami. Pak AK menuju meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan Kartu Ucapan.

"Mas. Sini, Mas."

"Iya, Pak." Saya beranjak menghampiri Pak AK.

Pak AK yang terlihat sibuk menandatangani Kartu Ucapan Mohon Diri untuk dikirim kepada para relasi kantor. Kartu tersebut berisi permohonan pamit kepada sejumlah relasi dan sahabat yang telah mewarnai perjalanan beliau selama di Bumi Khatulistiwa.

"Mas, nanti saya mau ajak Pak TD ke rumah dinas." Pak AK berkata pelan ke telinga saya

"Iya, Pak. Setelah itu kita rapat atau bagaimana, Pak?"

"Nggak. Langsung saja acara pisah sambut."

"Baik, Pak."

"Nanti sore saya mau ke Singkawang." Pak AK melanjutkan

"Sama siapa, Pak?" saya menyimak baik-baik.

"Pak Aprito dan Pak Achwani."

"Oke, Pak."

"Nanti ke Bandara pakai mobil saya saja. Biar saya pakai mobil Pak Aprito."

"Siap, Pak."

Tak lama kemudian, Pak AK dan Pak TD berangkat menuju rumah dinas Kepala Kantor yang terletak di jalan Palapa. Sementara kami tetap di kantor menunggu Pak AK dan Pak TD kembali dari rumah dinas.

Saya memastikan semua persiapan untuk acara pisah sambut.

"Rama, kenang-kenangan dari semua bidang sudah siap semua?"

"Tinggal satu bidang lagi, Pak yang belum. Tapi katanya sudah siap."

Rama mendapat tugas mengetik susunan acara pisah sambut. Dia juga menghimpun bingkisan dari semua bidang untuk diserahkan nanti sebagai kenang-kenangan untuk Pak AK.

Rima bertugas sebagai pembawa baki bingkisan yang akan diserahkan pada saat acara nanti.

Ayuk, nampak sedang mengikat bingkisan dari Bagian Umum.

"Macam ini kah, Pak?" ujarnya sambil memperlihatkan hasil kerjanya

Dia mengikat kotak perhiasan dengan pita berwarna biru disertai label ucapan yang diikat dengan tali emas. Saya pun kemudian memeriksa hasil pekerjaannya.

Ada bagian kata-kata yang hilang karena tertusuk alat pembolong kertas. Sebetulnya tidak begitu mengganggu, tapi tetap terlihat kurang bagus. Saya sarankan supaya lubangnya tidak mengenai tulisan. Saya minta Arief untuk mencetak ulang label ucapan dengan memberi ruang sedikit untuk dilubangi.

Bingkisan dari Bagian Umum, Bidang-bidang lain dan dua kantor operasional sudah terkumpul semua. Rama, Rima, Ayuk dan Arief membawa ke ruang aula dan diletakkan sesuai urutan yang tertulis dalam susunan acara. Tak lupa juga diberi label untuk masing-masing bingkisan.
   
Pontianak, 14 Februari 2015
ditulis oleh : Guntur Sumitro


Read more ...
Guntur Sumitro | Design by : Andre | Tempaltes By